Taubat dari Maksiat*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Taubat dari Maksiat*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Karakter manusia amatlah beragam sehingga menjadikannya unik dalam menjalani kehidupan keseharian. Ada yang begitu mudah menggemari sesuatu, kemudian cepat juga merasa bosan dengannya. Ada yang begitu mudah mencintai seseorang, tapi juga tak kalah cepat untuk melupakannya..

Dalam sebuah kasus yang lain, ada seseorang yang begitu sulit melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya di masa silam, sebuah kemaksiatan yang menjadikan dirinya merasa orang paling hina sedunia, dan membuatnya tidak bergerak. Diam mematung tidak beranjak dari pemikiran pecundang menjadi mindset pemenang..

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (Q.S At Taubah: 104). Sebagai seorang muslim, tentu kita patut mengimani apa yang telah difirmankan oleh Allah azza wa jalla. Pintu untuk bertaubat itu amat dekat, maka bergeraklah terus menuju kepada-Nya, agar kita mendapatkan rahmat dan hidayat..

Diri kita, telah memahami bahwa di dalam Islam terdapat konsep taubat. Bukan sekedar taubat-taubatan atau taubat palsu, namun sebenar-benarnya taubat, taubatan nasukha. Orang semacam ini dikisahkan di dalam Al Qur’an, “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya” (Q.S Al Furqan: 71)..

Taubat yang dilakukan adalah secara mantap, bertekad untuk tidak melakukannya lagi di kemudian hari. Kemaksiatan yang pernah dilakukannya di masa silam adalah sebuah bentuk penyelasan terbesar di dalam hidupnya, yang akan dikubur rapat-rapat hingga tak ada kesempatan untuk hidup kembali. Dan ia juga memahami dengan lurus bahwa Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya, meski sebesar bumi. “. . . Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula” (HR. Tirmidzi)..

Celakanya, ketika ada beberapa orang yang dahulu pernah sama-sama melakukan dosa dan maksiat bersama dengannya, kemudian masih saja memberikan stigma buruk bahwa ia masihlah berakhlak buruk seperti yang dulu. Lebih heboh lagi ketika ada beberapa gelintir manusia yang notabene adalah seorang aktivis dakwah, juga tidak mampu menerima bahwa ada rival dakwah di tetangga harokah telah taubat sebenar-benarnya taubat, dan masih memandang sebelah mata. Astaghfirullah. Syaitan memang benar-benar licik memasuki dada-dada manusia, bahkan yang beriman dan sholeh sekalipun..

Narasi ini hanyalah pengingat, bagi diri pribadi yang jahil dan penuh dosa. Setiap diri mungkin saja pernah melakukan dosa dan maksiat, bahkan dosa besar sekalipun. Namun, inilah rahmat Allah. Bahwa sebejat dan sememuakkan apapun diri kita di masa silam, Allah tidak melihat itu. Karena Allah menilai hamba-Nya di masa sekarang, serta keistiqomahan yang terus ada di dalam hati dan perwujudan dalam aktivitas kehidupannya..

Sebagai orang yang pernah merasa melakukan dosa-dosa besar di masa silam, tidak perlu berkecil hati secara berkelanjutan, karena rahmat Allah itu begitu luas dan tidak terbatas untuk hamba-hamba-Nya. Janganlah ingatan-ingatan kemaksiatan zaman dulu menjadikanmu berhenti untuk melangkah menjadi lebih baik dari teman sebaya. Bahkan sebaliknya, kesungguhan kita dalam dakwah ini adalah wujud nyata atas taubat nasukha yang telah kita ikrarkan di hadapan-Nya. Istiqomah itu sangat mahal, hanya dengan kerja keras, cerdas dan ikhlas, semoga Allah meridhoinya..

Maka, tidak pantas rasanya jika kita masih saja melabelkan cap “tukang maksiat” kepada seseorang yang telah bertaubat dengan sebenar-benarnya. Sambutlah saudara baru kita, ajaklah ia untuk terus mendalami Islam secara kaffah, hingga ia dapat menjadi singa-singa Islam yang tak gentar menghadapi kedzaliman. Lillah, Fillah, Billah… Allahu Akbar..!

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

@Rumah Inspitasi Anis Matta, Kota Tenggarong-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Sabtu pagi, 01 Februari 2014 pukul 07.51 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu, 05 Februari 2014 pukul 08.00wita

Comments
One Response to “Taubat dari Maksiat*”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: