Tidak Sadar Terjangkit SIPILIS*

Tidak Sadar Terjangkit SIPILIS*

*Disadur dari Novel KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat Karya Dr. Adian Husaini

**Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

. . .

. . .

Kemi menanggapi pertanyaan Rahmat dengan nada serius.

“Memang Rahmat, kalau semua santri seperti saya, bisa merusak pesantren. Harus ada yang seperti kamu yang tahan banting. Meskipun susah, tetap bertahan di pesantren”.

“Ya… Itu yang bisa saya lakukan. Alhamdulillah, saya masih sempat belajar di pondok sambil mengamalkan ilmu. Kemi, saya sepertinya beda sama kamu. Maksud saya, kamu yang sekarang. Tetapi kamu memang “hebat”, berani terang-terangan mengaku liberal. Banyak orang yang takut lho, mengaku liberal. Ada juga yang nggak sadar kalau ia liberal, padahal pikiran-pikirannya jelas-jelas liberal. Saya lihat, kamu pede sekali menyatakan diri sebagai orang liberal”.

“Saya kan menjadi liberal karena kesadaran sendiri. Bukan karena paksaan. Saya sadar, sesadar-sadarnya. Meskipun liberal, saya nggak dapat apa-apa. Saya ikhlas karena saya juga sedang belajar dan yang saya lakukan ini juga untuk kebaikan umat manusia. Mungkin saya sekarang sering disalahpahami oleh teman-teman di pesantren. Ya nggak, Rahmat? Kamu sering ngomongin saya kan? Apa Kyai Rois sering menyinggung saya?”

Rahmat mencium bau ketidakjujuran pada ungkapan Kemi. Ia tahu Kemi mendapatkan “sesuatu” dari aktivitas barunya. Tetapi, ia ingin memahami lebih jauh kondisi sahabat lamanya itu.

“Kemi, sebagai tema, saya mengingatkan. Menurut saya, kamu justru rugi kalau begitu. Banyak orang-orang liberal mendapat “apa-apa”. Hidup enak di dunia, rumahnya bagus, mobil bagus, sering tidur di hotel, pergi kemana-mana naik pesawat. Sekarang mereka bisa menjadi kebanggaan keluarganya di kampung. Seperti Mas Farsan, dulu miskinnya kayak apa. Ketika di pondok, makanannya intip (kerak nasi). Tetapi, sekarang ia sudah berubah hidupnya. Saya dengar, rumahnya sekarang di Jakarta saja sudah berapa. Sedangkan kamu, kelihatannya susah di dunia… Nanti di akhirat apalagi.. ha ha ha!” Rahmat mencandai Kemi.

“Ah, Rahmat, kamu salah paham. Saya ini ikhlas kok jadi orang liberal. Nggak seperti teman-teman lain. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Saya lillahi ta’ala jadi orang liberal. Selama ini banyak yang salah sangka terhadap orang liberal, dikira mesti dapat ini itu dari Amerika dan sekutu-sekutunya. Padahal tidak mesti begitu. Saya ini buktinya. Hidupnya biasa-biasa saja seperti ini. Rumah kos sempit, serba pas-pasan. Meskipun saya liberal, saya beda dengan yang lain”.

“Makanya, menurut saya, kamu justru rugi dunia akhirat. Sudah liberal, miskin pula. Kamu ini kasihan banget, Kemi. Jadi liberal kok ikhlas..”

“Persepsi kamu itu salah.. Memang apa salahnya jadi orang liberal?”

“Menurut saya, Kemi, istilahnya saja sudah salah. Islam kok liberal. Islam itu artinya tunduk patuh kepada Allah. Kalau ditambah “liberal”, Islam menjadi lain maknanya, karena liberal artinya bebas tanpa hambatan. Kata kyai kita, “Islam Liberal” itu artinya Islam sak karepe dhewe. Islam semaunya sendiri. Mau halal,dibikin halal. Mau haram bisa dibikin haram!”.

“itu salah. Liberal di situ artinya bukan “semaunya sendiri”, tetapi artinya “membebaskan”. Jadi, Islam liberal itu adalah Islam yang membebaskan, yaitu membebaskan dari kejumudan, kekolotan, kekakuan, kefanatikan, dan kesempitan berpikir, seperti yang banyak terjadi pada beberapa kelompok Islam sekarang ini, yang berpikirnya sempit”.

Rahmat menukas kata-kata Kemi, “Tetapi juga membebaskan dari Islam itu sendiri kan.. ha ha ha. Itu tidak sesuai dengan kenyataan. Wong Islam liberal seperti yang kamu omongkan dan kamu tulis adalah Islam yang baru, Islam yang tidak sama dengan Islam yang ada. Kamu kan buat-buat pemahaman yang baru, yang aneh. Makanya banyak kyai kita yang marah sama pemikiran liberal seperti yang kamu sebarkan”.

“Ah, coba tunjukkan, pemahaman yang mana yang salah dan aneh dari Islam liberal, supaya jelas, supaya tidak salah paham? Pemikiran itu dianggap aneh, mungkin hanya karena kamu belum terbiasa saja. Lama-lama, kalau sudah biasa juga akan terbiasa dan tidak aneh”.

“Lho, masak kamu nggak tahu, apa pura-pura nggak tahu. Kita sama-sama ngaji di pesantren. Kita kan sama-sama tahu, kita ngaji bareng. Kitab-kitab yang kita kaji dulu sudah jelas posisinya. Para guru kita mengajarkan bahwa hanya agama Islam yang diterima Allah. Tetapi orang liberal bilang, semua agama benar, semuanya jalan yang sah menuju Tuhan. Bagaimana bisa begitu? Jadi, tidak ada bedanya menjadi orang Islam dengan orang kafir. Malah ada yang bilang, yang penting berbuat baik pada sesama manusia, tidak peduli iman atau tidak. Kan itu pikiran yang jelas-jelas ngawur dalam pandangan aqidah Islam. Kamu buka lagi saja kitab Sullamut Taufiq. Jelas sekali digambarkan bagaimana bahayanya paham dan tindakan murtad. Orang murtad, yang keluar dari Islam, yang aqidahnya rusak, tidak diterima amalnya oleh Allah. Ini kan ajaran yang sangat mendasar dalam Islam, dan kitab-kitab kita di pesantren sudah mengajarkan seperti itu sejak tingkat Ibtida’iyah”.

Kemi terdiam. Ia termenung sejenak memikirkan penjelasan Rahmat, sambil menyedot minumannya. Masih lekat dalam ingatannya, semua isi kitab yang disebutkan Rahmat. Para santri di pondok-pondok pesantren di Jawa, biasanya sangat akrab dengan kitab Sullamut Taufiq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab ini termasuk yang mendapatkan perhatian serius dari Syekh Nawawi al Bantani sehingga beliau memberika syarah atas kitab yang biasanya dipasangkan dengan kitab Safinatun Najah, dan populer dengan singkatan kitab “Sulam-Safinah”. Dalam kitab inilah, sebenarnya umat Islam diingatkan agar menjaga Islam-nya dari hal-hal yang membatalkan keIslamannya, yakni murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam kitab ini bahwa ada tiga jenis riddah, yaitu murtad dengan I’tiqad, murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi I’tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, ragu terhadap kenabian Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, ragu-ragu terhadap Al Qur’an, atau ragu terhadap hari akhir, surga, neraka, pahala, siksa dan sejenisnya.

. . .

. . .

Hmm.. Bagaimana dengan cuplikan perbincangan antara Rahmat dan Kemi di Novelnya Ustad Dr. Adian Husaini yang ini? Yuukkk, kita diskusikan, karena kadang kala kita tidak sadar bahwa pikiran ini telah terjangkiti virus SIPILIS alias Sekulerisme, Pluralisme Agama, dan Liberalisme.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kamis sore, 02 Januari 2014 pukul 18.10 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 02 Februari 2014 pukul 08.00wita

Comments
3 Responses to “Tidak Sadar Terjangkit SIPILIS*”
  1. kalau orang ebegini gimana?
    ada orang belajar dari NU, muhammadiyah, HTI, KAMMI, syiah, Ahmadiyah, sampai kristen, katolik sampai hindu, buddha, dll. katanya biar banyak wawasan dan nggak berpikiran kecil. dia tidak ikut aliran manapun. yang penting wawasannya luas.

    • Mengikuti salah satu organisasi bukanlah kewajiban. Namun berjama’ah adalah suatu keniscayaan sebagai konsekuensi atas seruan Allah di Q.S Ali Imran: 104. Sangat disayangkan memang, ketika seseorang telah belajar banyak hal tentang Islam, namun tidak memahami urgensi amal jama’i.

      Dan lagi, yang patut menjadi concern, adalah terkait apakah ia berpikiran sekular dan liberal atau tidak? Karena Islam menghendaki jalan yang lurus, maka jangan sampai salah jalan🙂

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: