Bincang Pluralisme Agama*

Bincang Pluralisme Agama*

**Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

. . .

. . .

Rahmat menunggu kalau-kalau ada mahasiswa yang bertanya. Nurkunti angkat tangan duluan..

“Prof, apa itu artinya sebagai orang Islam, saya tidak boleh meyakini hanya agama saya saja yang benar? Apa menurut Prof. semua agama adalah benar?”..

“Masing-masing agama wajar meyakini agamanya yang benar. Tapi juga harus dipikirkan, pemeluk agama lain juga meyakini hal yang demikian. Kita, kaum akademisi atau pemuka agama harus mengembangkan cara pandang inklusif, yaitu melihat agama-agama pada posisi yang sama sehingga kebenaran agama bersifat relatif, bergantung dari cara pandang terhadap agama,” Prof. Malikan, mencoba menjelaskan..

Rahmat tak tahan lagi untuk berdiam..

“Apa artinya, sebagai Muslim, Prof. sudah tidak meyakini hanya Islam yang benar? Bagaimana dengan ayat, “Innad Diina ‘indallaahi al-Islam?”..

“Ya, Rahmat, saya harus bersikap objektif. Secara objektif, saya berdiri pada posisi netral, saya melihat agama-agama pada posisi yang sama. Tidak melebihkan satu dengan yang lain,” kata Prof. Malikan lagi..

“Berarti secara pemikiran, Prof. bukan Muslim lagi?” kata Rahmat..

“Saya tetap Muslim, tetapi saya bersikap netral ketika melihat agama-agama lain. Jadi, saya tidak ekslusif!” kata Prof. Malikan..

“Kalau Muslim pasti ekslusif cara berpikirnya, sebab akidahnya berbeda dengan yang lain,” kata Rahmat..

“Itu cara berpikir yang sempit, Rahmat! Coba luaskan cakrawala berpikir kita. Kita keluar dari garis ufuk. Lihatlah agama-agama yang ada dari titik pandang ketinggian yang sama. Kita akan melihat, agama-agama yang ada ternyata menyembah Tuhan yang sama, hanya cara menyembah dan menyebut nama Tuhannya yang berbeda-beda. Hakikatnya sama saja,” Prof. Malikan memperjelas posisi pemikirannya..

“Saya tanya kepada Prof. sebagai Muslim, apakah menurut Prof., Yesus itu mati di tiang salib atau tidak?” Rahmat mencecar lagi..

“Menurut orang Islam Yesus tidak mati di tiang salib. Menurut orang Kristen, Yesus mati di tiang salib, masing-masing punya dasar sendiri,” jelas Prof. Malikan..

“Saya tanya menurut Profesor, bukan menurut orang lain,” Rahmat belum menyerah untuk mencecar sang dosen..

“Lho, saya kan akademisi, saya harus bersikap arif dan netral, tidak melibatkan diri pada satu klaim tertentu,” kata Prof. Malikan..

“Itu artinya, Prof. Malikan tidak bersikap dalam menentukan sesuatu yang sudah jelas-jelas ditentukan dalam Al-Qur’an, surat an-Nisa ayat 157, bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib. Kalau orang Islam kan harusnya membenarkan berita Al-Qur’an itu. Menurut saya, sangat aneh, kalau orang mengaku Islam tetapi tidak percaya dengan isi Al-Qur’an,” kata Rahmat yang mencoba setenang mungkin dalam menyampaikan perkataannya..

Rahmat sebenarnya sudah mulai tidak sabar dengan ungkapan-ungkapan Prof. Malikan yang menurutnya sudah berbelit-belit. Tapi, ia sadar, ia mahasiswa, dan harus bersabar atas ucapan-ucapan dosennya..

“Ya. Rahmat.. itu bukan saya tidak bersikap. Sikap saya jelas, sikap saya sangat terbuka, inklusif, dan tidak eksklusif,” kata Prof. Malikan..

“Kalau begitu menurut Profesor, semua agama adalah benar?” Rahmat bertanya lagi..

“Ya, benar, menurut pemeluknya masing-masing ,” jawab sang Profesor..

“Kalau Bapak sendiri memeluk agama apa?” desak Rahmat..

“Saya Islam,”..

“Agama yang benar menurut Bapak apa?”..

“Menurut saya Islam benar menurut pemeluk Islam, Kristen benar menurut orang Kristen, dan seterusnya”..

“Yang saya tanya, menurut Pak Profesor, bukan menurut masing-masing agama,” Rahmat sudah mulai kehilangan kesabaran..

“Saya kan sudah menyatakan, bahwa saya berdiri pada titik netral pada semua agama. Meskipun saya juga Islam. Apa masih kurang jelas, Rahmat?”..

“Ya, jelas Pak, menurut saya, Bapak sebenarnya memilih berdiri di luar Islam”..

“Dalam melihat agama-agama lain, ya! Saya netral!”..

“Kalau begitu memang kita tidak akan bertemu karena berangkat dari posisi dan titik pandang berbeda. Saya melihat agama-agama lain dari sudut pandang Islam. Saya sama luar dalam. Dalam saya Islam, luar, saya juga Islam. Saya tidak abu-abu” Rahmat sudah bertekad tidak mau menyerah pada logika netral agama model Prof. Malikan. Ia terus mengimbangi jalan pikiran sang rektor..

. . .

. . .

Tulisan aslinya masih sangat panjang, dan perbincangan ini hanyalah satu contoh begitu banyak perbincangan dengan logika-logika LIBERAL yang telah dikupas tuntas di dalam Novel Dr. Adian Husaini..

So, bagaimana Anda memaknai perbincangan antara Profesor Malikan dan Rahmat, sang mahasiswa baru di Kampus Damai Sentosa? Yuuk, kita diskusi sebagai kaum akademisi yang berilmu, tak hanya “asbun” namun tak bermakna apa-apa..🙂

*Disadur dari Novel KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat karya Dr. Adian Husaini

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Rabu siang, 01 Januari 2014 pukul 11.12 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 30 Januari 2014 pukul 08.00wita

Comments
5 Responses to “Bincang Pluralisme Agama*”
  1. Novel ini very very recommended🙂

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: