Rasionalitas yang tak lagi Rasional*

Rasionalitas yang tak lagi Rasional*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Telah dikenal sejak lama bahwa seorang wanita itu amat perasa, sedangkan laki-laki adalah kebalikannya, yakni sangat rasional dan cenderung mengabaikan faktor “rasa”, meskipun tidak sepenuhnya juga demikian ya..

Kali ini saya ingin bercerita mengenai kondisi dalam kantor yang seringkali terjadi ketidakcocokan akibat adanya perbedaan cara pandang dalam menangkap pesan. Adanya “mini conflict” ini menggelitik saya untuk menuliskan sedikit catatan tentangnya..

Ada beberapa rekan kerja dari kalangan “Hawa” di kantor kami. Secara umum, hubungan komunikasi dan kerjasama saya dengan mereka berjalan secara baik dan saling mendukung. But, the problem adalah pada saat mereka memiliki bos baru, ada saja yang dikeluhkan. Kalau yang dikeluhkan adalah hal-hal yang memang mengganggu pekerjaan, saya bisa maklum akan hal itu, namun yang dikeluhkan oleh mbak-mbak yang kerjanya bagus tersebut adalah sesuatu yang menurut saya sudah diluar rasionalitas sesungguhnya. Mereka mulai membawa perasaan dalam setiap pendapatnya, sehingga sisi rasionalitas itu semakin menipis dan pada akhirnya, hal-hal kecil pun menjadi terlihat besar, kemudian masalah yang sepele juga dianggap menjadi besar pula..

Sebagai laki-laki, saya memahami akan sisi “perasa” dari seorang wanita. Namun di sisi lain, tentu ada batas-batas perasaan yang tidak boleh mendominasi akal sehingga apapun permasalahannya, dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan menilai persoalan secara berimbang dan objektif..

Tak dipungkiri juga, memang sebagian besar “kaum Adam” agak “bebal” untuk merasakan sisi lembut dari perasaan seorang wanita. Tapi perlu diingat, bahwa perasaan seorang lelaki dipergunakan sesuai dengan nalar objektifnya, sehingga tidak mendominasi pikiran yang menyebabkan tidak rasional..

Seorang perempuan, mereka juga rasional, tapi kebanyakan didominasi oleh perasaan, sehingga ketika ada satu kasus yang menyakiti hatinya, maka akan selalu diingat. Bahkan ketika rasa sakit itu belum hilang, akan mencari-cari kesalahan, menyepelekan setiap pencapaian, dan pada akhirnya menjadi rasa sakit ketika orang tersebut mendapatkan kenikmatan, sungguh hal seperti ini sudah berlebihan kawan, dan itu nyata terjadi dalam kehidupan..

Ya, ini hanya sebuah pendapat. Sebuah opini dari seorang lelaki bujang, yang mungkin saja tidak rasional layaknya perempuan he he he. Just kidding..😀

Nice to share it with you, sebuah celotehan tidak jelas, namun semoga tetap bisa memberikan manfaat..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Senin, 13 Shafar 1435 H/16 Desember 2013 pukul 16.54 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Jum’at, 10 Januari 2014 pukul 08.00wita

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: