Menapakkan Kaki di Melak-Kutai Barat*

With Comvest and Land Distpute Department of PT. Silva Rimba Lestari
With Comvest and Land Distpute Department of PT. Silva Rimba Lestari

With Comvest and Land Distpute Department of PT. Silva Rimba Lestari

Menapakkan Kaki di Melak-Kutai Barat*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Tempat terjauh pertama yang saya kunjungi dalam rangka menunaikan amanah pekerjaan adalah pergi ke Kecamatan Tabang. Sebenarnya tepatnya bukan di Kecamatan Tabang sih, melainkan ke Desa Bila Talang yang terletak di seberang sungai berhadap-hadapan langsung dengan Kecamatan Tabang. Perlu diketahui bahwa Kecamatan Tabang adalah kecamatan paling ujung Barat atas wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, dan setelah itu berbatasan langsung dengan daerah Kutai Barat.

Nah, pada kesempatan kali ini, saya hendak berbagi sedikit tentang kunjungan saya ke Melak, Kota Kabupaten Kutai Barat..

Wilayah konsesi perusahaan tempat saya bekerja memang sangatlah luas, bahkan wilayah kami adalah terluas dari perusahaan-perusahaan dalam Group Agra Bareksa, yakni lebih kurang 88.000 ha. Bandingkan saja dengan perusahaan tambang yang rata-rata 5-10 ribu Ha atau kebun sawit yang luasnya antara 20-40 ribu Ha saja. Hal demikianlah yang menjadikan wilayah konsesi kami di sebelah Barat Daya berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Barat.

Berbicara mengenai Kutai Barat, adalah juga perusahaan dalam Agra Bareksa Group yang wilayahnya terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat. Uniknya lagi, ada sekelompok orang yang memiliki klaim lahan di areal konsesi perusahaan kami yang letaknya di Kabupaten Kutai Kartanegara, sedangkan mereka tinggal di Enggelam Kecamatan Muara Wis Kabupaten Kutai Barat. Kisah perjalanan ke Melak, pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Barat adalah karena mendatangi klaimer yang tinggal di Desa Enggelam tersebut.

Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan memang, namun begitu mengasyikkan karena merupakan petualangan baru yang memperlihatkan keindahan bumi Borneo, khususnya wilayah Kutai Kartanegara dan juga Kutai Barat. Lewati lembah dan hutan, tanaman akasia dan kebun sawit, sungai kecil hingga besar, pemukiman terpencil yang dihuni oleh Suku Dayak Tunjung, hembusan angin sepoi yang menyisir rambut dan wajah bersahabatku, benar-benar indah, kawan ^^

Jangan tanya mengenai perjalanannya, karena membutuhkan lebih kurang 300 km pulang dan pergi untuk melampaui perjalanan ini. Dan tak bisa dibayangkan perjalanan lancar dengan aspal mulus, karena yang terjadi bahkan sebaliknya, jalan dari tanah pasir, bahkan becek karena adanya genangan air yang menyebabkan mobil Strada 4WD yang kami tumpangi itu harus membuat diubah pada mode double brake (ban mobil bagian depan dan belakang sama-sama berputar dengan tenaga penuh) untuk menghindari selip. Tapi, ya memang di situlah indahnya he he.

Ya, itulah sebagian sejarah hidupku yang tercatat dalam blog curhatan ini, Kamis, 05 Desember 2013 saya telah sampai ke Desa Enggelam Kecamatan Muara Wis Kabupaten Kutai Barat, dan berlanjut ke Melak, Kota Kabupaten Kutai Barat gara-gara mengejar urusan dengan klaimer tersebut.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Alumni Bandung College of Social Welfare, Department of Social Rehabilitation ‘08

Selesai ditulis pada hari Jumuah malam, 03 Shafar 1435 H/06 Desember 2013 pukul 20.39wita @Mes Enggang PT. Silva Rimba Lestari District Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu, 01 Januari 2014 pukul 08.00wita.

G A L L E R I E S

IMG_4181 == IMG_4184

IMG_4207 == ???????????????????????????????

IMG_4196

Comments
9 Responses to “Menapakkan Kaki di Melak-Kutai Barat*”
  1. Kosim says:

    Jadi ingat Melak nih. Anak saya yang kedua lahir pula di sana🙂

  2. ikke says:

    ya melak mang wonderfull,palagi skrg lg msm buah….uenak tp syg ekonomi lg lesu akibat trnx hrg karet

  3. Rahmat_98 says:

    Terakhir ke melak di akhir tahun 2012 kemarin ketika pasar melak terbakar habis. Sayang tidak sempat melihat air terjunnya karena di kejar deadline tugas. Menyusuri hulu sungai mahakam untuk melihat lebih dekat pemukiman suku dayak tunjung sambil mencari durian kuning (lei) sebuah pengalaman yang tidak terlupakan….
    http://rindutanahbasah.wordpress.com/2013/06/01/mengintip-pesona-alam-melak/

  4. lovelyristin says:

    Di site itu seru ya hehe.. Jd inget papayaza sempat dtempatkn di site kerjanya hehe..

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: