Kemenkes dan Kondomisasi Pezina*

Kemenkes dan Kondomisasi Pezina*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Cukup ramai di media sosial perbincangan mengenai kebijakan Kementerian Kesehatan yang membagi-bagikan kondom gratis dalam agenda bertajuk Pekan Kondom Nasional (PKN). PKN ini diselenggarakan mulai dari tanggal 1-7 Desember 2013 di berbagai kota di Indonesia. Terang saja, kebijakan seperti ini ditentang keras oleh beberapa aktivis muslim karena dianggap sebagai pelegalan hingga pemfasilitasan aktivitas zina yang jelas-jelas dilarang oleh agama..

Ketika ditelisik lebih jauh, ternyata PKN bukanlah inisiatif tunggal dari Kementerian Kesehatan RI, namun pada awalnya merupakan kampanye dari salah satu organisasi global bernama DKT International yang berkantor pusat di Washington DC Amerika Serikat. Kampanye kondom di Indonesia telah dilakukan oleh DKT Internasional sejak tahun 2007 silam, dan pada tahun 2013 ini mereka mampu meyakinkan Kementerian Kesehatan dan KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional) guna bekerjasama menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN) dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember..

Dalam acara PKN tersebut, agendanya adalah membagi-bagikan kondom gratis kepada para pelaku seks beresiko dan juga selebaran yang mengingatkan akan bahaya penularan infeksi seksual. Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat akan bahaya penularan infeksi seksual terutama HIV/AIDS akan menurun drastis, sehingga masyarakat tumbuh menjadi masyarakat yang sehat dan sejahtera..

Namun, apakah benar demikian? Bagi-bagi kondom gratis disertai selebaran bahaya penularan infeksi seksual dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk mengurangi lajunya pengidap HIV yang terus bertambah, padahal masih banyak cara lainnya yang bersifat pencegahan hingga menahan laju penularan infeksi seksual. Tapi sepertinya, dalam perspektif peneliti “liberal”, konteks agama menjadi tidak penting, dapat dikalahkan dengan data empiris hasil penelitian lapangan dengan menghalalkan segala cara. Padahal, suatu kesimpulan yang ditarik dengan premis yang salah, maka akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga. Dan menurut pendapat saya, kesalahan terbesar dari Kementerian Kesehatan dan KPAN (juga KDT International) dengan menempatkan pemakaian kondom sebagai satu-satunya premis yang ditarik menjadi sebuah kesimpulan..

Hasil perbincangan saya dengan salah satu sahabat yang juga seorang peneliti di bidang kedokteran di media sosial, beliau mengungkapkan bahwa kondomisasi merupakan langkah terakhir setelah tokoh agama dan tokoh masyarakat telah dianggap “gagal” dalam memberikan pemahaman yang benar terhadap para pelaku seks beresiko. Dan jika terus dibiarkan, maka orang yang tidak bersalah (isteri dan atau anak dari penjaja wanita malam) akan tertular HIV/AIDS karena seks yang dilakukannya tidak aman. Bagi saya, hal ini merupakan pemikiran yang sangat jauh dari kebenaran. Dalih menyelematkan nyawa dari isteri atau anak pelaku seks beresiko dijadikan tameng untuk menghalalkan perilaku seks di luar nikah tersebut. Bukankah seharusnya kita fokus pada upaya untuk mencegah semaksimal mungkin agar tidak ada lagi orang yang melakukan seks bebas, bukan malah memfasilitasinya dengan kondom gratisan, iya kan?

Kemudian, jika kita mau berbicara kepada hal yang lebih luas. Telah banyak dilakukan penelitian, bahwa pelaku seks bebas tidak hanya terjadi pada orang-orang yang melacurkan dirinya saja. Namun, lebih parahnya adalah bahwa pelaku seks bebas juga telah marak terjadi pada mahasiswa, pelajar SMA bahkan para pelajar SMP negeri maupun swasta. Maka, dampak buruk selanjutnya dari Pekan Kondom Nasional (PKN) adalah bakal ditirunya perilaku menggunakan kondom pada mahasiswa dan anak-anak sekolah, dan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, aman, dan dapat mencegah kehamilan. Dengan bekal ilmu agama yang sangat minim, dapat dipastikan bahwa para remaja yang tengah asyik berpacaran tersebut, akan dengan leluasa mempraktekkan hubungan layaknya suami isteri yang menurut mereka “aman”, karena dalam pemikiran mereka, kondom mampu mencegah terjadinya kehamilan. Dan ketika tidak terjadi kehamilan, aktivitas zina itu tak akan diketahui oleh orang lain..

Apa yang saya ungkapkan di atas bukanlah hasil bertapa, karena saya tidak menganut pada ilmu perdukunan atau ilmu-ilmu yang mampu membaca masa depan, namun murni karena berkaca dari pengalaman di lingkungan sekitar. Betapa bebasnya pergaulan antar laki-laki dan perempuan. Pacaran dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan, semakin sering berganti pacar, semakin sering dijamah, dianggap sebagai suatu kebanggaan karena mampu menaklukan lawan jenis, padahal dalam kenyataannya, dirinya sendirilah yang menjual murah tubuhnya untuk dinikmati oleh banyak lelaki tak setia..

Sungguh, kebijakan kondomisasi merupakan kebijakan yang akan semakin memperparah kerusakan generasi muda kita di kemudian hari. Dalih hasil riset di lapangan mungkin saja menjadi data kuat untuk membantah argumentasi ini, namun efek sampingnya tak hanya sampai pada pelaku zina komersil saja, namun juga para pelaku zina suka sama suka yang dalam hukum di negeri kita, tak boleh dikenai hukuman sanksi denda maupun kurungan penjara..

Beginilah, kita tengah hidup pada zaman dimana agama hanya dijadikan identitas, namun hukum-hukumnya dilempar ke belakang hingga tak ada efek kecuali hal-hal yang menguntungkan saja bagi dirinya. Dan merupakan tanggung jawab kita sebagai seorang muslim, untuk ber-amar makruf dan nahi mungkar, mengupayakan merubah kemungkaran dengan tangan, lisan dan juga hati yang merupakan selemah-lemahnya iman..

Harusnya, peringatan Hari AIDS Sedunia adalah dengan memberantas tempat-tempat prostitusi, memberikan hukuman yang berat bagi para pelanggannya, serta membina penyedia jasa kenikmatan tubuh yang sesunguhnya sama sekali bukan hak miliknya. Sungguh malang nian nasibnya, sudah hidup sengsara di dunia, di akhirat mendapat azab pula. Tidakkah sebagai seorang da’i kita tergerak untuk menasehati mereka dengan kesucian agama?

Para pelaku zina harus kita dakwahi, pemerintah sebagai pemegang kebijakan juga harus kita nasehati, dan para lelaki hidung belang, bahkan para homoseksual, harus mendapatkan hukuman sebagai efek jera. Kerjasama semua pihak harus terjalin, dan katakan TOLAK pada KONDOMISASI PELAKU ZINA..!!

#tolakpekankondomnasional

NB: Tulisan yang ternarasikan pada saat ramai promosi pekan kondom nasional di awal Desember lalu.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Senin, 28 Muharram 1435 H/02 Desember 2013 pukul 14.43 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 30 Desember 2013 pukul 08.00wita

Comments
4 Responses to “Kemenkes dan Kondomisasi Pezina*”
  1. Masih penasaran….
    Isinya di dalam “Bis Kondom” itu apa ya….?

  2. febrianadila says:

    untung kemarin langsung dibatalin ya, gambarnya kereeen

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: