Mengambil Sikap terhadap Demokrasi*

Mengambil Sikap terhadap Demokrasi*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Perdebatan itu memang diperlukan dan bahkan menjadi salah satu metode dakwah di dalam Islam. Tapi tentu bukan sembarang debat, apalagi debat kusir, tapi yang dimaksud adalah debat dengan mempergunakan dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, tak hanya di dunia, namun juga di akhirat kelak..

Dalam aktivitas gerakan dakwah, perdebatan juga terjadi terkait dengan penerjemahan “jalan lurus” menghadapi realitas yang ada. Perdebatan ini sejatinya terjadi karena perbedaan pandangan dalam melakukan ijtihad pilihan gerakan dakwah. Perdebatan yang terjadi ini bukanlah perdebatan yang membedakan antara iman dan kafir, atau “benar absolute” dan “salah absolute”. Perbedaan yang ada tidak menjadikan kelompok-kelompok dakwah itu saling bermusuhan atau bahkan saling bunuh-bunuhan, namun senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mewujudkan janji Rasulullah bahwa Khilafah akan tegak di muka bumi sekali lagi sehingga mampu menjadi ustadziyatul alam (soko guru peradaban sedunia)..

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa hampir seluruh negara-negara di dunia menganut sistem pemerintahan demokrasi, dimana semboyan paling umum kita dengar adalah sebuah pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Inilah titik pandang yang berbeda antara aktivis Islam dengan aktivis SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme Agama, dan Liberalisme). Islam memandang bahwa segala aturan berasal dari Allah subhanahu wata’ala, sedangkan demokrasi menghendaki sebuah hukum yang diciptakan dari manusia sendiri dengan mendasarkan pada kemaslahatan bersama..

Dari perbedaan cara pandang yang ekstrim itulah, beberapa kalangan aktivis dakwah yang “lurus” berpendapat bahwa berpartisipasi dalam demokrasi adalah sebuah keharaman karena demokrasi itu sendiri adalah sebuah sistem kufur yang bertentangan langsung dengan sistem Islam. Di satu sisi, kalangan tersebut begitu getol menolak dengan mengkafirkan sistem demokrasi, namun di sisi yang lain, pada kenyataannya mereka tak mampu berlepas diri dari belenggu sistem tersebut. Hal ini dikarenakan masih adanya sisi-sisi positif dari sistem demokrasi yang mampu mengakomodir gerakan dakwah Islam..

Tantangan berikutnya adalah ternyata demokrasi juga memberikan kesempatan yang sama kepada kekuatan-kekuatan “jahat” untuk menancapkan pengaruhnya kepada masyarakat. Tak bisa dipungkiri bahwa demokrasi juga menyamaratakan semua suara dalam pengambilan keputusan, apakah dia seorang alim ulama, pezina, pencuri, tukang tipu, guru, jaksa dan segala profesi lainnya. Padahal kita tahu bersama bahwa kedudukan orang yang berilmu (ulama) sungguh berbeda dengan kebanyakan manusia lain yang sedikit ilmunya. Sabda Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam: ”Ulama adalah pewaris para nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak juga dirham, melainkan mereka hanya mewariskan ilmu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah)..

Namun, dengan mengetahui realitas dakwah yang demikian di negeri kita, tentu sikap yang diambil bukanlah sekedar mencaci maki dan mengutuk sistemnya, menyalahkan segala akibat buruk yang ditimbulkannya, tanpa bisa melakukan apa-apa untuk melakukan perubahan yang nyata. Kita juga mengetahui bahwa tuntunan Rasulullah ketika mendapati kemungkaran di depan mata, “Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)..

Maka, bukankah lebih baik menyalakan lilin yang memberikan cahaya penerangan daripada hanya sekedar mencaci pekatnya kegelapan? Caranya yaitu selain melakukan aktivitas dakwah bil lisan kepada masyarakat awam, juga melakukan perubahan dengan “tangan” yang dapat diartikan sebagai kekuatan atau kekuasaan. Sistem demokrasi memiliki celah “kebaikan” yang dapat dimanfaatkan, dengan proyeksi kebermanfaatan bagi pencapaian tujuan dakwah. Nah, inilah mengapa partai-partai Islam di Indonesia mengambil peranan dalam percaturan perpolitikan bangsa. Bisa dibayangkan ketika masa awal kemerdekaan Bangsa ini, pemerintahan malah diisi oleh orang-orang bodoh terhadap agama dan hanya mengikuti hawa nafsunya, bisa jadi negeri yang telah rusak ini tambah semakin rusak parah..

Harapan itu Masih Ada. Itulah asa yang selalu tertanam di dalam diri. Karena masih begitu banyak orang-orang shalih di tengah banyaknya orang-orang bejat yang menjadikan agama sebagai bahan tertawaan dan senda gurau. Negara Indonesia ini merupakan negeri yang kaya raya, sumber daya alamnya, ragam suku dan budayanya, serta keramahtamahan sikapnya. Maka mari jadikan negeri ini menjadi SEPENGGAL FIRDAUS DI MUKA BUMI.. (^_^)

Bulan ini adalah bulan terakhir di penghujung tahun 2013, tahun politik itu telah tiba, tahun pemilihan anggota DPR dan juga Presiden Republik Indonesia itu akan digelar sebentar lagi, bukan dalam waktu yang lama. Pada tahun 2014 nanti, tak boleh lagi kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang cerdas secara intelektual, namun begitu bodoh dalam hal agama, tepat seperti kaum Qurays di masa jahiliyah. Pemimpin-pemimpin muslim yang taat agama serta paham aturan-aturannya harus menjadi wakil kita di Senayan sana..

Inilah proyek peradaban, barang siapa tak peduli dan mengabaikannya, maka kereta dakwah akan terus berjalan. Tujuan utama dakwah bukanlah saling memperebutkan kekuasaan, namun dakwah menghendaki manusia beriman untuk menjadi pemimpian dan berkuasa, agar Islam dapat kembali berjaya. Apa jadinya jika kala itu Kepemimpinan setelah Rasulullah tidak dipegang oleh Abu Bakar Ash Shidiq dan diserahkan kepada orang yang tak paham agama dan hanya haus kekuasaan? Tentu kita tidak serta merta menuduh Abu Bakar haus kekuasaan bukan? Dakwah ini juga demikian..

Renungkan, dan pikirkanlah..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Ahad, 27 Muharram 1435 H/01 Desember 2013 pukul 11.54 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Jum’at, 27 Desember 2013 pukul 08.00wita

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: