Beda Tipis Optimis dan Nekad*

Beda Tipis Optimis dan Nekad*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Sesungguhnya keberanian seseorang untuk mengambil suatu keputusan tidak pernah sama sekali terlepas dari sebuah kekhawatiran. Ya, suatu kekhawatiran dalam diri akan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat berakibat buruk bagi diri sendiri maupun orang lain di masa depan..

Namun, jika kita berkenan untuk meneliti lebih jauh, segala hal yang telah kita lakukan ini tidaklah terlepas dari sebuah pengambilan keputusan. Sekolah dengan mengambil jurusan Akomodasi Perhotelan atau Geologi Pertambangan, Kuliah di Bandung atau di Jakarta, bekerja di luar pulau atau lingkungan dekat tempat tinggal, dan beberapa hal lainnya adalah contoh bentuk pengambilan keputusan, yang jika kita tidak mengambilnya, maka tidak akan terjadi perubahan alias stagnan, dan sebaliknya, bakal terjadi beberapa perubahan, meskipun sedikit terselip di dalamnya sebuah kekhawatiran akan ketidaktepatan keputusan yang telah ditetapkan..

Sebagai kaum yang terdidik dan terpelajar, kita tentunya tidak menafikkan segala resiko yang ada, di balik sebuah kesempatan besar yang mungkin saja akan membuat hidup kita berubah 180 derajat dari sebelumnya. Namun sialnya, terkadang kecerdasan IQ itu juga tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional, sebab pengambilan keputusan-keputusan strategis yang sangat berpengaruh dalam kehidupan itu malah kita dapatkan dari organisasi-organisasi esktrakulikuler selain mata kuliah atau pelajaran sekolah. Alhasil, bagi beberapa orang yang sama sekali tidak menceburkan dirinya dalam suatu organisasi semasa kuliah, cenderung merasa lebih kesulitan untuk mengambil keputusan-keputusan besar dan mengambil “jalan aman”..

Langkah-langkah besar untuk menciptakan perubahan yang besar, selalu terkandung resiko yang besar di dalamnya. Inilah sebab dasar saya hampir mempersamakan Optimis dengan Nekad. Memang sih, tidak melulu sama kedua pengertian tersebut. Optimis bermakna positif, sedangkan Nekad itu bermakna negatif. Namun, saya pribadi tidak memungkirinya, bahwa dibalik rasa optimisme yang tinggi, saya juga sangat sering untuk enggan memikirkan kejadian buruk di masa depan atas keputusan yang saya tetapkan, dalam bahasa lainnya, saya lebih mengedepankan perasaan “nekad” saja, untuk mengusir segala keraguan akan ketidakberhasilan dari keputusan yang diambil..

Contoh kecilnya adalah ketika saya mampu menembus ujian masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung pada tahun 2008 silam, dana yang tersedia hanya ada 4,5 juta rupiah untuk mengurus segalanya. Mulai dari uang masuk, bayar kostan, biaya hidup dan lain-lain. Sedangkan di sisi lain, orang tua dan keluarga besar sudah mewanti-wanti bahwa mereka tidak akan sanggup untuk membiayai operasional selama berkuliah di Bandung, hanya saja mungkin nanti akan sesekali mengirimkan uang jika ada rizki. Bahkan, orang tua dan keluarga besar menyarankan untuk kuliah di tahun depannya saja, ketika telah terkumpul uang yang cukup untuk biaya kuliah. Tapi kemudian saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa dan saya mampu, baru kemudian meyakinkan orang tua dan keluarga besar, sehingga pada akhirnya izin dari keluarga pun saya kantongi, dan memasuki hari baru di kampus STKS Bandung dengan hanya membawa uang 4,5 juta rupiah, tanpa punya keluarga, tanpa punya kenalan dan sama sekali tidak tahu bagaimana nanti caranya bisa bertahan hidup di salah satu kota besar di Indonesia, yakni Paris van Java (Sebutan Hindia Belanda untuk Kota Bandung)..

Itulah sekelumit kisah “optimis” dan “nekad” yang melekat dalam diri saya secara bersamaan. Mungkin, nan jauh di sana, Anda juga memiliki pengalaman yang serupa. Bahwa sesungguhnya, Optimis dan Nekad itu adalah sesuatu yang amat sangat dekat adanya, beda tipis perwujudannya..

Memang bukan cerita manis ketika kita menginginkan hasil yang baik dalam waktu dekat setelah pengambilan keputusan. Karena akan ada cerita perjuangan, kisah heroik dan berliku, tapi toh dengan berbekal optimis dan nekad tersebut, semua akan berakhir indah pada waktunya. Jalan-jalan itu akan senantiasa terbuka lebar bagi hamba-Nya yang terus berusaha, berbaik sangka terhadap Allah, sembari berdoa memohon kepada-Nya..

Maka, Optimislah, dan jangan sekali-kali membuang citarasa “nekad” dalam diri, karena ia ada untuk memberanikan dan memampukan diri menghadapi segalanya, baik kemungkinan baik maupun buruk yang akan menimpa kita di kemudian hari..

Dengan begini, sungguh kuatlah diri kita, “Ketika mendapatkan rahmat, kita akan bersyukur kepada Rabb, dan ketika mendapatkan musibah atau ketidakenakan, maka akan ada hikmah yang dipetik dan dijadikan pelajaran untuk proses perbaikan di masa depan”..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kamis, 24 Muharram 1435 H/28 November 2013 pukul 11.49 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Selasa, 24 Desember 2013 pukul 08.00wita

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: