Jilbab dan Rok Penanda Masyarakat Modern*

kawanimut_fairy_in_love_8.

Jilbab dan Rok Penanda Masyarakat Modern*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Lebih dari 1400 tahun yang lalu dakwah Islam diturunkan ke bumi melalui perantaraan malaikat Jibril yang diturunkan kepada manusia terkasih, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di daerah yang diberkahi, Makkah al Mukaromah. Kemudian, pada masa dakwah itulah, disyariatkan bagi para wanita yang sudah baligh/dewasa untuk menutupi apa yang menjadi perhiasan baginya, yaitu seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangan..

kawanimut_fairy_in_love_8.

Waktu yang lama, ternyata tidak menjadi jaminan suatu ajaran yang benar akan terus dan tetap dipertahankan kebenarannya. Malah, yang ada adalah sebuah penyelewengan demi penyelewengan, dan itu dilakukan dengan mendapat legitimasi dari para ulama yang jahat (al-ulama al-su’). Ironis memang, di satu sisi, ulama memiliki tugas untuk menyebarkan risalah dakwah kepada umat manusia, namun ternyata ada juga ulama-ulama yang jahat dan menyebarkan dakwah yang tidak sesuai dengan tuntunan aslinya. Oleh karenanya, Rasulullah sampai pernah bersabda, “seburuk-buruk manusia adalah ulama yang buruk”..

Realita di lapangan adalah, banyak masyarakat kita yang mengaku dirinya sebagai seorang muslimah (wanita beragama Islam), tapi kemudian enggan mengenakan jilbab sebagai pakaian yang disyariatkan kepada para muslimah. Ditambah lagi, pendapat dari para ulama jahat, yang disebarkannya adalah bahwa mengenakan jilbab itu pilihan, karena masih menjadi perdebatan diantara para ulama itu sendiri. Kemudian, kata ulama tersebut lagi, bahwa jilbab dan rok hanyalah budaya Arab yang tidak wajib kita tiru, karena yang paling penting adalah esensi memakai pakaian “sopan”, agar tidak diganggu oleh orang lain..

Selain menganggap jilbab hanyalah budaya Arab, masyarakat kita juga memberikan stigma negatif bahwa para muslimah yang mengenakan rok dan berjilbab adalah wanita-wanita tradisional yang tidak bisa mengikuti zaman. Statement tersebut mereka keluarkan lantaran mengukur kemajuan suatu pemikiran dan peradaban dari majunya peradaban di Barat. Memang benar, secara teknologi dan pembangunan, Barat maju pesat, namun di balik itu, ternyata nilai-nilai keagamaan semakin kendur dan lambat laun ditinggalkan..

Nafsu syaitoni telah menjadi nahkoda terkuat yang membimbingnya menuju kembali kepada zaman kejahiliyahan. Lihat saja pemakluman hubungan sesama jenis, bahkan melegalkannya untuk tercatat di pengadilan agama sebagai perkawinan yang sah. Lihat pula hubungan tanpa status (kumpul kebo) yang telah dianggap sebagai hal yang wajar, asal suka sama suka, dan tidak mengganggu ketertiban umum, menjadi suatu hal yang lumrah. Ditambah lagi, pakaian-pakaian para wanita yang dari hari ke hari semakin tidak jelas, celana super pendek, kaos super ketat dan terbuka hingga terlihat belahan dada, merupakan pakaian yang dianggap “gaul” dan tren dalam berkehidupan. Maka, benarlah firman Allah dalam Al Qur’an, “. . . . Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah). . . .” (Q.S Al Ankabuut: 38)..

Para wanita masa kini, telah tertipu oleh Barat, yang begitu menyilaukan pandangannya terhadap makna kebebasan (liberalisme), perjuangan terhadap hak asasi manusia, serta pembebasan suatu kaum untuk memeluk dan menyakini hingga menista agama (pluralisme agama) dan lain semacamnya. Penyetaraan gender adalah isu paling ngetop yang banyak diminati oleh kaum hawa. Para wanita tersebut menganggap dengan adanya penyetaraan gender, posisi mereka akan naik statusnya menjadi sama dengan laki-laki, bahkan bisa menjadi lebih superior dalam hal apapun. Bahkan penganut ajaran fenimisme yang akut, menganggap pernikahan adalah sebuah cara penjajahan terhadap kaum wanita yang dilegalkan oleh negara. Karenanya, menurut mereka, tidak mau menikah atau menikah sesama jenis adalah pencapaian tertinggi atas keterlepasannya terhadap hegemoni kaum pria..

Mungkin jika Anda yang sekarang tengah membaca tulisan ini adalah seorang wanita beragama Islam, normal dan berpendidikan tinggi, merasa bahwa pemikirannya tidak seekstrim dengan pemaparan yang saya ungkapkan di atas. Namun, ketika ternyata Anda tidak mengenakan jilbab/kerudung/menutup aurat, hal ini malah akan menimbulkan pertanyaan yang besar. Jadi, memang benar bahwa Anda menganggap wanita muslimah yang mengenakan jilbab dan rok adalah kaum tradisional yang pemikirannya tidak maju? Atau, Anda menganggap bahwa jilbab dan rok adalah hanya sebatas Budaya Arab, bukan perintah dari Allah? Atau, pendapat yang paling sering dikemukakan seorang muslimah (wanita beragama Islam) ketika telah dewasa atau mencapai akil baligh, namun masih enggan mengenakan jilbab, adalah belum siap, tidak siap, dan merasa perlu menjilbabi hatinya dahulu sebelum menutup kepalanya. Jika demikian pemikiran Anda, maka tak salah lagi bahwa Anda telah tertipu, “. . . . dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. . . .” (Q.S Al Hadiid: 14)..

Ya, kebanyakan wanita di lingkungan kita telah tertipu. Bahkan, setelah mengenakan kerudung pun, masih enggan mengenakan rok, dan lebih memilih celana panjang yang super ketat sehingga menampakkan segala lekuk tubuhnya. Padahal, jilbab dan rok adalah penanda atas sebuah masyarakat yang  modern, masyarakat yang memahami antara hal yang buruk dengan hal yang baik, hal yang pantas dan hal yang tak pantas, hal yang sopan dengan hal yang tidak sopan, hal yang patut dan yang tidak patut. Semuanya dirangkum menjadi sebuah adab kehidupan berinteraksi antara kaum muslim dan muslimah, serta hubungan harmonisnya dengan pemeluk agama lain..

Sekali lagi saya tegaskan, bahwa modern tidak diukur dengan berapa banyak kita pernah berpacaran, seberapa tipis pakaian yang kita kenakan, seberapa kemilau rambut panjang yang dipamerkan kehitaman dan kelurusannya, serta seberapa seksi pinggul dan dada sehingga hanya ditutupi dengan baju tipis dan seadanya, sehingga dikatakan menonjol dan seksi. Hal tersebut bukanlah makna modern yang sebenarnya, karena sejatinya modernitas yang diartikan semacam demikian adalah sebuah kemunduran pemikiran, persis seperti kehidupan pada zaman Jahiliyah, lebih dari 1400 tahun silam ketika agama Islam belum diturunkan..

Jadi, masih enggan mengenakan jilbab syar’i dan rok lantaran malu akan dikatakan sebagai seorang wanita tradisional dan ketinggalan zaman?

Wallahu a’lam bisshowab..

NB: Artikel ini sudah dipublikasikan di website INFOISCO pada tanggal 13 Desember 2013 http://www.infoisco.com/2013/12/jilbab-dan-rok-penanda-masyarakat-modern.html

JoeSalam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kamis, 17 Muharram 1435 H/21 November 2013 pukul 12.32 wita

Dipublikasikan pada hari Selasa malam, 15 Shafar 1435 H/17 Desember 2013 @Kantor PT. Silva Rimba Lestari Distrik Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: