Semoga Bojonegoro Tak Mati di Lumbung Padi*

Semoga Bojonegoro Tak Mati di Lumbung Padi*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker and Community Developer

Bismillah Arabic

Bojonegoro adalah kota strategis yang telah dirasakan kebermanfaatannya sejak lama. Potensi wilayah yang dilewati oleh Sungai Bengawan Solo membuatnya ramai dihuni oleh manusia dari berbagai wilayah sejak zaman dahulu kala. Maka, tak heran ketika masa pendudukan Belanda pada abad 18 hingga 19 itu, Bojonegoro menjadi pusat residen yang meliputi wilayah Bojonegoro, Tuban dan juga Lamongan.

Kekayaan alam pun tak kalah melimpah. Di bawah tanah Bojonegoro tersimpan cadangan minyak bumi tak terkira jumlahnya. Lapangan minyak bumi Banyu Urip diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari 250 juta barrel, dengan produksi tertinggi mencapai 165.000 barrel per hari. Hal ini sama artinya dengan produksi 20% produksi minyak mentah di Indonesia.

Selain minyak bumi, hasil tanaman dan hutannya juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Kawasan hutan Jati di wilayah Bojonegoro menjadikan warganya tidak pernah kekurangan bahan baku kayu untuk keperluan pembangunan rumah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah lagi produksi tanaman tembakau yang menjadikan Bojonegoro sebagai salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Dan terakhir, tentu saja masih ada potensi tanah yang subur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sawah penghasil beras untuk pemenuhan makanan pokok masyarakat.

Bojonegoro, dengan segala potensi yang ada padanya, seharusnya memiliki korelasi positif terhadap peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Namun, perlu kita sadari bersama bahwa mewujudkan hal tersebut, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ada kesadaran penuh dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder), baik itu pemerintah, masyarakat, dan juga swasta sebagai investor pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Di satu sisi, kita harusnya bergembira dengan begitu banyaknya investor yang masuk ke Bojonegoro. Namun, perlu digarisbawahi pula bahwa investasi tersebut wajib hukumnya untuk memberikan dampak positif terhadap tingkat kesejahteraan warga. Oleh karenanya, praktik good governance harus dijunjung tinggi guna mereduksi segala kesempatan untuk melakukan korupsi, kolusi dan juga nepotisme.

Ironis ketika dengan berbagai fasilitas kekayaan alam dan potensi daerah tersebut, malah menjadikan masyarakat sebagai sosok yang “manja”, maunya berleha-leha kemudian mengharapkan kehidupan layak dan makmur tanpa kerja keras dan cita-cita mulia. Kita tentu tidak mengharapkan bahwa masyarakat Bojonegoro akan senada dengan penggalan pepatah lama, “. . . ayam mati di lumbung padi”.

Salah satu alternatif agar Bojonegoro tak mati di lumbung padi, adalah dengan menggalakkan proyek community empowerment (pemberdayaan). Program pemberdayaan menghendaki masyarakat menjadi tangguh untuk menanggung beban dirinya sendiri, dengan persiapan yang ideal dan matang guna menghadapi kehidupan. Jiwa dan raga yang sehat (sektor kesehatan), pikiran yang cerdas (sektor pendidikan), dan peningkatan penghasilan (sektor ekonomi) adalah rangka-rangka yang harus diperkuat dalam agenda besar proyek pemberdayaan masyarakat. Di samping itu, yang tak kalah pentingnya adalah sektor kesejahteraan sosial yang dapat ditengarai dengan adanya rasa aman, nyaman, tenteram dan hidup dalam suasana damai penuh keberkahan.

Pemberdayaan masyarakat di ketiga sektor pokok di atas (kesehatan, pendidikan dan ekonomi) jelas dapat dipenuhi dengan adanya penyediaan fasilitas infrastruktur, edukasi, dan juga suntikan modal dan pendampingan. Sedangkan untuk sektor sosial itulah yang kebanyakan tidak mampu difasilitasi secara baik.

Berbicara mengenai kesejahteraan sosial, juga akan erat kaitannya dengan masyarakat yang termarjinalkan, seperti ODK (Orang Dengan Kecacatan), Lansia, Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE), Pengidap HIV/AIDS, Narapidana dan lain-lain semacamnya. Kebanyakan, fokus pemberdayaan tidak pernah sampai kepada mereka, padahal kita pahami bersama bahwa mereka juga sama-sama warga masyarakat yang patut untuk mendapatkan perhatian dan butuh untuk dikembangkan potensinya.

Sebagai penutup, agar Bojonegoro tak mati di lumbung padi, perlu memperhatikan aspek multisektor, secara komprehensif dan berkesinambungan. Proyek pemberdayaan masyarakat bukan menyuapi masyarakat dengan dana-dana segar tanpa kebermaknaan, namun merupakan proyek pembentukan kemandirian pada sistem keseharian kehidupan masyarakat yang kuat, tangguh, bervisi, serta mandiri.

10 Joe Social Work STKS Bdg**Joko Setiawan menjalani masa sekolah menengah pertama di SMPN 1 Bojonegoro (2001-2004) dan melanjutkan sekolah menengah di SMKN 4 Bojonegoro (2004-2007) dengan program Jurusan Geologi Pertambangan. Selanjutnya, mendapatkan gelar S.ST. (Sarjana Sains Terapan) bidang Ilmu Pekerjaan Sosial (social work) dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial/STKS Bandung (2008-2012).

NB: Tulisan ini pertama kali diterbitkan di media onlie lokal Kota Bojonegoro di blokbojonegoro.com yang terbit pada hari Jum’at, 15 November 2013 dengan judul Bojonegoro Jangan Mati di Lumbung Padi

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Jum’at, 06 Desember 2013 pukul 08.00wita.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: