Retorika Haraki*

Sumber ilustrasi gambar dari sini

Retorika Haraki*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Bismillah Arabic

Dakwah adalah kegiatan mengajak, menyeru atau memanggil manusia menuju kebenaran Allah dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik hingga mereka (yang diajak) beriman kepada Allah dan kufur (mengingkari) thogut, mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam..

Sedangkan harakah/pergerakan, bisa diartikan sebagai sebuah pergerakan untuk memperjuangkan misi tertentu baik bersifat parsial maupun universal..

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan retorika haraki adalah penjelasan ajaran dan nilai-nilai Islam oleh para aktivis dakwah yang disampaikan atas nama Islam kepada sekalian manusia, muslim atau non muslim, untuk mengajak mereka kepada Islam atau mengajarkan keislaman dengan cara-cara yang Islami, beramar makruf dengan cara yang makruf, dan bernahi mungkar bukan dengan cara yang mungkar (Amirudin Rahim, 2010)..

Adapun karakteristik Retorika haraki yang diadaptasi dari kitab “Khitabuna al-Islami” karya Dr. Yusuf Qardhawi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Retorika Islam” sebagai berikut:

  • Yakin kepada pencipta dan tidak mengingkari keberadaan dan kreativitas manusia
  • Menjaga keseimbangan antara wahyu dan akal
  • Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan materiil
  • Memperhatikan ibadah dan tidak melupakan nilai-nilai moral
  • Mengagungkan akidah dan menebarkan toleransi dan kasih saying
  • Memikat dengan hal-hal ideal dan peduli terhadap realitas
  • Mengajak kepada keseriusan dan konsistensi dan tidak melupakan berhibur dan istirahat
  • Berorientasi global dan tidak melupakan aksi lokal
  • Semangat kepada modernitas dan berpegang teguh kepada orisinalitas
  • Bersifat futuristik dan tidak mengingkari masa lalu
  • Memudahkan urusan dan menggembirakan perasaan
  • Berpikir luas dan tidak melampaui batasan permanen
  • Menolak kekerasan dan terorisme dan mendukung perjuangan suci (jihad fi sabilillah)
  • Mengukuhkan eksistensi wanita dan tidak mengikis martabat laki-laki
  • Melindungi hak-hal minoritas dan menolak arogansi mayoritas

Tak ada uswah terbaik selain Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Dan terkait dengan retorika haraki, saya juga akan sedikit memberikan tips kesuksesan kampanye (dakwah) beliau, yaitu:

  • Ketulusan dan keikhlasan hati semata-mata karena Allah;
  • Kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan;
  • Mendahulukan amal daripada terlalu banyak bicara; dan
  • Bekerja untuk umat manusia tanpa mengenal momentum pemilihan umum

Berkenaan dengan retorika haraki, kita juga akan membahas tentang debat. Yakni terkait dengan etika dan taktik dalam berdebat. Al Qur’an menempatkan debat sebagai salah satu metode dakwah. Di tengah kondisi masyarakat dewasa ini yang semakin kritis, dinamis, dan plural, debat dibutuhkan agar setiap orang dan kelompok dalam menganut satu sikap dengan argumentasi yang tepat dan benar. Oleh karena itu, debat tidak dilakukan kecuali dengan cara yang terbaik..

Etika debat yang perlu diperhatikan agar dapat memperoleh hasil (natijah) yang baik, adalah sebagai berikut:

  • Hindari penggunaan bahasa yang rendah, tindakan yang kasar dan tidak menghormati pemikiran lawan.
  • Camkan dalam diri bahwa tujuan debat adalah untuk mencari kebenaran, bukan semata-mata untuk mencari kemenangan.
  • Hendaknya dalam debat, masing-masing menguasai ilmu tentang tema atau topik yang diperdebatkan.
  • Patuhilah aturan debat yang telah disepakati karena ini menunjukkan kedewasaan bersikap.
  • Jauhi sikap emosional dengan mengedepankan rasio dan akal.

Adapun taktik yang dapat dipergunakan dalam berdebat, yang diadaptasi dari Hendrikus (2007) adalah sebagai berikut:

Taktik Afirmasi. Adalah sebuah taktik penegasan, peneguhan, penguatan, dan pengokohan pendapat dengan konsentrasi tertentu. Melalui teknik ini diharapkan lawan debat kita secara bertahap mengakui pernyataan kita.

  • Taktik “ya”. Taktik yang menghendaki lawan debat menerima pernyataan tanpa syarat baik secara rasio maupun emosional.
  • Taktik mengulang. Dilakukan dengan mengulang-ulang pernyataan dalam berbagai bentuk, tetapi tetap fokus pada inti gagasan yang disampaikan.
  • Taktik sugesti. Berusaha mempengaruhi pikiran dan perasaan lawan dengan berbagai keuntungan dan kelebihan yang akan didapatkannya.
  • Taktik kebersamaan. Menempatkan lawan setara dengan diri Anda. Di mata Anda, sang lawan adalah potensi yang akan mendukung gagasan Anda. Sapaan yang digunakan dalam taktik ini adalah “kita”.
  • Taktik kompromi. Mencari titik temu atau kesepadanan di tengah-tengah perbedaan yang tajam merupakan inti dari taktik ini.
  • Taktik konsensus. Berusaha mempengaruhi lawan dengan pernyataan yang tidak dapat dibantah karena apa yang diungkapkan sesungguhnya merupakan hajat hidup orang banyak.

Taktik Ofensif. Adalah taktik “menyerang” lawan dari titik lemahnya yang berefek pada sikap lawan menyerah atau mengakui kebenaran yang kita katakan.

  • Taktik antisipasi. Dilakukan dengan mendahului kesimpulan lawan sebagai langkah antisipasi dan menyerangnya dari titik itu.
  • Taktik mengagetkan. Taktik mengangetkan dilakukan dengan cara member sudut pandang atau jawaban yang tidak terduga oleh lawan.
  • Taktik bertanya balik. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Itulah inti taktik ini.
  • Taktik provokasi. Taktik ini memaksa lawan untuk berbicara terus terang. Agresivitas pertanyaan ini menyebabkan lawan terprovokasi dan tidak dapat mengelak kecuali harus mengakui atau tidak dapat berkutik lagi.
  • Taktik mencakup. Taktik ini melihat argumentasi lawan dengan satu pengamatan yang mencakup dan lebih tinggi, sehingga argumentasi itu sendiri dilemahkan dan tidak berlaku untuk dirinya sendiri.
  • Taktik melebih-lebihkan. Melebih-lebihkan pernyataan lawan bicara dimaksudkan agar lawan bicara menarik kembali pernyataannya.
  • Taktik memotong. Pada prinsipnya memotong pembicaraan lawan bicara dianggap kurang baik. Akan tetapi, jika lawan bicara terlalu banyak bicara, maka kita boleh memotongnya dengan cara yang sopan.

Taktik Defensif. Adalah taktik bertahan ketika lawan bicara melakukan “serangan”.

  • Taktik menunda. Misal, “Pertanyaan Anda sangat bagus, sayang sekali waktu yang tersedia sudah tidak cukup untuk menjawabnya.”
  • Taktik mengelak. Jika mendapat pertanyaan yang sulit dan pembicara mengalami kesulitan untuk menjelaskannya, maka taktik mengelak dapat dilakukan dengan cara mengutip pendapat ahli.
  • Taktik “Ya….. Tetapi”. Taktik ini dimaksudkan untuk memberi sudut pandang yang berbeda daripada lawan.
  • Taktik mengangkat. Dilakukan dengan cara memberi penghargaan dan persetujuan kepada pendapat lawan, tetapi memanfaatkan momentum itu untuk dimaklumi.
  • Taktik berterima kasih. Taktik yang tetap menghargai informasi pihak lawan yang sebenarnya menyudutkan kita, tetapi informasi itu dijadikan titik tolak untuk melakukan perbaikan yang bernilai positif.
  • Taktik merelativasi. Taktik ini meletakkan keberatan lawan ke dalam konteks, sehingga pendapatnya menjadi relatif.
  • Taktik menguraikan. Taktik ini dilakukan dengan cara menganalisis secara teliti keberatan pihak lawan dan menunjukkan titik lemahnya.
  • Taktik membiarkan. Tidak semua pendapat lawan harus ditanggapi dan tidak semua pertanyaan harus dijawab. Kadang membiarkan pendapat itu lewat begitu saja sudah menjadi jawabannya.

Taktik Negasi.

  • Taktik “tidak”. Taktik ini menyanggah secara langsung pendapat lawan dengan menyangkalnya. Ada risiko yang bisa muncul dari taktik ini, yaitu kemungkinan hadirnya rasa permusuhan dari lawan. Akan tetapi, jika memang kita menganggap bahwa pendapat lawan itu memang tidak benar, maka taktik ini dapat dipakai dengan cara yang lebih halus atau dengan pertanyaan retoris.
  • Taktik kontradiksi. Taktik ini berusaha membalik pernyataan lawan secara kontradiktif.

Beberapa taktik di atas diperlukan karena dalam berdebat, kedua belah pihak saling “menyerang” dengan argumentasi dan berusaha meyakinkan orang banyak bahwa pendapatnya yang benar dan layak didukung. Dengan begitu tujuan dapat tercapai secara efektif.

Demikianlah catatan singkat mengenai Retorika Haraki. Semoga ada beberapa manfaat yang didapat dan menjadi jalan untuk lebih giat dalam beramal sholih dan memberikan manfaat kepada orang lain.

04-joe-read-retorika-haraki-at-ibf-jkt-2013-e1362363308211Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Selasa, 01 Muharram 1435 H/05 November 2013 pukul 21.25 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu, 23 Muharram 1435 H/27 November 20 13 pukul 08.00wita

Comments
2 Responses to “Retorika Haraki*”
  1. Aulia Rahman says:

    Sudah cakep, sholeh dan rajin membaca lagi🙂

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: