Keponakanku Radja*

Radja Bahrul Hikam bersama adik perempuannya

Radja Bahrul Hikam bersama adik perempuannya

Keponakanku Radja*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Bismillah Arabic

Ia adalah adalah keponakanku yang ke-III setelah Wisnu dan Rama. Lahir dengan jalan sesar dari ibu bernama Eni Kusrini dan Chanif, pada tanggal 24 Januari 2002. Karena lahir pada bulan yang sama, yaitu di bulan Januari, mungkin itulah yang membuat kami ada beberapa persamaan. Ia bernama lengkap Radja Bahrul Hikam. Sebuah nama yang indah untuk sosok yang luar biasa..

Kuakui, Radja memang bukan anak biasa. Bukan karena ia sakti dan memiliki kekuatan supranatural, namun jalan kehidupannya begitu membuatku berkaca-kaca setiap waktu, dan meyakini bahwa dirinya memang telah dibentuk sedemikian rupa oleh takdirnya Allah, untuk menjadi seorang pemuda yang bakal menorehkan banyak tinta emas di kehidupannya kelak..

Radja, ia dilahirkan dengan ayah seorang pengusaha. Oleh karenanya, kehidupan masa balitanya begitu terjamin, semua terpenuhi, dan seolah kehidupan akan berjalan baik-baik saja dan ia akan bahagia selamanya. Namun ternyata kemewahan dan kebahagiaan tersebut tidak  berlangsung lama. Di usianya yang baru menginjak 5 tahun, ayahnya telah meninggal dunia karena penyakit. Jadilah Radja, di usianya yang ke-5, sebagai anak Yatim..

Radja sepertinya memang mewarisi kecerdasan dari ayahnya. Hal itu begitu terlihat dari keaktifannya menanyakan tentang banyak hal pada usia 4 dan 5 tahun. Di usia tersebut, Radja bukanlah anak pemalu, dan malah terkesan sebagai anak pemikir. Ketika ia tidak mengetahui atau tidak paham terhadap sesuatu, ia akan berhenti sejenak, melirikkan matanya ke atas, sambil berpikir, kemudian menanyakan kepada orang di sekitarnya, apa gerangan hal yang tidak mampu dipahaminya tersebut..

Menengol ke kamarnya, akan terlihat begitu banyak coretan sana sini, yang mungkin akan terkesan tidak karuan dan hanya mengotori tembok semata, padahal, itu malah menunjukkan betapa kecerdasan anak ini telah nampak sejak usia belia..

Sayangnya, aku hanya mampu menemaninya sampai ia kelas II SD saja, setelah itu, aku mulai hijrah mengadu nasib di Ibukota -Jakarta Raya- 10 bulan, kemudian mulai kuliah di Bandung sampai 4 tahun lamanya, dan dilanjutkan ke Jakarta lagi selama 6 bulan, sebelum pada akhirnya berlabuh di Kalimantan Timur, dari awal bulan Mei 2013 sampai dengan sekarang..

Radja. Saat ini ia tengah duduk di kelas VI SD, pada bulan Juni 2014 nanti, akan mulai memasuki Sekolah Menengah Pertama. Dengan usia semuda ini, aku banyak menemukan kekaguman dari dirinya. Sebagai manusia berusia hampir 25 tahun ini, aku melihat dan belajar sebuah kebijaksanaan dari anak usia menjelang 12 tahun tersebut, setengah dari umurku..

Ya, setelah ayahnya meninggal. Usai masa iddahnya habis, Mba Eni menikah lagi, dan otomatis Radja mendapatkan ayah barunya. Yang menempa dirinya menjadi seperti sekarang ini adalah karena ternyata ayah barunya tersebut, kelihatannya saja sebagai orang kaya, namun ternyata begitu minim secara pendapatan. Tapi kelebihannya, dan inilah pondasi penting untuk membangun rumah tangga, pemahaman agama ayah barunya Radja ini cukup bagus, sehingga, aku sendiri tidak khawatir mengenai aktivitas ibadah Radja dan juga Mba Eni, insya Allah terjaga sholat lima waktunya..

Kehidupan Radja pasca sepeninggal ayahnya, menjadi tidak jelas, tidak menentu, meski telah ada ayah baru bagi dirinya. Bahkan, Mba Eni dan ayah barunya tersebut, memiliki banyak hutang di mana-mana. Baik yang hutang dengan keluarga besar, maupun dari beberapa kenalan yang mereka punyai..

Waktu berjalan terus, dan sebagai anak seusianya, Radja ternyata mampu menyerap informasi menyesakkan tersebut, bahwa keluarganya yang sekarang tengah bermasalah secara ekonomi, dan banyak hutang. Karena ia memahami realitas tersebut, ia menjadi anak yang bijaksana, tidak rewel meminta ini dan itu, dan selalu menurut saja dengan ibunya..

Bahkan hebatnya, ketika masalah memuncak karena Mba Eni terlalu banyak memiliki hutang, dan kehidupannya semakin tidak karuan, keluarga besar dari pihak Ma’e hampir marah dan menyarankan untuk cerai saja dengan suami yang tidak mampu mensejahterakannya tersebut. Radja tampil sebagai sosok pembela. Tidak membela dengan cara nangis-nangis seperti anak kecil, namun dengan tenang, mengatakan kepada neneknya (Ma’e), “Sudahlah Mak, biarkanlah mamah bertindak semaunya, saya nanti kalau besar yang akan menafkahi Amak dan Intan”. Bayangkan, perkataan ini keluar dari anak yang baru menginjak kelas VI SD. Bahkan jauh sebelumnya, telah banyak hal bijaksana dan mengesankan dari dirinya.

Pernah waktu ia masih kelas V SD, dirinya telah pandai mengirim sms, dan kala itu, aku masih kuliah di Bandung, kami mengobrolkan banyak hal via sms, dan bahasan yang tertulis diantaranya tentang cita-cita dan masa depan. Dengan begitu mantap, ia menuliskan bahwa dirinya ingin menjadi seorang pengusaha. Anak kelas V SD bermimpi menjadi seorang wirausaha? Bukankah benar-benar telah melampaui cara berpikir anak usia SMP, bahkan SMA? Subhanallah..

Melihat Radja yang seperti itu, aku seperti melihat diriku sendiri, tapi tentu saja, Radja lebih tipe “pemikir” daripadaku, namun semangatnya kurang lebih serupa. Oleh karenanya, aku mulai menanamkan impian besar kepadanya. Yakni, harus kuliah S1 di luar negeri, apakah itu ke Mesir, Madinah, atau bahkan Jepang dan Amerika. Aku rasa ini bukanlah hal yang mustahil, enam tahun ke depan, aku yakin telah banyak mengumpulkan banyak informasi beasiswa yang kupersiapkan untuknya, selain itu, secara finansial, aku rasa bisa membantunya sampai akhirnya nanti ia sendiri yang akan membiayai kuliahnya dengan bekal beasiswa..

Sampai dengan tulisan ini dibuat. Ia setuju, ia mau bermimpi untuk bisa kuliah di luar negeri. Dan aku, adalah salah satu pamannya, yang akan turut mendukung secara penuh serta memperjuangkan siang dan malam, agar impian besar tersebut dapat terwujud. Insya Allah..

Sungguh, aku mencintainya karena sifat-sifat baik yang ada padanya. Sebagai aktivis dakwah, aku tentu tidak akan melepaskan dirinya dan jauh dari adab-adab dan nilai Islam. Pada saat akan masuk SMP nanti, aku akan mencarikan dirinya sekolah Pesantren modern yang fokus mengajarkan ilmu science, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dengan demikian, persiapan secara akademis untuk menyongsong sekolah keluar negeri, tidak akan terasa terlalu berat lagi.

Dinginnya Cisarua BogorSalam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Ahad, 22 Zulhijjah 1434 H/27 Oktober 2013 pukul 16.16 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 19 Muharram 1435 H/23 November 2013 pukul 08.00wita

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: