Pilihlah Jalan sebagai Kader Dakwah*

Pilihlah Jalan sebagai Kader Dakwah*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Bismillah Arabic

Ada banyak kisah mengenai para mahasiswa yang pernah aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK)..

Ada yang memang telah terbiasa aktif di Rohis (Rohani Islam) sekolah tempat asalnya, ada yang karena diajak sama teman, ada yang direkomendasikan oleh orang tua, ada yang karena terpukau dengan kakak tingkatnya, dan lain sebagainya..

Namun, paling tidak, ada satu benang merah yang sama. Mereka yang aktif di LDK adalah mahasiswa-mahasiswa yang memang memiliki kecenderungan merasa nyaman dengan aktivitas di lingkungan masjid, aktivitas keagamaan yang dapat menambah khasanah keilmuan mereka di bidang agama, dan beberapa pertimbangan lain yang mendekati hal tersebut..

Para mahasiswa unyu-unyu tersebut, yang telah terbiasa belasan tahun lamanya hidup dalam lingkungan yang sekuler, sedikit demi sedikit mendapatkan pencerahan dan pemahaman yang lurus terkait pemaknaan keber-agama-annya selama ini..

Syumuliyatul Islam atau yang saya artikan secara bebas dengan “kesuperlengkapan Islam dalam mengatur kehidupan”. Islam itu syumul, lengkap, komprehensif, mencakup semuanya. Islam tidak hanya mengatur hubungan peribadahan antara manusia dengan Tuhannya semata, namun juga manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan alam sekitarnya..

Hubungan antara manusia dengan manusia inilah yang melahirkan banyak cabang persoalan, seperti budaya, politik, ekonomi, militer/perang, pendidikan dan masih banyak lagi..

Dan sebagai orang baru di medan dakwah, biasanya kita baru tersadarkan, dan baru beranjak memperbaiki diri, sambil menyampaikan ilmu yang dimiliki (walau sedikit) kepada orang lain. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “sampaikanlah dariku, walau hanya satu ayat” (al hadist). .

Pemahaman terhadap agama ini, senantiasa bertambah dari waktu ke waktu. Pemahaman yang  terus bertambah tersebut melahirkan konsekuensi pada banyaknya amal yang harus dipraktekkan dalam kehidupan keseharian. Dengan demikian, proses pembelajaran di LDK tersebut akan melahirkan manusia-manusia unggul yang berkarakter. Karakter tersebut diantaranya: 1)salimul aqidah (akidah yang lurus), 2)shahihul ibadah (ibadah yang benar), 3)matinul khuluq (akhlak yang baik), dan seterusnya..

Setelah aktivis dakwah melangkah di pemahaman yang lebih kuat, biasanya akan terdiferensiasi ke berbagai gerakan. Tentu saja pendapat ini lahir dari pengalaman yang dialami selama menjalani empat tahun perkuliahan di Bandung, juga interaksi dengan beberapa gerakan dakwah tingkat mahasiswa di beberapa kota besar di Indonesia..

Sebut saja IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang jelas-jelas berafiliasi dengan Ormas Muhammadiyah, IPNU (Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama) yang jelas-jelas berafiliasi dengan NU, Pemuda Persis (Persatuan Islam) yang jelas-jelas berafiliasi dengan Persis, KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang berafiliasi dengan Jama’ah Tarbiyah, GP (Gerakan Mahasiswa Pembebasan) yang berafiliasi dengan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)..

Saya ingin sebut satu lagi “mbah”nya organisasi ke-Islam-an tingkat kampus, yakni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Dulunya, di masa-masa awal kemerdekaan RI, HMI menjadi basis suara mahasiswa yang menghendaki pemimpin negara haruslah berasal dari kalangan Islamis, karenanya, di tingkat perpolitikan bangsa, HMI menjadi pendukung Partai Masyumi, sebuah partai yang mewakili gerakan Islam untuk berhadapan dengan gerakan sekuler/komunis yang juga begitu kuat bercokol di arena kepemimpinan Republik Indonesia tercinta. Namun, saat ini, saya tidak tahu lagi arah perjuangan HMI sebagai salah satu gerakan mahasiswa Islam, saya terka mereka semakin bergerak ke tengah (yang awalnya di kanan), dan bisa-bisa semakin ke kiri (liberal)..

Tulisan ini, sebenarnya tidak hendak berlarian ke pokok-pokok masalah yang terlalu lebar. Saya hanya sebatas mengamati di arena dalam kampus STKS Bandung dimana terdapat tiga organisasi eksternal yang menamakan dirinya sebagai organisasi mahasiswa ke-Islam-an. Mereka adalah KAMMI, HMI, dan juga GP. Ketiga-tiganya memiliki platform gerakan yang telah kokoh dan terus dikembangkan..

KAMMI fokus pada pembinaan ummat (mahasiswa STKS dan masyarakat sekitar) untuk sadar terhadap pentingnya Islam sebagai the way of life, kemudian tidak antipati terhadap proses politik praktis di tingkat daerah, provinsi hingga sekup nasional. HMI juga fokus pada edukasi politik praktis, namun minim pembinaan keagamaan terhadap lingkungan sekitarnya. Sedangkan GP terus mendengungkan propaganda haramnya demokrasi, sehingga lebih baik mencampakkannya dan mengganti dengan sistem Islam. Slogannya, tak cukup melakukan perubahan dengan mengganti rezim, tapi ganti juga sistemnya. Begitulah, ketiganya terus bergerak, menyampaikan visi dan misi perjuangannya, guna meraih simpati dari masyarakat sehingga mendukung perjuangan gerakannya..

Persoalan berikutnya adalah terkait dengan tarik menarik kader. Ketiganya memang mendakwahi mahasiswa ammah (awam/umum), namun di tingkat tertentu, akan sampai pada beberapa mahasiswa potensial yang rentan untuk dijadikan “rebutan”. Tidak seperti anak kecil yang rebutan mainan, style organisasi dakwah tentu berbeda, lebih elegan, santun dan ilmiah. Tapi masalahnya adalah ketidakenakan hati, ketika satu organisasi telah berusaha mengkader dengan sekuat tenaga, ternyata malah pindah ke organisasi satunya. Memang tidak ada paksaan untuk terus menetap di salah satu organisasi, tapi itulah faktanya, ada rasa jengkel, meski tidak sampai pada titik benci (kalau sampai benci, keikhlasannya dalam berdakwah perlu dicek)..

Patut diingat, tugas kita hanyalah menyampaikan dengan strategi tertentu, sedangkan hasil akhirnya adalah kita serahkan kepada Allah saja. Selama organisasi dakwah tersebut mengajak kepada kebaikan dan terus menerus menduplikasi kebaikan tersebut, biarkanlah ia aktif di mana saja. Yang menjadi fokus adalah kerjasama bahu membahu untuk melawan kekuatan Barat (Yahudi dan antek-anteknya), juga menanggulangi keroposnya pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya sendiri. Bukankah kita telah bisa melihat dengan nyata. Mengaku wanita mukmin, tapi enggan menutup aurat (memakai hijab). Mengaku kaum muslim, tapi dengan entengnya meninggalkan sholat, memakan harta riba, minum minuman keras serta berjudi, bahkan berzina secara nyata (di komplek pelacuran maupun pacaran). Ini sungguh masalah besar yang patut dipikul bersama..

Sebagai aktivis dakwah, kita begitu meyakini bahwa hadist dari Rasulullah terkait Khilafah yang akan segera tegak kembali di muka bumi, dan saat ini, kita tengah sama-sama berjuang menjadi batu-bata pondasinya, bahkan turut serta menjadi tukang bangunannya..

Oleh karena itu, tak perlu risau ketika sahabat dekatmu yang dahulunya satu pergerakan, kemudian terpisah akibat perbedaan cara pandang dalam berjuang. Kita di sini tetap berjuang, dan ia di sana pun tetap berjuang. Yang kita hindari adalah celah untuk kembali berbalik ke belakang (melempar hukum Islam di balik punggungnya), bahkan menjadi pembenci aktivis-aktivis Islam. Lebih mengerikan lagi ketika orang tersebut terjangkiti virus SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme Agama dan Liberalisme), sehingga membela kelompok-kelompok sesat, dan mengecap para syuhada sebagai Teroris, tsumma na’udzubillah..

Mulai dari pertama kali engkau bersinggungan dengan aktivitas dakwah, sekarang dan sampai liang lahat menjadi tempat terakhir peristirahatanmu, istiqomah, Pilihlah Jalan sebagai Aktivis Dakwah!!!

Joe di KukarSalam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Sabtu, 14 Zulhijjah 1434 H/19 Oktober 2013 pukul 17.20 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Selasa, 08 Muharram 1435 H/12 November 2013 pukul 08.00wita

Comments
One Response to “Pilihlah Jalan sebagai Kader Dakwah*”
  1. Andre says:

    Reblogged this on Museum Pribadi and commented:
    dakwah saya rindu dengan lingkaran itu

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: