Aku, KAMMI dan Dakwah

Pada saat pertama kali mengikuti Dauroh Marhalah 1 KAMMI di Lembang Bandung

Bismillah Arabic

Aku, KAMMI dan Dakwah

Lebih dari 20 tahun selama aku hidup di dunia, tidak sempat terbesit sedikit pun diri ini akan mengabdikan diri dalam gerakan dakwah. Dulu bagiku yang namanya agama dengan cita-cita dunia itu adalah sesuatu yang terpisah. Agama hanya mengatur manusia untuk lebih dekat dengan Tuhannya dengan jalan beribadah. Sebagai seorang muslim, rambu-rambu agama ini dapat menjadikan manusia untuk lebih sering ke masjid, puasa sunnah, sholat malam, dan pandai berceramah. Itu memang benar adanya, namun belum cukup untuk memahami agama Islam yang syumul (menyeluruh) ini. Aku juga masih teringat dulu saat ada seorang akhwat yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai idolanya. Hah, darimana bisa jadi idola? Beliau sudah wafat lebih dari 14 abad silam, dan tentu saja aku tidak mampu untuk mengenali beliau, sehingga apa yang bisa kuidolakan dari Rasulullah?..

Kader KAMMI STKS Bandung (Sulaeman, Joko, Afdhal)

Kader KAMMI STKS Bandung di Monas Jakarta Pusat (Sulaeman, Joko, Afdhal)

Begitulah, seseorang terbentuk dari lingkungannya, dan lingkungan yang membentuk diriku dulu adalah lingkungan yang memang memisahkan antara perkara agama dan kehidupan (meski tidak disadari secara langsung). Begitu jarang kisah-kisah Rasulullah dan Sahabat yang dibacakan, diganti dengan kisah-kisah kancil yang cerdik namun untuk “mengakali” orang lain dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Interaksi antara laki-laki dan perempuan yang belum halal juga tak pernah dipahamkan, bahkan yang lebih pokok dari itu, mengenai batasan aurat pun tidak aku pahami secara jelas dan gamblang. Setahuku dulu ketika ada perempuan yang berkerudung memang terkesan lebih anggun dan cantik, tapi jika tidak mengenakannya ya tidak apa-apa, padahal ia seorang muslimah. Dan ternyata hal-hal demikian itu kan perintah dari Allah untuk makhluk-Nya..

Diri yang masih belajar ini mencoba memaparkan firman-Nya yang menerangkan bahwa Rasulullah dan Generasi Sahabat memang pantas untuk kita idolakan dan ikuti perbuatan mulianya. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S. al Ahzab/33:21). Dan tentu saja suri tauladan itu akan senantiasa masih relevan dengan zaman sekarang, tidak seperti tuduhan dari orang-orang Liberal yang menganggap bahwa al Qur’an saja sudah tidak orisinil. Semoga mereka masih diberikan kelapangan dada untuk menerima petunjuk dan hidayah, amiin..

Terkait kecenderunganku pada medan dakwah ini, maka Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menjadi tempat bernaung yang tepat untuk bisa lebih memperdalam ilmu agama serta mengambil peranan strategis dalam upaya pembenahan tatanan sistem negara Indonesia yang butuh sentuhan Islami sehingga mampu memunculkannya menjadi sebuah negara besar, adil, damai, dan sejahtera. InsyaAllah..

Memang benar, aku mengenal kecemerlangan arena dakwah ini saat pertama kali berkenalan dengan KAMMI. Saat itu di bulan Oktober 2011, saat diriku mulai menginjak tingkat IV di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Sungguh, tiga tahun sebelumnya, aku hanyalah seorang mahasiswa biasa-biasa saja yang tidak terlalu memperdulikan amal jama’i dalam rangka menegakkan dien ini di muka bumi..

Ya, kuakui bahwa keterlibatanku di KAMMI membuka cakrawala dakwah yang begitu luas. Dimulai dengan pemurnian akidah (salimul aqidah), dilanjutkan dengan pelaksanaan tata cara ibadah yang benar (shahihul ibadah), kemudian akan mampu melahirkan akhlak yang bagus (matinul khuluq). Uniknya, KAMMI meski rasa perjuangan dakwahnya begitu kental terasa, namun ternyata berbeda dengan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) yang bisa kita temui, dan dalam hal ini kuperbandingkan dengan LDK di STKS Bandung, sungguh berbeda..

KAMMI mampu menawarkan cita rasa dakwah yang dibalut dengan kesadaran aktivitas politik di tingkat daerah hingga nasional. Jaringan kolega dakwah yang berada hampir di setiap kampus di seluruh wilayah Indonesia, menjadikannya kaya sumber daya manusia dan hal unik untuk mendukung proyek dakwah di masa sekarang dan masa depan..

Buku mantuba (manhaj tugas baca) yang diwajibkannya pun terstruktur secara rapi, terkait akidah, ibadah, ghozwul fiqr, dan fiqh kenegaraan, hingga berbagai macam pemikiran asing dari luar. Di KAMMI juga aku diajarkan untuk bersikap open minded, tak mudah menyalahkan pendapat orang lain, namun mempertahankan pendapat yang berdasar hujjah dari Qur’an dan Sunnah..

Pengalaman berada dalam jama’ah dakwah di KAMMI juga menyimpan kenangan manis tentang arti sebuah ukhuwah, persaudaraan yang saling mencintai dan mengasihi karena Allah ta’ala. Dan begitu jelas, persaudaraan itu tak akan pernah luntur, tak akan pernah hilang, dan bahkan kian menebal dari hari ke hari. Beban-beban dakwah semakin berat, masing-masing diri kita harus menjadi bagian untuk memikulnya, dengan tercapainya izzul wal muslimin, insya Allah..

*****

NB: Tulisan ini diikutsertakan pada lomba menulis pengalaman dakwah yang diadakan oleh bersamadakwah.com

*****

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 07 Muharram 1435 H/11 November 2013 pukul 12.45wita

Comments
One Response to “Aku, KAMMI dan Dakwah”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: