Worldview Islam in Tolerance (Studi Kasus Sikap Kaum Muslimin terhadap Ahmadiyah, Syi’ah, dan Pluralisme Agama)*

Worldview Islam in Tolerance (Studi Kasus Sikap Kaum Muslimin terhadap Ahmadiyah, Syi’ah, dan Pluralisme Agama)*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Dari Abu Ruqoyyah Tamiim bin Aus Ad-Daari rodhiyallohu’anhu, sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Agama itu adalah nasihat”. Kami (sahabat) bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau bersabda: ”Untuk Alloh, kitab-Nya, rosul-Nya, pemimpin-pemimpin umat Islam, dan untuk seluruh muslimin.” (HR.Muslim)

Mukaddimah

Tulisan ini dibuat secara khusus untuk insan-insan yang selalu terus belajar, memperbaiki diri dan berusaha mendekat kepada Rabb-nya, tanpa rasa lelah ataupun gundah. Tulisan ini hendak mengupas secara ringkas mengenai pandangan Islam terhadap beberapa penyimpangan dan pengaburan atas pemahaman manhaj Islam yang lurus dan lengkap.

Beberapa istilah seperti Islam Fundamental, Islam Teroris, dan atau Islam Moderat merupakan penyebutan yang disematkan oleh kaum para pembenci Islam. Istilah-istilah tersebut menjadikan umat muslim dikotak-kotakkan, sehingga tidak bisa bersatu dan bahkan hingga sampai bermusuhan.

Islam adalah agama paripurna yang memberikan arahan dan pedoman hidup manusia untuk mencapai kebahagian dan kemakmuran di dunia, juga di akhirat kelak. Islam mengatur hal-hal mulai A sampai Z, dari ujung kaki sampai ujung kepala, dari budaya sampai politik, dan lain sebagainya.

Diri kita sebagai sang pembelajar sepanjang zaman ini sadar diri bahwa pemahaman terhadap agama Islam itu kita dapatkan dari para guru ngaji, kyai, dan atau ulama. Merekalah pewaris risalah Nabi.

Dalam ajaran Islam, ulama menempati posisi sentral. Kata Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam: ”Ulama adalah pewaris para nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak juga dirham, melainkan mereka hanya mewariskan ilmu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah).

Nabi juga memposisikan para ulama laksana bintang yang menjadi tempat umat mendapat bimbingan dan petunjuk. Melalui para ulama itulah, kini kita mewarisi risalah Nabi. Kita sekarang memahami Al-Quran dan tafsirnya, hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, juga ilmu-ilmu keagamaan lainnya, melalui jasa para ulama. Melalui Imam Syafi’i, misalnya, kita memahami ilmu ushul fiqih, tentang bagaimana cara menetapkan hukum dalam Islam.

Keteguhan dan ketinggian ilmu para ulama itulah yang berjasa besar dalam menjaga kemurnian agama Islam yang kita warisi dewasa ini. Karena itu, betapa risaunya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam terhadap ulama-ulama yang jahat (al-ulama al-su’). Kata Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam: ”Seburuk-buruk manusia adalah ulama yang buruk.”

Kerusakan ulama adalah kerusakan Islam. Ulama jahat adalah ulama yang bodoh tetapi berani memberi fatwa atau ulama yang menjual agamanya untuk kepentingan dunia. Imam al-Ghazali dalam Kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, memberikan penjelasan panjang lebar seputar bahaya ulama-ulama jahat, yang disebutnya sebagai ’ulama dunia’.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: ”Di akhir zaman akan ada para ahli ibadah yang bodoh dan para ulama yang jahat.” (HR at-Tirmidzi). Ulama adalah orang yang faqih fid-din, dan sekaligus orang yang bertaqwa kepada Allah. Tetapi, ulama yang jahil, ia lebih berbahaya bagi umat manusia.

Sejatinya, kejahilan bisa dilihat dalam dua fenomena: kejahilan yang ringan dan kejahilan yang berat. Kedua kejahilan itulah yang sesungguhnya menjadi sumber penyebab kesalahan, penyimpangan, kesesatan dan juga kejahatan manusia di muka bumi ini.

Kejahilan ringan adalah kurangnya ilmu tentang sesuatu yang seharusnya diketahui (ignorance). Mereka belum memperoleh informasi tentang kebenaran (al-Haq) sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali melakukan apa yang mereka ketahui sebagai suatu kebenaran. Rasulullah membiarkan seorang Badui (Arab Gunung) yang kencing di dalam masjid. Meski Umar begitu marah besar, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mencegah dan hanya meminta para sahabat untuk menyiram menggunakan ember.

Tapi ada kejahilan berat, yaitu kekacauann ilmu (confusion of knowedge). Kejahilan jenis ini terjadi bukan karena kekurangan ilmu, tetapi karena ilmu yang salah, ilmu yang kacau. Ilmu yang benar adalah yang seharusnya mengantarkan kepada keyakinan dan kebenaran yang hakiki. Tetapi, ilmu yang rusak, justru mengantarkan kepada keraguan. Para pemilik ilmu yang salah ini akan menolak kebenaran, meskipun telah sampai padanya informasi tentang kebenaran (al-Haq) dengan hujjah yang meyakinkan dan dari sumber-sumber yang terpercaya.

Di sini, kita baru saja membahas mengenai ulama dan keutamaannya. Oleh karenanya, dalam pembahasan berikutnya, kita tidak bisa berlepas diri dari para pendapat ulama, doktor dan profesor yang dapat kita jadikan rujukan dalam membahas tema-tema yang lebih spesifik dan kompleks. Termasuk juga, tulisan ringkas ini juga banyak mencatut pemikiran para orang-orang berilmu tersebut.

Memaknai Toleransi, Memupuk Ukhuwah, Memperkuat Persatuan

Sikap toleransi dapat kita artikan sebagai sebuah sikap menerima perbedaan, saling menghargai, tetap bisa saling bekerja sama, serta hidup berdampingan secara harmonis tanpa harus berperang atau saling membunuh satu sama lain. Sikap toleran umat Islam telah ditunjukkan oleh qudwah terbaik sepanjang masa, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam dan juga para sahabat. Bahkan, sikap tersebut dengan jelas dan tegas ditunjukkan ketika beliau menjabat sebagai kepala negara di Madinah. Piagam Madinah, adalah bukti yang sangat nyata atas sikap toleransi tinggi kaum muslimin terhadap kepercayaan agama di luar Islam. Kaum muslimin, Yahudi, Nasrani dan Majusi tetap bisa hidup berdampingan dengan hak-hak sesuai kadarnya di dalam pemerintahan.

Allah telah menyematkan predikat terbaik bagi kaum muslimin dan memujinya seperti yang dapat kita temui di dalam ayat-ayat Al Qur’an. “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. . .” (Q.S Al Fath: 29). Tapi di sisi lain, berdasarkan rahmat-Nya, kita menjadi begitu sabar dan lembut dalam berdakwah. Firman Allah, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. . .” (Q.S Ali Imran: 159). Sikap yang begitu terang layaknya cahaya matahari di terik siang ditunjukkan oleh kaum muslimin, yakni keras terhadap orang-orang kafir (yang memusuhi dan memerangi kaum muslimin), namun begitu lemah lembut terhadap saudaranya seiman.

Namun, lain ceritanya ketika terjadi berbagai penyimpangan dan pengaburan atas agama Islam yang lurus dan murni. Kemunculan Nabi baru, pemalsuan ayat Al Qur’an dan Hadist, serta penyamaan semua agama itu benar dan akan diganjar surga oleh Allah adalah pemikiran-pemikiran yang harus mendapatkan pencerahan. Selain itu, sikap mencela dan mengkafirkan para sahabat terbaik, menafsirkan Al Qur’an tanpa kaidah ilmu yang diwariskan para salafush shalih, hingga memisahkan agama dengan kehidupan juga merupakan penyimpangan yang harus dihentikan.

Di sinilah kita akan bersama-sama membahas tentang penyimpangan-penyimpangan tersebut, disertai dengan sikap yang patut ditunjukkan oleh kaum muslimin terhadap perbedaan dan penyimpangan pemikiran yang berpotensi besar dapat mencederai iman, dan pada akhirnya mengundang kemurkaan dari Allah subhanahu wata’ala. Naudzubillahi min dzalik..

Sikap Terhadap Ahmadiyah

Ahmadiyah merupakan kelompok aliran sesat yang tidak bisa disebut sebagai bagian dari umat Islam. Hal tersebut dikarenakan perbedaan pokok (ushul) terkait keimanan atau akidah. Sebagai seorang muslim, paket dari konsekuensi keimanan, salah satunya adalah syahadatain. Yakni mengakui Allah sebagai Rabb dan Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam sebagai Nabi yang terakhir, penutup para Nabi. Sedangkan Ahmadiyah, dalam berbagai kitab literaturnya, secara jelas mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi.

Adapun ikhtisar terkait Ahmadiyah ini yaitu:

  • Masalah utama penunjuk kesesatan Ahmadiyah oleh MUI pada November 2007 itu adalah karena keyakinan akan kenabian Mirza Ghulam Ahmad;
  • Ahmadiyah menafsirkan Al Qur’an dan hadist sesuai keyakinan mereka;
  • Ahmadiyah menganggap sesat orang yang tidak mengimani Mirza GA dan tidak mengizinkannya sebagai imam sholat;
  • Umat Islam dan dunia Islam sejak dulu bersikap tegas terhadap kesesatan semacam ini;
  • Oleh karenanya, pemerintah harus bertindak tegas terhadap kelompok merusak agama orang lain.

Terjadinya tindak kekerasan hingga pengrusakan tempat tinggal dan tempat ibadah adalah alasan kuat mengapa ada beberapa pihak yang membela Ahmadiyah. Namun anehnya, yang dibela ternyata tidak sebatas pembelaan terhadap orang yang terdzalimi (sebagai korban kekerasan/anarkisme), namun juga termasuk pembebasan untuk terus menista agama Islam ini. Padahal, para pendukung tersebut juga mengaku Islam dan paham akan ajaran agama Islam.

Padahal, kalau kita mau melihat lebih jauh, sebagai orang terdidik dan terpelajar, serta patuh akan aturan hukum. Negara telah mengaturnya, yang termuat dalam UU PNPS No.1 tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Dimana, pasal 1 disebutkan sebagai berikut: “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceriterakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatankegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu”. Kemudian, pada pasal-pasal berikutnya dijelaskan secara lebih lanjut terkait sanksi atas pelanggaran dari undang-undang tersebut.

Kita sama-sama sepakat, bahwa perlakuan tindak kekerasan bukanlah tabiat dari masyarakat Islam. Namun, jangan juga lupa, bahwa Islam juga mewajibkan Jihad di medan perang, merajam pelaku zina dan menghukum mati orang yang murtad. Bisa jadi, aturan tersebut oleh orang yang telah terjangkit penyakit SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme Agama, dan Liberalisme) akan membantah dan mengecap sebagai tindakan kekerasan yang tidak sesuai dengan asas-asas Hak Asasi Manusia (HAM).

Apalagi, ini terkait dengan penyelamatan akidah, juga merupakan langkah untuk menyelamatkan agama dari rongrongan penistaan yang tidak dapat dibiarkan begitu saja. Kasus kekerasan yang terjadi dan dapat kita simak di televisi tersebut, hanyalah asap dari api yang sedari awal sudah ada duluan sebagai sebab. Dan hal mendasar untuk menanggulangi konflik tersebut hanya ada dua pilihan: 1)Ahmadiyah tidak menyatakan diri sebagai bagian dari umat Islam, ketika masih menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi; dan 2)Umat Ahmadiyah segera bertaubat dan kembali kepada salimul akidah (akidah yang lurus dan bersih) seperti yang telah diajarkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad shallallahu a’alayhi wasallam.

Umat Islam sangat cinta damai. Tetapi, umat Islam lebih cinta kepada kebenaran (Dr. Adian Husaini)

Sampai berhenti di tulisan ini, saya telah menghabiskan satu setengah jam, sejak pukul 00.01wita sampai dengan 01.30wita. Istirahat dulu, besok dilanjut lagi ^^ Oyasuminasai

Sikap Terhadap Syi’ah

Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam: “Apabila telah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”. (Dikutip oleh K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi, hal.7).

Ulama besar, Abd al-Qahir al-Baghdadi (m. 429H/1037M), dalam kitabnya, al-Farq Bayn al-Firaq, menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah wal-Jama’ah (Aswaja) terdiri atas delapan (8) kelompok: (i)Mutakallimun, atau Ahli ilmu Tawhid, (ii)Ahli Fiqh aliran al-Ra’y dan al-Hadith, (iii)Ahli Hadis, (iv)Ahli Ilmu Bahasa, (v)Ahli Qiraat dan Tafsir, (vi)Ahli Tasawwuf, (vii)Para Mujahidin, dan (viii)Masyarakat awam yang mengikut pegangan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah.

Dalam al-Farq Bayn al-Firaq juga dijelaskan tentang kesesatan golongan Mu’tazilah, Qadariyyah, Jabariyyah, Batiniyyah, Khawarij, Syi’ah, dan al-Hasywiyyah. Abd al-Qahir al- Baghdadi menjelaskan 15 perkara yang menjadi prinsip dalam menyikapi dengan tegas golongan sesat (ahl-al-ziyagh). Ulama Aswaja menerima sifat-sifat Allah yang dinyatakan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dan menerangkan kesesatan golongan Mu’tazilah yang menolak sifat-sifat itu yang bagi mereka tidak dapat diterima oleh akal rasional, sehingga mengatakan bahwa kalam Allah adalah makhluk.

Dalam Teks Aqidah juga dijelaskan tentang otoritas para Sahabat Nabi, Ulama, dan para imam. Prinsip ini berbeda dengan golongan Syiah yang menolak kepimpinan al-Khulafa’ al-Rasyidun selain Sayyidina ‘Ali r.a. Para ulama Aswaja mengakui semua imam Khulafa’ al-Rasyidun tanpa prejudis. Aswaja juga sepakat bahwa kepimpinan setelah Rasulullah shallalahu ‘alayhi wasallam dilakukan melalui pemilihan al-ikhtiyar dan bukan melalui nash (teks).

Mereka juga sepakat bahwa para imam yang empat (mazhab fiqh) adalah yang imam-imam yang mu’tabar (otoritatif). Perbedaan antara mereka adalah perbedaan khilafiyyah yang dibenarkan, dan ijtihad yang satu tidak membatalkan ijtihad yang lain. Hal yang sama harus digunakan dalam menyikapi perbedaan antara al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah dalam masalah teologi dan tasawuf. Jika Ibn Taymiyyah berbeda dan mengkritik al-Ghazali, umat Islam tidak harus menganggapnya sebagai satu bentuk penyesatan, melainkan satu ijtihad yang boleh jadi benar boleh jadi salah (al-khata’ wa al-sawab), bukan persoalan al-haq (benar) dan al-batil (sesat).

Terkait dengan perbincangan kita (Joko Setiawan dan Bambang Setyobudi) di akun Facebook. Kita tengah membahas mengenai pandangan ulama terhadap keberadaan Syi’ah, dan bagaimana sikap seorang muslim yang seharusnya diperbuat. Maka, muncullah nama Dr. Quraish Shihab sebagai ulama yang ditengarai bersikap lembut atau netral terhadap Syi’ah. Oleh karenanya, untuk meneruskan pembahasan kali ini, saya akan membawa satu contoh kasus pembahasan yang telah dibahas oleh para tokoh-tokoh sebelumnya. Yakni, pandangan terhadap buku Dr. Quraish Shibah yang berjudul “Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” yang terbit pada bulan Maret tahun 2007.

Penanggap terhadap buku tersebut datangnya dari Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI, Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan-Jawa Timur, yang dikomandani oleh Ahmad Qusyairi Ismail. Menurut Dr. Adian Husaini, buku tanggapan atas buku dari Dr. Quraish Shihab yang berjudul “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (‘Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?’)” ini memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi, dan terbitnya pun cukup cepat, yakni pada bulan September 2007, sedangkan bukunya Dr. Quraish Shihab terbit pada bulan Maret 2007.

Salah satu kesimpulan Dr. Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda. ”Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab -dimana pun ditemukan- adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).

Pendapat di ataslah yang kemudian golongan Syi’ah sangat senang dengan pandangan beliau karena begitu menguntungkan bagi perkembangan ajarannya (hal ini dapat kita lihat dengan mengambil komentar saudara Muhammad Ichsan –mengaku sebagai kader Syi’ah imamiyah itsna asy’ariyah- yang turut nimbrung di perbincangan kita beberapa hari yang lalu). Namun benarkah demikian adanya? Mengingat bahwa perbedaan yang ada antara umat Islam dengan Syi’ah tidak hanya pada perbedaan hal furu’iyyah, namun juga hal ushul terkait keimanan seorang mukmin. Adapun beberapa hal yang ditanggapi dari pendapat Dr. Quraish Shihab, beberapa contohnya sebagai berikut: 1)Tentang Abdullah bin Saba’; 2)Tentang hadist Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dan Abu Hurairah r.a.; dan juga 3)Tentang pengkafiran Ahlussannah.

Dari pembahasan ringkas ini, dapat saya katakan secara jelas bahwa tidak ada satu kalimat pun yang mengatakan bahwa Dr. Quraish Shihab adalah seorang Syi’ah. Pendapat yang demikian adalah karena terburu-buru oleh nafsu, dan semoga Allah mengampuni atas sikap tergesa-gesa tersebut, pada siapapun ia terlaksana. Kita, sedang mengkritik pandangan dari ulama besar yang telah merilis tafsir Al Misbah, sebuah tafsir Al Qur’an yang patut kita banggakan dan hargai keilmuan yang mampu mencerdaskan ummat tersebut. Namun, bukan berarti kemudian seseorang menjadi anti kritik dan merasa paling benar sendiri. Seperti yang telah kita bahas di sesi-sesi sebelumnya, bahwa otoritas keilmuan itu terjaga pada ulama, sang penerus risalah Nabi dan Rasul. Tentu saja ini berdasarkan dengan asas-asas dan metode keilmuan dalam Islam dan pendapat tersebut kuat berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah.

Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. Pondok Pesantren Sidogiri juga menghimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana ”Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.

Buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ‘ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hukum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).

Maka, kesimpulannya adalah telah jelas, bahwa akidah kaum muslimin harus diselamatkan dari pemikiran-pemikiran dan pandangan yang menyimpang dari kebenaran alias penyesatan. Kita tidak sedang berbicara mengenai pengumandangan perang secara fisik terhadap kaum Syi’ah. Namun berusaha menghentikan tindakan mereka atas pencaci-makian para sahabat yang mulia, mencaci ummul mukminin Aisyah r.a, penghalalan nikah mut’ah yang telah diharamkan sejak masa Rasulullah karena begitu merugikan pihak wanita, hingga pemahaman mereka terhadap kiblat yang bukan lagi di Mekah al mukaromah, melainkan di Karbala, Iran.

Kita, di sini tengah berbicara mengenai pemahaman akidah Islam yang lurus. Aliran semacam Syi’ah karena bersinggungan kuat dengan Islam dan banyak kontroversial di dalamnya, baik cabang maupun pokok, harus segera diluruskan.

“Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syi’ah” (KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri)

Sikap Terhadap Pluralisme Agama

Majelis Ulama Indonesia, pada tahun 2005 telah resmi mengeluarkan fatwa, bahwa paham Pluralisme Agama adalah bertentangan dengan Islam dan haram bagi umat Islam memeluknya. Pluralisme Agama didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Tuhan -siapa pun namanya- tidak menjadi masalah.

Argumentasi kaum Pluralis Agama -bahwa “semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama”- jelas-jelas juga pendapat yang bathil. Jika semua jalan adalah benar, maka tidak perlu Allah memerintahkan kaum Muslim untuk berdoa “Ihdinash shirathal mustaqim!” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus!). Jelas, dalam surat al-Fatihah disebutkan, ada jalan yang lurus dan ada jalan yang tidak lurus, yaitu jalannya orang-orang yang dimurkai Allah dan jalannya orang-orang yang tersesat. Jadi, tidak semua jalan adalah lurus dan benar. Ada jalan yang bengkok dan jalan yang sesat.

Gagasan yang menyamakan agama bukanlah berasal dari ajaran Islam. Ada 4 kelompok yang menyuarakan kesamaan agama. Pertama, Gagasan Humanisme Sekular. Kedua, Gagasan Teologi Global. Ketiga, Ajaran Sinkretisme. Keempat, ajaran Hikmah Abadi. (Untuk lebih detil mengenai ke-empat kelompok tersebut, lihat Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis (Jakarta: Gema Insani Press, 2005).

Biasanya gagasan menyamakan agama dibangun di atas sebuah asumsi bahwa agama-agama memiliki ”Tuhan yang sama.” Gagasan kesamaan Tuhan adalah keliru karena sebenarnya masing-masing agama memiliki konsep Tuhan yang ekslusif atau berbeda satu sama lain. Allah S.W.T. menegaskan siapa yang menganggap bahwa Nabi Isa as adalah Tuhan termasuk orang-orang kafir. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam.” (QS Al-Maidah: 72). Selain itu, Allah SWT juga berfirman yang artinya: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa.” (QS Al-Maidah: 73). Jadi, gagasan titik-temu agama-agama pada level esoteris pun terdapat perbedaan mendasar antara Islam dengan agama-agama lain.

Dari paparan singkat ini, maka telah jelaslah bahwa menyamakan semua agama adalah benar dan akan mencapai surganya Allah adalah sebuah pemikiran yang keliru. Secara akidah, kita harus membentengi diri, dan meyakini bahwa hanya Islam-lah sebagai jalan keselamatan, tidak ada agama lain yang diridhoi oleh Allah selain Islam. Namun tentu saja, secara muamalah atau hubungan interaksi dengan pemeluk agama lain, kita sudah tahu dan paham bahwa Islam begitu lemah lembut terhadap mereka, asal mereka tidak memulai fitnah dan permusuhan yang nyata. Cukuplah Konstitusi Madinah di 14 abad silam menjadi contoh terbaik bagi kita semua.

Mengokohkan Semangat Keilmuan

Kedudukan akal dalam Islam menempati posisi yang sangat terhormat, melebihi agama-agama lain. Sebagai risalah Ilahiyyah terakhir, Islam mempersyaratkan kewajiban menjalankan agama bagi orang yang berakal. Artinya, orang yang hilang akalnya tidak diwajibkan mengerjakan perintah atau menjauhi larangan-Nya. Penghargaan terhadap akal yang sedemikian agung dalam Islam, bukan berarti akal dibiarkan bebas  berkelana  liar  tanpa  batas  dan  arahan,  terutama  saat  berhadapan  dengan ketentuan wahyu.

Dalam  aliran  teologi  Islam,  dikenal  madzhab Mu’tazilah  yang  kerap  kehilangan  kendali  dalam pengagungannya terhadap kedudukan akal. Bahkan seringkali wahyu pun harus “tunduk” mengikuti kehendak akal manusia, seperti terlihat jelas dalam konsep baik dan buruk menurut Mu’tazilah yang didasarkan pada akal, ketidakberdayaan Tuhan melakukan hal-hal yang “buruk“, hingga urusan surga dan neraka yang seharusnya menjadi hak mutlak Tuhan pun di atur oleh akal. Penghargaan  berlebihan  terhadap  akal  juga  sangat  mendominasi  prinsip-prinsip  keimanan Mu’tazilah  yang  lima  (al-ushul al-khamsah),  seperti  prinsip  tauhid,  adil,  janji  dan  ancaman, kedudukan di antara dua kedudukan dan amar ma’ruf nahi munkar.

Berbicara mengenai Islam dan sejarahnya sepanjang perjalanan sampai dengan hari ini, akan ditemukan begitu banyak fenomena yang begitu dahsyat mengguncang ummat. Peradaban yang gemilang di masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam lambat laun turun pada derajat terendah, kemudian naik lagi dan bahkan berjaya ketika Islam mampu menyebarkan fikrahnya di bumi Spanyol, yang kemudian membangun peradaban keilmuan yang gemilang. Di masa inilah terdapat raturan bahkan ribuan ilmuan muslim yang penemuan keilmuannya banyak dicuri dan diakui oleh ilmuwan Barat, malah sampai diakui sebagai penemuan mereka. Jatuh dan bangunnya peradaban ini senantiasa dipergilirkan oleh Allah untuk memberikan pelajaran kepada manusia.

Menurut Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, al-Ghazali lebih menfokuskan pada upaya mengatasi masalah kondisi umat yang layak menerima kekalahan. Di sinilah, al-Ghazali mencoba mencari faktor dasar kelemahan umat dan berusaha mengatasinya, ketimbang menuding-nuding musuh. Menurut al-Ghazali, masalah yang paling besar adalah rusaknya pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkaitan dengan aqidah dan kemasyarakatan. Al-Ghazali tidak menolak perubahan pada aspek politik dan militer, tetapi yang dia tekankan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak, dan perubahan diri manusia itu sendiri. Untuk itu, al-Ghazali melakukan perubahan dimulai dari dirinya sendiri dahulu, kemudian baru mengubah orang lain.

Melalui kitab-kitab yang ditulisnya setelah merenungkan kondisi umat secara mendalam, al-Ghazali sampai pada kesimpulan bahwa yang harus dibenahi pertama dari umat adalah masalah keilmuan dan keulamaan. Oleh sebab itu, kitabnya yang terkenal dia beri nama Ihya’ Ulumuddin. Secara ringkas dapat dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs dan jihad melawan musuh dalam bentuk ’qital’ dengan baik. Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad menekankan pentingnya mensimultankan berbagai jenis potensi dalam perjuangan umat, baik potensi jiwa, harta, dan juga keilmuan.

Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu melihat masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya Ulumuddin, al-Ghazali juga menekankan pentingnya masalah ilmu dan akhlak. Ia membuka Kitabnya itu dengan “Kitabul Ilmi” dan sangat menekankan pentingnya aktivitas ’amar ma’ruf nahi munkar’. Aktivitas “amal ma’ruf dan nahi munkar”, kata al-Ghazali, adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Ia adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar’ hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan.

Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang jahat. Sebab, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya. Nabi Muhammad saw memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan baik. Bahkan, Rasulullah saw mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah saw. Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim)

Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dilakukan oleh ulama-ulama su’, atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tidak ditolerir sama sekali, dan senantiasa mendapatkan perlawanan yang kuat, secara ilmiah. Karena itulah, kerusakan dalam bidang keilmuan harus mendapatkan perhatian dari umat Islam. Apalagi jika kerusakan ilmu itu terjadi di jajaran lembaga-lembaga pendidikan Islam yang diharapkan menjadi pusat perkaderan ulama dan pemimpin umat.

Wallahu a’lam bisshowab. Segala kesalahan datangnya dari saya pribadi, dan segala yang benar datangnya dari Allah azza wa jalla. Semoga Allah melimpahkan taufik wal hidayah, wa ridho wal inayah kepada kita semua, wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

 *****

Daftar Pustaka dan Sumber Bacaan Lanjutan:

-Al Qur’anul kariim

-Syahrul Arba’iina Hadistan An Nawawiyah

-Makalah “Korupsi Ilmu” oleh Dr. Adian Husaini

-Makalah “Piagam Madinah dan Toleransi Beragama” oleh Dr. Adian Husaini

Mengenal Ahmadiyah, Bunga Rampai dari K.H.A. Cholil Ridwan; Dr. Saharuddin Daming; Dr. Adian Husaini, dan Ahmad Rofiqi, Lc., M.Pd.I. Diterbitkan oleh Pusat Studi Agama-Agama, Jakarta: 2011

Kritik dan Solusi Syi’ah di Indonesia, Bunga Rampai dari Dr. Khalif Muammar, M.A; Bahrul Ulum; dan Dr. Adian Husaini. Diterbitkan oleh Adabi Press, Jakarta: 2012

-Makalah “Akal dan Posisinya dalam Islam, Kritik terhadap Rasionalisme Mu’tazilah versi Prof. Dr. Harun Nasution”, oleh Henri Shalahuddin, M.A.

-Makalah “Jatuh Bangunnya Peradaban” oleh Dr. Adian Husaini

-Makalah “Konsep Islam sebagai Agama dan Wahyu” oleh Dr. Adian Husaini

-Makalah “Pluralisme Musuh Agama-Agama” oleh Dr. Adian Husaini

-Makalah “Freemason dan Gagasan Pluralisme Agama” oleh Admin Armas, M.A.

-Makalah “Pluralisme Agama: Sebuah Faham syirik Kontemporer” oleh Adnin Armas, M.A.

-Makalah “Liberalisasi Pendidikan Tinggi” oleh Dr. Adian Husaini

-Makalah “Liberalisasi Islam di Indonesia” oleh Dr. Adian Husaini

-Makalah “Islam versus Kebebasan/Liberalisme”, Bunga Rampai Dr. Hamid Fahmy Zarkasy; Dr. Syamsuddin Arif; Nu’im Hidayat, M.Si; Dr. Adian Husaini, dan Susiyanto. Diterbitkan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta: 2010

Seputar Paham Kesetaraan Gender, Kerancuan, Kekeliruan dan Dampaknya, oleh Dr. Adian Husaini. Diterbitkan oleh Adabi Press, Jakarta: 2012.

Jihad Melawan Tipu Daya Setan, dalam Kasus Irsyad Manji, Lady Gaga, dan Kontes Miss World, oleh Dr. Adian Husaini. Diterbitkan oleh MIUMI, Jakarta: 2013

*****

Selesai ditulis pada hari Jum’at pagi, 11 Oktober 2013 pukul 09.03 wita di Gedung Dakwah IKADI (Ikatan Da’i Seluruh Indonesia) Kota Tenggarong-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

***

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Jum’at, 25 Oktober 2013 pukul 08.00 wita.

Comments
One Response to “Worldview Islam in Tolerance (Studi Kasus Sikap Kaum Muslimin terhadap Ahmadiyah, Syi’ah, dan Pluralisme Agama)*”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: