Menjadi Profesional atau Pengusaha?*

Menjadi Profesional atau Pengusaha?*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Selama menjalani sekolah sejak masa SD hingga lulus perguruan tinggi. Mindset yang terbangun adalah ketika pasca lulus, harus segera mendapatkan pekerjaan dengan bekerja sebagai karyawan swasta maupun pegawai negeri. Dalam pandangan kebanyakan masyarakat kita, posisi ini adalah kondisi kesuksesan dari sekian tahun proses pembelajaran dalam kelas itu sendiri. Bukankah tujuan dari jenjang pendidikan itu adalah guna menunjang mendapatkan pekerjaan yang layak alias menjadi karyawan dengan posisi yang lebih tinggi? Namun, benarkah demikian?

Saya dengan secuplik tulisan ringan ini, tidak hendak memaksakan pendapat saya dan kemudian menyalahkan pendapat Anda, atau siapapun yang menyelisihi pendapat saya ini. Tidak, tidak demikian, kawan. Saya hanya ingin berbagi pemikiran, cara pandang dan cara berpikir. Semoga tak membuat Anda tersinggung, dan malah sebaliknya, semoga bisa menginspirasi dan membuat jutaan molekul untuk memompa adrenalin Anda dalam semangat bekerja sebagai karyawan profesional atau menjadi penguasaha? Kalau begitu, mari kita lanjutkan..🙂

Tujuan dari pendidikan itu pada dasarnya adalah memberikan pengetahuan kepada para pelajarnya. Menjadikan manusia berpengetahuan yang pada mulanya tidak tahu apa-apa. Pendidikan belasan tahun yang kita jalani tersebut juga berperan guna membentuk pola pikir ilmiah, kritis dan sistematis. Dengan berbekal itu semua, harapannya, manusia menjadi makhluk yang berakhlak, tahu aturan, dan menjaga kelestarian alam serta perdamaian di antara manusia seluruh dunia. Selain itu, memang benar bahwa pendidikan ini juga menjadi sarana untuk meraih kemampuan (skill) keahlian dalam bidang tertentu. Dan kepakaran semacam ini sangat berguna dalam kehidupan keseharian..

Dalam praktiknya di lapangan. Pendidikan menjadi sesuatu yang nilainya bergeser jauh dari asalnya, berdasarkan sudut pandang pelajar itu sendiri. Pendidikan dimaknai oleh mereka yang tengah belajar, hanya sebagai media mendapatkan ijazah. Dan kemudian, ijazah tersebut mampu dipergunakan untuk melamar pekerjaan di tempat yang layak. Ya, paradigmanya sekarang adalah bahwa mengapa pendidikan itu penting? Dijawab oleh masyarakat modern sekarang, “untuk mendapatkan ijazah sebagai syarat mutlak guna MELAMAR PEKERJAAN”. Tentu, kita patut sedih dan prihatin. Mindset yang terbentuk dari pola pendidikan di negeri ini masihlah mencetak manusia-manusia pekerja, bukan manusia-manusia pemodal ataupun pencetak lapangan kerja..

Beberapa halangan yang cukup kompleks memang sering kita temui di lapangan. Pengaruh gaya hidup hedonism dan bebas yang kebablasan menjadikan generasi muda kita terlalaikan akan hidup yang kemakmurannya hanya bisa dicapai dengan usaha kerja keras dan doa. Namun, tontonan yang sengaja ditampilkan setiap harinya adalah sebuah tontonan kehidupan yang serba enak dan semaunya. Para pemuda kita selalu saja dicekoki dengan tayangan-tayangan yang tidak mendidik, berisikan pacaran sejak masa SD, SMP, SMA. Kemajuan teknologi juga memberikan dampak signifikan terhadap perilaku remaja. Dimana ketika kontrol dari orang tua dan lingkungan itu minim, maka akses internet ke hal-hal yang negatif (situs dewasa), game online dan social media menjadikan anak-anak dan remaja kita menjadi semakin apatis terhadap kegiatan sosial maupun organisasi di sekitarnya..

Demikianlah tantangannya. Kita tengah hidup di masa yang perubahannya begitu cepat terasa. Ada peluang dan ada juga tantangan. Kembali lagi ke diri kita, memilih menjadi pecundang atau dengan bangga memilih sebagai pemenang. Catatan ini tidak hanya untuk diri kita pribadi, namun harusnya juga didukung oleh sistem, yakni para pengambil kebijakan (policy maker) yang akan turut membuat dampak perubahan positif itu semakin besar dan tersistematis..

Melihat dan mengamati tantangan yang begitu luar biasa di atas. Sudah selayaknya kita harus mengubah cara berpikir terhadap masa depan. Mencetak lulusan sebagai pekerja bukanlah pemikiran bijaksana, apalagi menyambut perdagangan bebas Asia-Pasific di tahun 2015 nanti. Dan sudah saatnya, setiap sekolah SMA/Kejuruan dan perguruan tinggi membekali mahasiswanya dengan pengetahuan kewirausahaan. Tak hanya pengetahuan, juga ditunjang dengan permodalan dan lapangan praktek yang terbuka lebar..

Mengarahkan para mahasiswa untuk berwirausaha yang sejalan dengan bidang ilmu pengetahuan yang didalaminya di kampus adalah pilihan terbijak untuk membuat perbaikan secara kultural terhadap degradasi pemaknaan pendidikan itu sendiri. Seminar-seminar kewirausahaan dan studi banding ke berbagai pengusaha menjadi opsi yang patut diperbanyak intensitasnya. Dengan demikian, diharapkan nantinya akan tercipta banyak lulusan yang tidak hanya siap kerja, namun siap menjadi pengusaha sesuai dengan bidang peminatan jurusannya..

Jadi, enaknya jadi pekerja profesional atau pengusaha ya? Anda sendiri yang menentukan jawabannya.. ^_^

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Selesai ditulis pada hari Rabu, 09 Oktober 2013 pukul 11.22 wita di Gedung Dakwah IKADI (Ikatan Da’i Seluruh Indonesia) Kota Tenggarong-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 20 Oktober 2013 pukul 08.00 wita.

Comments
5 Responses to “Menjadi Profesional atau Pengusaha?*”
  1. bicara says:

    jadi Penguasa kayaknya bagus juga😀

  2. genthuk says:

    Lha sampeyan sendiri milih jadi yang mana dong?

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: