Story 022 Praktikum Rehsos STKS Bandung

Mahasiswa Praktikum I di Desa Gandasoli Kabupaten Subang-Jawa Barat

Praktikum Rehsos STKS Bandung

STKS Bandung adalah salah satu perguruan tinggi negeri yang mencetak ribuan sarjana dari program Diploma IV (DIV). Salah satu perbedaan mencolok atas program DIV dibandingkan dengan program S1 adalah prosentasi muatan praktikumnya yang cukup besar.

Di Jurusan Rehabilitasi Sosial (Rehsos) sendiri, praktikum dilaksanakan selama 3×1 bulan. Satu bulan pertama dilaksanakan pada akhir semester V, satu bulan kedua di akhir semester VI, dan terakhir satu bulan pada akhir semester VII.

Praktikum I Rehsos STKS Bandung dilaksanakan dengan fokus kegiatan pengenalan potensi dan masalah kesejahteraan sosial. Praktikum II fokus pada pembentukan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) di tempat praktikum I. Dan terakhir, Praktikum III fokus pada praktikum rehabilitasi sosial berbasis institusi.

Praktikum I aku jalani pada 18 November sampai dengan 17 Desember 2010 di Desa Gandasoli Kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang. Adapun anggota kelompok kami berjumlah 5 orang, diantaranya: Dwi Prasetyo, Fauzan Langgeng, Mei Rochma Mutiari, Anggun Wiguna dan juga aku sendiri. Kebetulan pada praktikum I ini, aku didaulat untuk menjadi ketua kelompok.

Banyak kisah indah yang patut dikenang di praktikum I ini, meskipun tak dipungkiri juga bahwa terdapat rasa kecewa akibat ketidaksamaan pola pikir dan cara memandang suatu masalah beserta solusinya. Kebanggaan, keharuan, kebersamaan dan juga kekecewaan menyatu dalam kisah.

Mahasiswa Praktikum I di Desa Gandasoli Kabupaten Subang-Jawa Barat

Mahasiswa Praktikum I di Desa Gandasoli Kabupaten Subang-Jawa Barat

Praktikum II kami laksanakan pada 14 Juni sampai dengan 13 Juli 2011 dengan tempat yang sama, yakni di Desa Gandasoli Kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang, Jawa Barat. Juga dengan anggota kelompok yang sama, dan pembimbing praktikum yang sama pula, Ibu Dra. Yeane EM Tungga, MSW dan Ibu Milly Mildawati, MP.

Praktikum II dapat kami jalani dengan lebih santai. Santai bukan berarti tanpa kerja. Santai yang dimaksud adalah bahwa kami telah melalui masa adaptasi dengan warga masyarakat lokal, dan PR yang tertinggal hanyalah menjalankan misi dari proyek praktikum II dengan output pembentukan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

Selain fokus untuk membentuk dan membina RBM Desa Gandasoli yang disepakati namanya RBM “Kasih Sejahtera”, aku ternyata juga harus fokus untuk mempersiapkan lokakarya Kecamatan yang bertugas untuk mempresentasikan pembentukan RBM di seluruh wilayah Desa di Kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang. Kebetulan, aku dipilih untuk menjadi presentator pada kegiatan lokakarya tersebut, yang tentu saja, termasuk untuk mempersiapkan materi.

Kemudian, praktikum III yang dijadwalkan mulai tanggal 24 Januari sampai dengan 22 Februari 2012 tersebut aku jalani di Lapas Anak Pria Tangerang (LAPT) bersama anggota kelompok yang baru. Anggota kelompok yang baru ini disebabkan karena adanya mata kuliah kajian, dan untuk mereka yang pernah mengambil mata kuliah Peksos Koreksional, maka bisa dipertemukan di tempat praktikum Lapas Anak ini.

Adapun anggota kelompok praktikum III kali ini berjumlah enam orang mahasiswa, diantaranya ada Fajar Mahardhika, Andriani Magdalena, Syamsiah, Lilik Suratmi, Anggun Wiguna dan juga aku sendiri. Sungguh merupakan kelompok praktikum terakhir yang begitu kompak dalam menjalani keseharian bersama puluhan anak-anak dengan berbagai kasus pidana itu.

Pengalaman praktikum di LAPAS merupakan pengalaman yang begitu luar biasa. Kita pasti mengira pada awalnya bahwa anak-anak yang ada di dalam penjara itu menakutkan dan mengerikan, anak nakal dan tidak bisa diatur. Namun, pandangan “miring” itu seketika hilang ketika mendapati kenyataan sebenarnya di Lapas Anak Pria Tangerang.

Anggota kelompok Praktikum III di Lapas Anak Pria Tangerang

Anggota kelompok Praktikum III di Lapas Anak Pria Tangerang

Anak-anak yang berada di LAPT tersebut berada pada rentang usia 13-18 tahun dengan berbagai kasus pidana. Pada kenyataannya mereka adalah anak-anak polos yang butuh bimbingan. Kebanyakan dari mereka yang berada di dalam sini, menjadi sadar akan kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan di masa silam.

Bahkan, di dalam LAPAS ini banyak terdapat kegiatan positif seperti, khusus untuk yang muslim, diwajibkan untuk sholat lima waktu secara berjama’ah. Anak-anak ini juga wajib untuk sekolah yang telah disediakan sebagai fasilitas pendidikan di dalam LAPAS. Selain itu juga terdapat Rumah Pintar (Rupin) yang merupakan perpustakaan dan tempat kreativitas anak-anak.

Pelajaran terpenting atas ketiga praktikum Rehsos ini selama menjalani masa perkuliahan di kampus STKS Bandung adalah kita menjadi terlatih untuk berhadapan dengan orang, terutama stakeholder yang menjadi jaringan penting bagi seorang pekerja sosial profesional. Juga menjadi ajang melatih secara langsung kemampuan menangani klien, dengan berbagai macam tipe pemikiran dan masalah yang cukup kompleks.

*Kembang Janggut, 21 September 2013

**Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 10 Oktober 2013 pukul 08.00 wita.

NB: Artikel ini adalah edisi series dari The Story of Muhammad Joe Sekigawa. Diterbitkan secara berkala pada setiap hari Senin dan Kamis, sejak tanggal 29 Juli 2013. Jika tak ada halang merintang, akan disusun menjadi sebuah buku bagi koleksi pribadi ^_^

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: