Golongan Putih*

Golongan Putih*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Golongan Putih..

Agak asing mendengar istilah ini, karena memang akan terasa lebih familiar ketika kita menyebutnya dengan kata Golput..

Mendengar kata Golput, imajinasi kita langsung tertuju pada aktivitas politik, dan Golput adalah sebutan yang disematkan pada mereka yang tidak memilih padahal memiliki hak pilih guna menentukan pilihan pemimpin terbaik diantara yang baik-baik..

Bagaimana sebaiknya kita memandang atas perilaku apolitis terhadap persoalan perpolitikan di negeri ini?

Pada kasus fakta di lapangan, banyak alasan mengapa masyarakat kita Golput pada putaran pemilihan kepala daerah tingkat kabupaten/kota/provinsi, anggota legislatif, juga presiden. Beberapa alasan terebut diantaranya seperti pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, anggota keluarga yang tengah sakit, sedang bepergian keluar kota, dan bermacam alasan lainnya. Namun yang menjadi aneh adalah ketika prosentase Golput ini meningkat, diakui oleh beberapa kelompok sebagai hasil kerja mereka? Kok bisa? Ya bisa, karena logika SEKULER tidak akan bisa mengendusnya. Hal ini karena logika yang dipakai adalah logika dakwah  -versi mereka-..

Ya, ada kelompok-kelompok dakwah yang pemahaman pergerakannya adalah mengharamkan demokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan, yakni kegemilangan Islam. Mereka berpendapat bahwa demokrasi adalah mutlak haram tanpa ada toleransi untuk menggunakan atau memanfaatkannya. Maka, setiap hari, pekerjaan yang mereka lakukan adalah dengan menyebarkan propaganda dan opini. Menunjukkan betapa kejelekan sistem demokrasi sehingga ia tak layak dijadikan perahu untuk berlayar, karena telah ada perahu paling baik untuk menapaki jejak kehidupan, yakni al Islam..

Perdebatan panjang memang telah terjadi di kalangan para ulama, mengenai aturan dalam fiqih Islam yang membolehkan atau melarang berpartisipasi dalam politik demokrasi yang sebagian besar dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di seluruh dunia..

Kita tidak sedang berbicara mengenai pelanggaran aturan, namun tengah berbicara tentang ijtihad politik (siyasah ijtihadiyah) yang kemungkinan bisa benar dan kemungkinan bisa salah. Tentunya, ini bukan sedekar ijtihad murahan yang dilakukan oleh orang yang miskin ilmu. Tapi, merupakan ijtihad para ulama besar yang patut kita syukuri atas keluasan dan kedalaman ilmu yang dikaruniakan Allah subhanalahu wata’ala kepada beliau-beliau rahimakumullah..

Sedikit cuplikan kaidah dalam hadist yang hendak saya kutipkan, “Umatku tidak akan bersepakat terhadap kedzaliman” (al hadist). Inilah mengapa metode musyawarah begitu penting dan menjadi metode utama umat Islam. Karena, musyawarah diisi oleh orang-orang berilmu, kemudian yang tentu saja tidak akan bersepakat terhadap suatu kedzaliman. Ini merupakan contoh kecil saja, mengapa demokrasi dapat kita manfaatkan untuk kepentingan dakwah Islam -tidak mutlak haram-..

Maka, ketika kita berbicara tentang Golongan Putih. Harusnya, kaum terpelajar dan berilmu harus mampu untuk berpikir. Langkah mana yang bisa membawa kepada banyaknya kemanfaatan dan langkah mana yang malah akan membawa kita kepada kehancuran dan kehinadinaan atas kuasa orang-orang zalim di atas kaum muslimin..

Golongan Putih.. Mari lipat yang rapi, kemudian kita bakar menjadi abu tak berarti. Karena, masih ada harapan, masih ada asa yang tinggi untuk memakmurkan negeri ini. Ambil langkah, partisipasi, pilihlah orang yang sholeh lagi berilmu untuk memimpin kita menuju keridho’an Allah azza wa jalla..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Ahad, 29 September 2013 pukul 16.58 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu, 09 Oktober 2013 pukul 08.00wita.

Comments
2 Responses to “Golongan Putih*”
  1. Menjadi Golongan Putih itu sama dengan memberikan jalan kemudahan bagi para sekularis dan liberalis melenggang mulus di Senayan dan membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan umat Islam.
    Seperti itulah yang dimaui para Andem (Anti Demokrasi). Dan tidak terbantahkan logika ini, karena sudah mendekati kenyataan. Semoga mereka (para Andem) segera bertobat.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: