Selektif dalam Berbudaya*

Sumber ilustrasi gambar dari sini

Selektif dalam Berbudaya*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia menjadikannya begitu kaya raya. Tidak melulu diartikan sebagai kaya harta, namun kaya karya seni, pluralitas budaya yang terangkum dalam kebinekaan..

17 ribu pulau dengan ratusan bahasa daerah menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya bangsa dengan kemajemukan tertinggi di antara negara-negara di dunia..

Kita memang patut berbangga, tapi tidak sampai harus congkak dan sombong. Apalagi, jangan sampai kita menjadi terlena dan pada akhirnya lupa akan identitas budaya yang ada..

Budaya sebagai produk karya cipta dan rasa manusia, mengalami perkembangan setiap waktu. Perkembangan itu ditentukan oleh kecerdasan akal dan pengaruh kuat agama yang diyakini oleh masyarakatnya..

Meski demikian, tidak semua budaya dapat kita serap dan amalkan dalam kehidupan keseharian. Ada adab yang harus ditaati dan dipatuhi agar budaya satu tidak menyinggung pada budaya lainnya..

Menghargai budaya, sama pentingnya dengan menyerap budaya. Budaya dari luar yang sifatnya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, atau malah merupakan budaya merusak yang terindikasi bisa memperlemah integrasi bangsa yang berkarakter..

Gotong royong, ringan tangan, empati dan saling peduli, merupakan budaya yang patut dilestarikan dan diamalkan dalam kehidupan. Budaya ini merupakan budaya asli Bangsa Indonesia yang telah terinternalisasi ke dalam diri, dan menjadi nilai-nilai universal seluruh umat manusia..

Kemudian, budaya daerah lebih merujuk kepada pakaian adat, tari-tarian, selamatan atau upacara adat, sunatan dan pernikahan, juga upacara kematian. Budaya ini dibentuk dan dipengaruhi oleh pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Dan tidak hanya di Indonesia, bahkan juga pada suku-suku primitif di dunia, budaya bentuk ini kebanyakan ditujukan kepada roh halus atau roh nenek moyang, dan atau bahkan dewa yang diyakini dapat menolong masyarakat..

Tentu, budaya semacam di atas, harus dibatasi oleh norma-norma agama. Zaman dahulu, agama masih banyak belum dikenal oleh masyarakat, sehingga banyak diantara mereka yang mempercayai roh halus, batu atau pohon sebagai penolong (aliran kepercayaan animisme dan dinamisme). Setelah datang petunjuk, adanya pemberi peringatan (Nabi dan Rasul), maka budaya-budaya yang bertentangan dengan norma agama, tidak bisa lagi dipraktikkan dan dilestarikan..

Kemudian, terkait dengan budaya asing yang begitu gencar masuk ke negara kita. Seperti, mode berpakaian, tata cara pergaulan, sopan santun dan unggah ungguh, serta beragam permainan harus disesuaikan dengan karakteristik budaya ketimuran..

Budaya Barat lebih dikenal dengan budaya dengan teknologi tinggi, namun bebas nilai dan terlalu menjunjung tinggi asas kebebasan sehingga enggan menghiraukan adab-adab/norma yang berkaitan dengan isu moralitas. Kumpul kebo (tidur dalam satu rumah tanpa ada ikatan perkawinan), pelegalan kaum gay dan lesbi, pernikahan sesama jenis, pakain super mini sehingga menunjukkan bagian-bagian sensitif dari tubuh perempuan, minuman keras, clubbing dan seks bebas, merupakan contoh-contoh budaya dari luar yang sangat tidak berkesesuaian dengan budaya bangsa Indonesia..

Oleh karenanya, para kaum muda harus dididik sejak masa kanak-kanak untuk membentengi dirinya dari budaya-budaya merusak dari ekstern (luar), dan budaya intern yang sudah tidak lagi relevan dengan pandangan manusia beragama. Kebijakan juga tidak kalah penting untuk diperjuangkan agar NKRI punya positioning yang kuat ketika beradu argumen dengan majelis negara bangsa-bangsa (PBB)..

Sebagai Bangsa yang menyatakan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai pasal pertama pancasila sebagai dasar negara, harus berani berkata lantang untuk mempertahankan prinsipnya. Bahwa, tidak ada tempat bagi Sekulerisme, Pluralisme Agama, dan juga Liberalisme, Kapitalisme dan antek-anteknya..

Berbudaya, seharusnya menjadikan manusia lebih bermartabat, bukan malah bergelimang dalam dosa dan maksiat. Oleh karenanya, kita harus banyak-banyak bertobat, dan selektif dalam berbudaya..

Mari cintai negeri ini, budaya ketimuran Bangsa Indonesia, dan tidak melepaskan agama sebagai dasar dalam seluruh aktivitas dan cara pandang serta pola pikir dalam menjalani kehidupan..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Ahad, 22 September 2013 pukul 16.35 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 29 September 2013 pukul 08.00wita.

Comments
One Response to “Selektif dalam Berbudaya*”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: