Story 014 SREG STKS Bandung

SREG STKS Bandung

Sebagian besar kawan-kawan satu kelompok dalam PPI (Program Pengenalan Institusi) STKS Bandung angkatan tahun 2008 menjadi sahabat erat. Di antaranya ada Teh Dessy Arisanti Katili, Lukas Bujang, Siti Arizma, M. Lalu Taufik Hidayat, Danu Hari Saputro, Berry Hatras, Faisal, Subur Wahyudi, saya sendiri dan beberapa kawan yang lain.

Pasca terpisah dari kelompok PPI tersebut, pada kenyataannya kami masih sering bertemu, berinteraksi, dan mengenal kota Bandung secara lebih jauh bersama-sama. Alhamdulillah, tak hanya sekedar kumpul-kumpul saja. Dengan seringnya interaksi yang pada akhirnya sudah seperti keluarga sendiri itu, menjadikan hubungan kami bertambah dekat dan menghasilkan karya-karya kontribusi kecil untuk disumbangkan bagi lingkungan sekitar.

Anggota SREG berpose Gokil abis

Anggota SREG berpose Gokil abis

Tak bisa dipungkiri, penggerak ke arah hal-hal bermanfaat ini dikomandoi oleh Teh Dessy. Meski beliau seorang perempuan, namun semangat dan ide-ide cemerlangnya sungguh tak bisa dipandang sebelah mata. Kemampuannya lebih banyak melebihi para lelaki pada umumnya. Selain itu, kemampuan public relation beliau juga di atas rata-rata. Dan karena sifatnya yang supel, begitu mudah berjejaring dengan orang baru, dari berbagai strata pendidikan dan kekayaan harta.

Dari kenalan Teh Dessy juga lah, akhirnya kami para mahasiswa baru di STKS Bandung bisa mendapatkan pembimbing dari Sp-1 (Program Pascasarjana STKS Bandung), yaitu Kak Adelino (NTT) dan Kak Yudi (Aceh). Dengan adanya beliau berdua sebagai pembimbing, maka kami pun segera mendiskusikan bentuk nama organisasi yang hendak kami dirikan. Perbincangan berjalan dengan berbagi tumpahan ide yang mengalir. Dan, tertemukanlah SREG sebagai nama organisasi, yang merupakan kependekan dari Social Research Group. Ide ini berasal dari saya, yang pada akhirnya disetujui oleh forum. Selain nama, kami juga mendiskusikan mengenai tag line atau motto, “No Blind, No Deaf, No Paralyze” yang merupakan usulan dari Danu Hari Saputro. Setelah pendiskusian nama dan tag line, jadilah tercetak kaos SREG yang bisa dilihat seperti di dokumentasi di bawah ini.

Organisasi kecil ini didirikan dengan tujuan untuk melakukan aksi-aksi penelitian dan pengabdian masyarakat dengan dasar ilmu praktik Pekerjaan Sosial yang dipelajari selama berkuliah di STKS Bandung. Bagi diri pribadiku, hal seperti ini begitu luar biasa. Sebuah percepatan yang jarang dirasakan dan ditemukan oleh kebanyakan mahasiswa pada umumnya. Murni terdiri dari mahasiswa baru (STKS angkatan 2008), dan hanya dibimbing oleh dua orang mahasiswa pascasarjana (Sp-1 STKS Bandung).

Seiring dengan berjalannya waktu, SREG yang sambil membenahi bentuk diri organisasinya sempat mendapatkan proyek untuk membantu pengumpulan data penelitian tentang dunia prostitusi di Kabupaten Kuningan. Sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi para mahasiswa baru tentunya. Namun sayangnya, waktu itu aku malah tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut dan hanya bisa mendengarkan cerita dari kawan-kawan yang berkesempatan ikut serta.

Selain di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kami juga sempat akan membantu pembangunan sekolah SD dan SMP di Kabupaten Bandung Selatan. Aku sudah sempat datang meninjau lokasi ke sana, tapi memang lupa, tepatnya di daerah mana he he.

Saya yang pada waktu itu diamanahi sebagai Kepala Divisi Perencanaan, tidak mampu merencanakan SREG secara berkelanjutan. Kesibukan dari masing-masing anggota dan Teh Dessy yang menjadi sering sakit-sakitan, membuat keberjalanan SREG tak lagi semulus pada awalnya.

Bahkan, pada akhirnya, SREG hanya tinggal nama dan kenangan semata, hingga pertengahan tahun 2009. Namun, tidak bisa dipungkiri pula. Masing-masing jebolan SREG ini menjadi orang penting dan berpengaruh di kampus. Kami menyebar di berbagai UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) kampus, tergabung di dalam BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), menjadi panitia PPI pada tahun berikutnya (2009), dan aktivitas positif lainnya.

SREG, meski tidak secara sadar dimaknai secara mendalam peranannya. Namun, telah menyumbangkan bentuk keberanian, kesolidan dalam bertugas, dan juga mengajarkan tentang impian besar di masa depan. Bermula dari SREG ini pula, nantinya akan lahir gagasan-gagasan cemerlang untuk kontribusi peradaban.

*Kembang Janggut, 14 Agustus 2013

**Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 12 September 2013 pukul 08.00 wita.

NB: Artikel ini adalah edisi series dari The Story of Muhammad Joe Sekigawa. Diterbitkan secara berkala pada setiap hari Senin dan Kamis, sejak tanggal 29 Juli 2013. Jika tak ada halang merintang, akan disusun menjadi sebuah buku bagi koleksi pribadi ^_^

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: