Story 010 Menjadi Operator Warnet

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Menjadi Operator Warnet

Kisah-kisah kemudahan yang telah diberikan oleh Allah selama ini ternyata masih saja belum cukup. Sungguh ternyata kuliah itu membutuhkan biaya yang lumayan besar. Perolehan beasiswa dan tempat kostan yang cukup murah, ternyata belum menyelesaikan permasalahan selama menjalani kuliah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung.

Kala itu, hampir sebulan lepas dari liburan hari Raya Idul Fitri tahun 2008. Uang persediaan kian menipis, sedangkan tidak ada pemasukan sama sekali selama hidup merantau di Kota Kembang ini. Ah, haruskah kandas ketika baru melangkah beberapa langkah? Aku pun mulai berpikir, mencari-cari cara bagaimana untuk bisa survive di tanah rantau orang.

Ide cemerlang yang melintas di pikiran adalah membuat selebaran yang menyatakan siap kerja part time. Part time nya pun tidak sembarangan, saya memilih waktu malam hari (selepas maghrib/Isya’) agar masih bisa aktif berkegiatan di kampus selain belajar akademik. Karena memang itu yang saya rencanakan, kuliah untuk aktif menimba pengalaman organisasi dan berjejaring.

Satu hari akhirnya telah kuselesaikan format satu lembar yang menyatakan kesediaan bekerja paruh waktu. Bentuknya bukan surat lamaran formal, tapi lebih kepada pemberitahuan bahwa saya selaku mahasiswa berkenan untuk part time 5 hari dalam sepekan selepas maghrib/Isya.

Kemudian, aku memilih waktu malam hari (di atas jam 24.00wib) untuk berjalan di sekitar Dago guna memasukkan lamaran part time. Jalan itu kutempuh mulai dari Dago Pojok, berjalan ke bawah hingga Simpang Dago, lalu berbelok ke arah Dipati Ukur hingga mentok di kampus UNPAD. Sebenarnya aku masih ragu-ragu, namun tidak akan pernah berubah nasibku ini kalau tak mau mengusahakannya sendiri.

Subhanallah. Lagi-lagi pertolongan Allah datang dengan begitu indahnya. Baru saja malam itu menyebarkan kertas kesediaan part time, pagi harinya ada yang menelfon dan menawarkan untuk bekerja di warnet miliknya. Hatiku pun riang gembira dan bersyukur atas nikmat Allah yang begitu besar.

Langsung saja, mulai hari itu di Bulan September 2008 aku resmi bekerja part time menjadi operator warnet yang lokasinya beberapa ratus meter di seberang jalan dari Darul Hikam ke arah Selatan. Di sini, kudapatkan lagi kemudahan demi kemudahan untuk menunjang kegiatan perkuliahan.

Setelah biaya semesteran kuliah, tempat kostan, makan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, ternyata masih ada satu yang menjadi kendala, yakni saya tidak punya computer/laptop, juga printer. Padahal perlengkapan ini sangatlah menunjang kegiatan perkuliahan mengingat begitu padatnya tugas-tugas dari dosen di setiap mata kuliah yang tengah kuambil. Nah, ketika menjadi operator warnet, segala kebutuhan itu terpenuhi sudah. Mulai dari browsing tugas di internet, ngetik makalah, hingga printing. Dengan demikian, aku tak lagi kesusahan dalam pengumpulan tugas-tugas dari para bapak/ibu dosen.

Bukan tanpa kendala ketika menambah profesi selain keaktifan di berbagai organisasi kampus ini. Menjadi OP warnet, artinya mengurangi waktu istirahat, sedangkan waktu kesibukan semakin bertambah. Tak dipungkiri, aku menjadi sering mengantuk ketika tengah menjalani perkuliahan. Waktu tidur juga semakin tidak teratur, juga waktu makan.

Kalau diingat-ingat, aku kuliah pukul 09.30wib sampai dengan pukul 15.30wib. Setelah itu berorganisasi sampai masuk waktu maghrib. Sedangkan pukul 23.00wib sudah harus jaga warnet hingga pukul 06.00wib. Ketika keesokannya ada kuliah pukul 07.00wib, maka tidak sempat tidur dan sudah pasti di kelas akan sangat mengantuk sekali. Namun, ketika kuliahnya pukul 09.30wib, aku masih punya waktu tidur dari pukul 07.00 s.d 09.00wib.

Begitulah keseharianku selama menjadi mahasiswa, organisatoris, aktivis, juga part timer. Awalnya berat, namun Alhamdulillah ketika kita jalani dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa syukur, bisa terlewati dengan baik tanpa memperburuk prestasi di kelas. Dari awal sampai lulus, prestasi akademik tidak pernah kurang dari 3.50. Alhamdulillah.

Adapun strategi untuk menjaga agar prestasi akademik tetap prima adalah dengan senantiasa aktif berpendapat/diskusi, tepat waktu dalam pengumpulan tugas, juga menjalin komunikasi yang baik dengan bapak/ibu dosen. Dari cara ini, menghasilkan output yang cukup baik, yakni tidak ketinggalan materi mata kuliah, juga bisa mendiskusikannya secara baik dan terlihat menguasai daripada mahasiswa lainnya.

Menjadi operator warnet ini kulakukan pada akhir tahun 2008 sampai dengan pertengahan tahun 2011. Dari Zona Net yang tak jauh dari Darul Hikam, menjadi ke Neru Net dekat Simpang Dago (jalan Tubagus Ismail). Pengalaman menjadi operator warnet ini menjadi salah satu penghias perjalanan kehidupanku tuk meraih cita dan asa.

*Kota Tenggarong, 21 Juli 2013

**Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 29 Agustus 2013 pukul 08.00 wita.

NB: Artikel ini adalah edisi series dari The Story of Muhammad Joe Sekigawa. Diterbitkan secara berkala pada setiap hari Senin dan Kamis, sejak tanggal 29 Juli 2013. Jika tak ada halang merintang, akan disusun menjadi sebuah buku bagi koleksi pribadi ^_^

Comments
2 Responses to “Story 010 Menjadi Operator Warnet”
  1. ide bagus itu. aku mau tiru juga ah. lowongan kerja part time 5 hari seminggu waktu malam. semoga dapat rizki juga seperti kamu. amiiin …

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: