Jalan Dakwah Semanis Madu*

Jalan Dakwah Semanis Madu*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S Ali Imran: 104)

Pelaksanaan peribadahan kepada Allah memang mampu kita laksanakan sendiri, namun menyeru kepada kebaikan hendaklah kita laksanakan secara berkelompok/berjamaah..

Sebaik (baca: sesholeh) apapun diri kita, ketika bergerak sendiri, tidak dalam lingkaran jamaah, maka rentan terjerumus dalam kefuturan, hingga sulit untuk kembali pada derajat kemuliaan..

Sholat lima waktu memang telah tak pernah kita tinggalkan, tapi lebih sering dilaksanakan sendirian. Shaum sunnah dan Ramadhan juga selalu tertunaikan, apalagi melakukan kemaksiatan, itu sudah menjadi pantangan dalam kehidupan..

Namun, cukupkah sholeh secara pribadi, tapi tak menebarkan ilmu dan kebaikan kepada orang lain? Karena sebaik-baik orang yang berilmu adalah mengamalkan ilmunya dalam keseharian, juga menyampaikan/mengajarkannya kepada ummat..

Ada kisah lain lagi..

Seseorang merasa belum pantas untuk bergabung bersama jamaah dakwah karena belum sholeh/sholehah. Hal ini diukurnya sendiri dari penguasaan ilmu agama, hafalan al Qur’an dan hadistnya, juga penampakan fisik atas tata cara berpakaiannya. Misalkan ketika ia ikhwan, ya harus memiliki jenggot tipis, kemudian celana agak “cingkrang”, memiliki tanda hitam di dahinya, tidak merokok, dan selalu rajin sholat berjamaah di masjid. Sedangkan untuk yang akhwat, haruslah yang telah memakai jilbab lebar, pakai kaos kaki kapan pun dan dimana pun, pakai rok dan tidak mau bersalaman bersentuhan tangan dengan lawan jenis..

Bagi yang belum ter-sibghah dengan pemikiran lurus ajaran Islam ini, tentu hal-hal yang telah tersebutkan di atas terasa berat dan begitu banyak aturan. Padahal, hal itu adalah merupakan standar sebagai seorang kaum muslimin/muslimat. Menunggu kita sampai pada standar di atas, baru kemudian bergabung pada barisan dakwah, ini adalah satu pemikiran yang salah kaprah..

Berjamaah pada hakikatnya adalah tempat untuk menempa dan memperbaiki diri, dan dalam waktu yang sama juga berusaha menyampaikan atau mengedukasi ummat dengan pemahaman Islam yang lurus. Dan gerbong dakwah akan terus melaju, dengan ada atau tidaknya diri kita di dalamnya. Karena Allah lah sebaik-baik pemelihara..

Percayalah, kesadaran untuk berjamaah dalam rangka mendakwahkan Islam, tak akan menjauhkan kita dari dunia, terutama kepada manusianya. Tak perlu takut ketika kita bersatu dalam barisan jamaah dakwah, kemudian menjadikan kita anti dunia, dan hanya mengasingkan diri yang katanya untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala..

Tak demikian adanya wahai kawan. Semakin benar pemahaman kita pada ajaran Islam, semakin kita dekat dengan masyarakat/ummat, semakin gigih kita dalam berjuang mencari nafkah, semakin lembut dengan orang tua dan sanak saudara/kerabat, semakin cinta dan sayang pada anak dan isteri, dan secara kontinyu untuk terus belajar/menambah ilmu untuk memperluas amal sholih..

Dan subhanallah. Kenikmatan di jalan dakwah itu semanis madu. Bukan sebuah rasa yang dibuat-buat untuk menipu, melainkan ketenangan dan ketenteraman yang diturunkan langsung oleh Allah ke dalam qalbu. Kecintaan kepada kebaikan, kenyamanan berada di lingkungan orang sholih/sholihah, kerutinan aktivitas peribadahan yang begitu padat, semuanya melahirkan rasa tenteram yang tak tergantikan oleh kebahagiaan lain yang diukur dengan materi..

Bahkan, dalam jama’ah dakwah, kita akan menemukan potensi diri yang tinggi, karena peran-peran dakwah tak hanya sebatas peribadahan pribadi kepada Allah dalam bentuk ritual, melainkan terdapat banyak bentuk lain peribadahan yang menyangkut diri pribadi, keluarga, lingkungan masyarakat, pemerintahan, hingga level negara. Kesadaran itu akan membuahkan karya-karya nyata untuk turut memperbaiki keadaan ummat, tak hanya dari sisi fikriyah dan akhlaknya, juga dalam bidang ekonomi, kesehatan, juga pendidikan..

Ternyata, kerja-kerja dakwah ini amat sangatlah banyak, dan menunggu peranan dari kita, dan rasanya, kalau boleh saya kembali berbagi kepada Anda, sungguh SEMANIS MADU. Insya Allah..  ^_^

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Jum’at, 09 Agustus 2013 pukul 06.19wita

Comments
One Response to “Jalan Dakwah Semanis Madu*”
  1. KAMMI STKS says:

    Reblogged this on KAMMI STKS BANDUNG and commented:
    Jalan Dakwah Semanis Madu by Muhammad Joe Sekigawa

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: