Story 004 Tes Beasiswa Jepang dan PT. ADM

Tes Beasiswa Jepang dan PT. ADM

Dengan meninggalnya suami Mbak Eni di tahun 2006. Perekonomian kami di Bojonegoro pun berantakan. Aku pernah menanyakan kepada Mbak Eni mengenai kelanjutan pasca sekolah SMK. Dari keinginan pribadi, berazzam kuat untuk bisa melanjutkan kuliah. Namun, yang terjadi tak seindah yang dibayangkan. Terlihat jelas di depan mata bahwa pasca lulus SMK nanti, Mbak Eni sudah tidak akan mampu membiayai kuliahku.

Hal itulah yang membuatku benar-benar harus berubah total. Sekolah yang biasanya lebih banyak main-mainnya, berusaha mengejar semua ketertinggalan yang ada. Dalam satu tahun terakhir tersebut, buah usahaku ternyata masih belum maksimal. Dari yang rangking 24 dari 35 siswa, menjadi rangking 11 di akhir kelas III SMK.

Berhubung telah mengenal baik internet dari warnetnya John Itsar, maka browsing otodidak (tanpa ada yang mengajari maupun belajar dari buku) pun kulakukan untuk mencari informasi beasiswa. Dan incaran beasiswa yang informasinya kudapatkan kala itu adalah beasiswa Monbukagakhuso dari Pemerintah Jepang.

Aku sendiri bahkan sudah lupa mengapa Jepang yang menjadi tujuan. Bukankah negara-negara di dunia modern yang patut menjadi dambaan itu banyak ya? Tapi mengapa harus tertujunya ke negeri Jepang? Aku hampir kesulitan menjawabnya. Namun yang pasti, aku telah banyak mengenal Jepang dari manga (komik), anime, dan juga teknologi super keren yang banyak ditemui hingga pelosok desa (barang made in Japan).

Ya, mungkin karena alasan itulah, ketika browsing di internet, aku mencari kata kunci beasiswa Jepang. Dan, bertemulah dengan website Kedutaan Besar Jepang di Indonesia yang menginformasikan adanya beasiswa bagi lulusan SMA/SMK/MA untuk program D2, D3, dan S1. Dari masing-masing jenjang tersebut, tentu jenis mata ujian juga berbeda tingkatannya. Dengan menimbang kemampuan sendiri, setelah membandingkan dengan sulitnya mengerjakan soal-soal SNMPTN, maka aku pun mendaftarkan diri ke program beasiswa D2.

Alhamdulillah sudah menjadi tabiat, ketika ada informasi yang bermanfaat, aku tak segan-segan untuk mengabarkannya kepada kawan sejawat. Bukan karena aku canggung untuk bergerak sendirian, bagiku, karena sudah terlatih sejak masa SMP (mendaftar sekolah sendirian), maka itu sudah biasa. Namun, memang ada kebahagiaan tersendiri ketika membagi informasi yang bermanfaat bagi orang lain.

Maka, dari semua teman-teman yang kukabarkan mengenai informasi ini (yang waktunya juga sangat terbatas), berangkatlah aku dan Frendy untuk mengikuti tes tulis setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi. Ya, aku bersyukur karena nilai UAN SMK saat itu mencapai 28,20 dari tiga mata pelajaran yang diujikan secara nasional.

Mendaftar beasiswa semacam ini merupakan hal yang revolusioner untuk anak-anak seangkatanku. Bahkan untuk satu sekolah SMK-ku itu, tak ada yang berpikiran pasca lulus kemudian mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Aku pun kadang juga berpikir sendiri, kok bisa begitu ya, padahal lingkungan di sekitarku tak ada yang menyediakan/ memberikan informasi terkait beasiswa, terlebih mengenai tata caranya. Semua kulakukan sendiri, dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh panitia. Alhamdulillah, ini merupakan nikmat Allah yang patut disyukuri.

Perjalanan pun berlanjut ke kampus UNAIR Surabaya untuk mengikuti tes ini. Aku dan Frendy menaiki kereta ekonomi dari Bojonegoro ke Surabaya dan setelah selesai ujian hingga sore hari, kami pun menginap di pelataran masjid kampus UNAIR dan karena tidak membawa jaket, menjadi sasaran empuk para nyamuk. Pengalaman itu benar-benar tak terlupa sampai sekarang.

Pengumuman kelulusan dari tes akademik tersebut masih cukup lama. Sedangkan, terdengar informasi dari kawan-kawan tentang adanya tes rekrutmen calon karyawan PT. Astra Daihatsu Motor Jakarta. Awalnya aku ragu untuk mengikuti tesnya. Apa hubungannya Geologi Pertambangan dengan Daihatsu yang merupakan pabrik mobil (otomotif)? Namun, karena kebanyakan teman-teman dari kelasku (Geologi Pertambangan) mendaftar ke sana (tempat tesnya di SMKN 2 Bojonegoro), aku pun izin ke orang tua dan Mbak Eni untuk ikut mendaftar pula.

Tes demi tes pun kulalui, dan selalu lolos untuk ke tes berikutnya. Kabar perkembangan dari tes Monbukagakhuso itu tak jua kunjung datang. Aku mulai pesimis dengan hasilnya, karena sadar bahwa dalam pengerjaan kemarin juga tidak maksimal. Coba bayangkan, Bahasa Inggris saja masih belepotan, namun ujian D2 Monbusho itu matematikanya dalam bahasa Inggris, tentu pusinglah aku dibuatnya.

Oleh karenanya, aku memantapkan diri pada tes PT. Astra Daihatsu Motor tersebut, dan sudah merencanakan akan kuliah di tahun depannya. Dan syukur Alhamdulillah, pada awal September tahun 2007 itu, setelah melewati tes Tulis, Potensi Akademik, Kesehatan dan juga Wawancara, aku pun dinyatakan diterima sebagai karyawan kontrak PT. Astra Daihatsu Motor Jakarta.

*Kembang Janggut, 02 Juli 2013

**Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 08 Agustus 2013 pukul 08.00wita.

NB: Artikel ini adalah edisi series dari The Story of Muhammad Joe Sekigawa. Diterbitkan secara berkala pada setiap hari Senin dan Kamis, sejak tanggal 29 Juli 2013. Jika tak ada halang merintang, akan disusun menjadi sebuah buku bagi koleksi pribadi ^_^

Comments
3 Responses to “Story 004 Tes Beasiswa Jepang dan PT. ADM”
  1. Hejis says:

    bocah bancar = baocah top…. agegegeg😀

  2. Hejis says:

    bocah bancar = bocah top…. agegegeg😀

  3. fratih says:

    salam ukhuwwah hehe

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: