Lembaga Sosial sebagai Wujud Nyata Kepedulian*

Lembaga Sosial sebagai Wujud Nyata Kepedulian*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Islam datang sebagai rahmat bagi semesta alam, termasuk masalah konsep keadilan, pemerataan kesejahteraan, dan tentu saja pemenuhan hak dasar yang berdasarkan perikemanusiaan yang berbudi luhur. Konsep yang dibawa Islam ini memang sangat penting untuk menjadi landasan atau pijakan dasar, namun konsep tetap saja akan menjadi konsep, meski ia sebagus apapun, ketika tanpa diwujudkan dalam keseharian, maka apalah artinya?

Oleh karenanya sejak 1400 tahun silam, kekhalifahan Islam di zaman para sahabat memiliki Baitul Mal yang bertugas menghimpun dana dari masyarakat. Bukan guna memperkaya sang Khalifah, namun negara benar-benar menyalurkannya kepada rakyat yang berhak dan membutuhkan. Itulah salah satu konsep pemerataan kesejahteraan yang dipraktikkan dalam kehidupan.

Sejak masa awal tahun 1900-an, Muhammadiyah telah fokus untuk membentuk lembaga-lembaga sosial, pendidikan dan juga kesehatan guna melayani masyarakat Indonesia. Hal tersebut sungguh manfaatnya lebih bisa dirasakan ketimbang hanya mencaci maki pemerintahan Hindia Belanda yang kala itu masih menjajah Negeri Nusantara. Bukan berarti Muhammadiyah tidak merindukan kemerdekaan dan menjadikan Islam sebagai dasar hukum dalam berkehidupan, namun peluang untuk melakukan kebaikan senantiasa terbuka lebar, sembari pelan-pelan mempersiapkan umat yang kokoh dan cerdas akan aturan agama yang dipeluknya -Islam-.

Jama’ah Tarbiyah yang pergerakannya mengadopsi pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin di Mesir juga tak kalah menyadari betapa pentingnya membentuk lembaga-lembaga sosial, pendidikan dan kesehatan. Pemikiran Ikhwanul Muslimin ini juga diadopsi oleh tokoh besar zaman kemerdekaan, Muh. Natsir dari PERSIS. Meski Indonesia telah merdeka, bukan berarti lembaga sosial, pendidikan dan kesehatan yang dikelola oleh masyarakat menjadi sudah tidak perlu lagi, malah yang terjadi adalah sebaliknya. Jika tidak ada kalangan masyarakat yang turut serta mengelola penyediaan fasilitas sosial, pendidikan dan kesehatan ini, bisa-bisa negara collapse.

Maka, sejak akhir tahun 1990-an ikhwah Tarbiyah mulai mengawali membentuk lembaga-lembaga sosial yang sangat beragam. Meski pada tahun 1998 terjadi reformasi dan jama’ah ini bertransformasi menjadi sebuah partai politik, tidak mengubah semangat juang untuk terus menyuburkan lembaga-lembaga sosial yang menjadi ujung tombak pelayanan di akar rumput.

Hampir memasuki masa 15 tahun sejak zaman reformasi kemarin dan saat ini, lembaga-lembaga yang telah dibentuk tersebut sudah struggle dan terus memperluas jangkauan layanannya. Sebut saja lembaga ikhwah Tarbiyah yang telah besar seperti Rumah Zakat Indonesia, Dhompet Dhuafa, Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU, Bulan Sabit Merah Indonesia, Panti Yatim, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

#Kembang Janggut-Kutai Kartanegara, Rabu sore, 26 Juni 2013#

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 27 Juli 2013 pukul 08.00wita.

Comments
One Response to “Lembaga Sosial sebagai Wujud Nyata Kepedulian*”
  1. KAMMI STKS says:

    Reblogged this on KAMMI STKS BANDUNG and commented:
    Lembaga Sosial sebagai Wujud Nyata Kepedulian by Muhammad Joe Sekigawa

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: