Peran Strategis Pekerja Sosial di Setting Corporate dalam Pemberdayaan Ummat*

Peran Strategis Pekerja Sosial di Setting Corporate dalam Pemberdayaan Ummat*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, An Activist, A Great Dreamer, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Memang benar, saat masih duduk di bangku kuliah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung beberapa tahun lalu, saya dapatkan mata kuliah tentang Pekerja Sosial/Peksos Industri (Industrial/Corporate Social Work) pada semester IV. Di sini saya dapatkan mengenai konsep dasar Peksos Industri yang telah diawali di negara Barat. Peksos di sektor industri lebih concern pada praktik-praktik pertolongan terhadap internal perusahaan itu sendiri, sedangkan hanya beberapa persennya saja untuk praktik keluar.

Hal ini dapat dipahami bersama oleh karena konsep perusahaan yang merupakan profit oriented, maka dana pengeluaran apapun yang telah digulirkan, haruslah membawa dampak baik terhadap corporate development. Dalam hal ini, pekerja posial yang ditempatkan dalam susunan karyawan perusahaan, memiliki tugas yang spesifik guna menolong juga mengembangkan kapasitas para pekerja perusahaan tersebut.

Ada miss perception ketika dulu mempelajari mata kuliah Peksos Industri ini. Bagaimana tidak, saat itu kami tak menemukan role model untuk aplikasi Peksos di setting industri yang dipaparkan sesuai teori. Yang ada, adalah alumni STKS (baca: Peksos) yang bekerja di setting CSR (Corporate Social Responsibility).  CSR adalah bentuk perkembangan pemahaman antara tiga keterkaitan utama dalam menjalankan usaha agar berkelanjutan (sustainable), triple bottom line, yakni Profit, Planet, and People. Dari pemahaman tersebut, berkembanglah paradigma yang tidak hanya mementingkan sisi kepentingan internal perusahaan, namun juga perhatian terhadap lingkungan dan kemakmuran masyarakat.

Terkadang, beberapa kalangan masih sinis dalam memandang praktik CSR perusahaan. Dikatakan bahwa CSR hanyalah “meredam amarah” masyarakat atas kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan. Ada lagi yang mengatakan bahwa praktik CSR itu adalah bentuk halus dari “suap” agar kepentingan perusahaan tidak terganggu. Harusnya, pandangan seperti ini harus kita usir jauh dari pikiran seorang Pekerja Sosial. Kita dituntut untuk menyalakan satu lilin daripada hanya mengutuk di tengah kegelapan.

Karier di bidang CSR Perusahaan inilah yang harus diambil oleh para lulusan sekolah pencetak Pekerja Sosial. Di satu sisi, kita memang membela kepentingan perusahaan, namun dengan kecakapan seorang Pekerja Sosial, perusahaan akan tersenyum karena aktivitas usahanya tidak terganggu, bahkan didukung penuh oleh pihak masyarakat. Pekerjaan seperti ini, paling ahli dilakukan oleh Pekerja Sosial. Saya tidak hendak memaparkan sebuah impian tanpa aksi nyata di lapangan, namun dengan ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepada mahasiswa Pekerjaan Sosial ini, praktik tepat dalam pemberdayaan ummat akan tercapai, bahkan terlampaui.

Hal ini juga didukung atas data lapangan (pengamatan empiris dari beberapa alumni), bahwa pemegang kunci departemen Community Development/Community Investment di perusahaan, masih dipegang oleh mereka yang tidak berlatar belakang Peksos. Namun, bukan berarti juga kita lantas sombong dan menganggap para praktisi belasan hingga puluhan tahun itu kurang baik dalam menyusun program pemberdayaan masyarakat. Sebagian diantara mereka cukup sukses, tapi sekali lagi saya katakan, ini kasuistis. Dan kampus pencetak Pekerja Sosial harusnya mampu menyiapkan tenaga-tenaga handal di bidang proyek Pemberdayaan Ummat.

Tentu, masih ada beberapa singkronisasi yang perlu diajarkan kepada mahasiswa Pekerjaan Sosial. Penyesuaian antara kebutuhan di lapangan (baca: perusahaan) dengan kemampuan praktis yang diajarkan di kelas-kelas perkuliahan.

Semoga bermanfaat sedikit ulasan yang dibuat. Insya Allah, ke depannya akan mencoba terus men-share secara berkala, beberapa pengalaman nyata di lapangan kerja, dengan kesesuaian teori-teori dalam Ilmu Pekerjaan Sosial.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah.

Kota Tenggarong-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Senin pagi, 22 Juli 2013 pukul 08.35wita

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: