Kekhawatiran yang Berlebihan*

Kekhawatiran yang Berlebihan*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Ormas Islam di Indonesia begitu banyak jumlahnya. Masing-masing memiliki landasan dan semangat juang yang beragam. Mulai dari kalangan tarekat (sufi), tradisionalis, moderat, modernis, hingga fundamentalis. Kalangan yang beragam ini tak sepatutnya menjadi pemecah belah, namun saling mengisi kekosongan dakwah sehingga cahaya Islam dapat benar-benar dirasakan oleh keseluruhan masyarakat yang ada di bumi nusantara ini.

Saya sendiri di sini mewakili jama’ah Tarbiyah (mengklaim diri sendiri) yang hendak mengutarakan pendapat terhadap jama’ah lainnya, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Tarbiyah sebagai salah organisasi dakwah di Indonesia memang mengambil grand design dakwah Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Ikhwanul Muslimin yang pada saat ini mencapai puncak kepemimpinannya dalam bingkai negara (daulah) karena Presiden Mesir saat ini adalah merupakan kader unggul Ikhwanul Muslimin. Namun perlu saya garis bawahi bahwa Tarbiyah tidak “mencontek” Ikhwanul Muslimin karena telah berada di posisi puncak semata, namun sejak awal, sejak tahun 1950-an telah ada kontak kader dakwah Indonesia dengan pimpinan tertinggi sekaligus pencetus ide dibentuknya Ikhwanul Muslimin kala itu, Asy Syahid Hasan Al Banna.

Baik Ikhwanul Muslimin maupun Hizbut Tahrir sebenarnya sama-sama memiliki tujuan yang sama. Yakni menegakkan hukum Allah di muka bumi. Ketika Hizbut Tahrir mempercayai jalan yang paling cepat (dan kata mereka satu-satunya) untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan menyadarkan ummat agar segera menegakkan Khilafah dengan tidak mengambil peranan dalam negara demokrasi yang saat ini kebanyakan dijalankan oleh negara-negara hampir di seluruh dunia. Sedangkan Ikhwanul Muslimin mengambil langkah gabungan antara gerakan dari bawah (pencerdasan ummat terhadap ajaran agama Islam, membantu masyarakat dengan mendirikan yayasan, fasilitas pendidikan dan kesehatan, dan lain-lain) serta mengambil peranan dalam sistem demokrasi dimana kader dakwah itu tinggal. Inilah titik pokok perbedaan diantara keduanya. HT menolak keseluruhan atas demokrasi, sedangkan IM memandang ada sisi baik dari demokrasi yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, terutama tujuan akhir untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi.

Rasanya cukup gemas ketika mendengar berita-berita Internasional di Palestina, Mesir, Turki, Tunisia, Libya, bahkan yang terbaru di Suriah. Hizbut Tahrir benar-benar tak mau bersinergi barang sedikit pun dengan Ikhwanul Muslimin. Dan terkhusus di Indonesia, kader dakwah paling santer HTI perbincangkan adalah ikhwah Tarbiyah yang telah bertransformasi menjadi Partai Politik bernamakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

PKS telah bekerja secara resmi sebagai partai politik sejak tahun 1998 yang kala itu namanya masih Partai Keadilan (PK), hingga saat ini. Kerja-kerja nyata kader PKS telah dapat dirasakan hampir seluruh rakyat Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Ya, dari ujung pelosok wilayah Barat Indonesia sampai dengan paling Barat Bumi Pertiwi kita tercinta. Kebagusan akhlak dan kesesuaian antara janji-janji dan slogan dengan realita membuat masyarakat terpukau dan berduyun-duyun menyenanginya. Baik tukang sayur, tukang ojeng, karyawan perusahaan, mahasiswa, dokter, dosen, hingga professor sekalipun, sungguh berbahagia dengan kehadiran kerja nyata dari kader PKS.

Tapi ternyata, selalu ada saja yang dipermasalahkan oleh saudara di “harakah tetangga” tersebut. Di satu sisi, ada baiknya, yakni mereka menjadi penyeimbang atas langkah-langkah yang telah ditempuh oleh kader PKS untuk ummat, namun ketika itu terus-terusan dan menghabiskan energi bagi kerja-kerja berikutnya. Rasanya cukup lah sampai di sini. Tak ada lagi gunanya mencapekkan diri untuk menanggapi mereka yang hanya bisa mengkritik, hanya bisa membuat opini dan menawarkan konsep. Kader Tarbiyah tidak anti kritik, tapi selektif terhadap kritik yang membangun ataukah malah merongrong semangat juang yang telah lama dibina.

Kekhawatiran yang berlebihan, hingga berujung pada isu-isu yang turut memojokkan kader dakwah Tarbiyah. Malah jadi aneh, ada saudaranya yang juga sama-sama memperjuangkan hukum Islam tegak di bumi Allah, tapi malah mereka serang habis-habisan seolah saudaranya itu tak memiliki kebaikan barang sedikit pun. Semua usaha meskipun kecil, seolah tak diakui dan hanya sia-sia belaka. Dianggapnya kerja adalah ketika benar-benar menegakkan Khilafah secara tiba-tiba dengan menjalankan hukum Islam secara keseluruhannya.

Ah, saudaraku. Terkadang cukup berat rasanya kalau tidak membalas serangan-seranganmu. Namun, kami sadar bahwa kalian adalah saudara kami, saudara yang kami cintai karena Allah. Oleh karena itu, biarlah kami mengambil jalan untuk mendiamkanmu saja. Silahkan terus berjuang, silahkan terus mengkritik, kami akan buktikan segala tuduhan-tuduhan miring itu dengan kerja nyata, dipandu Al Qur’an dan As Sunnah. InsyaAllah.. Laa haula walaa kuwwata illaa billahil ‘alliyyil adhiim..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

#Kembang Janggut-Kutai Kartanegara, Jum’at menjelang tengah malam, 21 Juni 2013#

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 21 Juli 2013 pukul 08.00wita.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: