Lagi-lagi Tentang Berbagi*

Lagi-lagi Tentang Berbagi*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Apakah kita lelah berbagi? Padahal sejatinya kita tak pernah memiliki apa-apa di dunia ini. Harta, benda, tahta, wanita, dan bahkan nyawa kita adalah sesuatu yang dimiliki oleh Dzat Yang Maha Agung, Allah azza wa jalla. Kesadaran beragama tak boleh terlepas dengan kesadaran sebagai seorang hamba, seorang abdi sejati Illahi Rabbi. Cerita seperti ini adalah keengganan membagikan sesuatu yang melekat padanya, pada akhirnya kikir, enggan berbagi karena mau menang sendiri.

Lain lagi dengan beberapa kelompok manusia yang merasa tak memiliki apa-apa untuk dibagi. Kondisi pas-pasan dengan pendidikan rendahan membuatnya minder dan tak dapat berbuat banyak. Sebenarnya tak cukup rendah juga, namun hanya karena selalu melihat ke atas, dia merasa bahwa dirinya orang kecil yang masih tak ada apa-apanya guna disebarkan kepada manusia lainnya. Golongan ini adalah manusia yang senantiasa merasa kurang, namun juga tak mau belajar, terlebih lagi berbagi.

Dua pemaparan di atas memang adalah contoh ekstrim untuk luapan perasaan berbagi. Maka, alangkah baiknya ketika kita mengambil jalan tengah yang menggabungkan kebaikan dari kedua hal tersebut di atas. Tidak hanya sekedar mengambil titik tengah diantara keduanya, namun juga mempertemukan kelebihan-kelebihan yang energinya berserakan tak terkondisikan.

Marilah kemarin kawan. Marilah kita berpikir sejenak, berbagi itu hal mudah, berbagi juga hal indah, berbagi tak menjadikan apa yang melekat dalam diri kita hilang atau rusak jadi sampah, namun malah terus semakin bertambah juga penuh berkah. InsyaAllah.

Berbagi apa sajalah yang kita miliki. Mungkin senyuman, bisa juga dengan ilmu sains, sosial, budaya bahkan agama. Berbagi juga tak harus banyak, membagi makanan sepiring bersama dengan yang benar-benar lapar dan membutuhkan bisa jadi berharga. Tiap hari menginfakkan berapapun rizki kita di kencleng masjid sekitar tempat tinggal pun jadi pahala.

Berbagi itu tak harus menunggu kaya, tak harus menunggu dalam kondisi berlebih. Memang benar ketika kondisi kita berlebih, maka akan semakin banyak yang dapat kita bagikan. Tapi itu tidaklah bisa dijadikan dasar untuk semakin kikir, padahal diri sudah fakir –naudzubillah-.

Mari sadari bersama bahwa Allah telah memberikan kelebihan di setiap sisi kekurangan yang kita miliki, siapapun itu orangnya. Oleh karenanya, potensi ini jangalah sampai kita sia-siakan. Akal yang masih berfungsi, kondisi fisik yang masih prima, penglihatan yang masih sempurna, pendengaran yang masih peka terhadap pembicaraan, mulut yang masih bebas berbicara, dan masih banyak lagi. Itulah modal kita untuk berbagi. Berpikirlah menjadi orang kaya, karena sejatinya rahmat dari-Nya memang tak pernah jeda menghampiri kita.

Jadi, masih enggankah berbagi? Semoga Allah melembutkan hati-hati kita untuk senang dan gemar berbagi. Tentu, niatkan hanya karena ingin mendapat ridho-Nya.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

#Kembang Janggut-Kutai Kartanegara, Kamis sore, 20 Juni 2013#

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 18 Juli 2013 pukul 08.00wita.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: