Ketahanan Aktivis Dakwah di Dunia Nyata

Bismillah..

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”

(Q.S Al Anbiyaa’, 21:107)

“. . . Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”

(Q.S Saba’, 34:28)

Universalitas ajaran agama Islam tergambar jelas dari ayat-ayat yang telah diturunkan oleh dan tertuang asli dan murni sampai sekarang tanpa ada yang bisa mengubahnya. Hal ini dikarenakan jalinan kesinambungan dalam menyampaikan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Allah, dan kita bisa menyebutnya dengan dakwah. Penjabaran yang lengkap tentang dakwah yaitu mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, sehingga mereka meninggalkan thaghut dan beriman kepada Allah agar mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

Perintah untuk dakwah itu sendiri juga kita ketahui bersandar pada firman Allah azza wa jalla berikut ini, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali Imran, 3:104). Seruan untuk amar ma’ruf dan nahi munkar adalah untuk diemban seluruh umat manusia, sebagai pelanjut perjuangan para nabi.

Masa mahasiswa adalah masa paling kondusif untuk membina pemikiran yang lurus sesuai manhaj kenabian dalam menyebarkan risalah dakwah Islam fi sabilillah. Masjid kampus sebagai markas dakwah yang di dalamnya terdapat para aktivis bernaungkan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). LDK sebagai organisasi dakwah resmi di dalam kampus memiliki keleluasaan dalam membina para mahasiswa yang mempunyai kecenderungan “baik dan lurus” agar mampu mandiri menjadi penyeru dakwah di kemudian hari. Konsep kaderisasi yang tak hanya komprehensif namun juga menarik, mutlak diperlukan untuk kepentingan keberlanjutan aktivis dakwah.

LDK pada umumnya memiliki beberapa strategi untuk membina kadernya. Mulai dari yang baru bisa baca Al Qur’an, masih pacaran, belum menutup hijab secara syar’i, hingga mereka yang memang telah terbiasa berkecimpung di rohis semasa SMA dan siap digembleng secara lebih serius. Oleh karenanya LDK tidak langsung memukul rata kadernya dalam hal pembinaan. Ada tahapan-tahapan (marhalah) yang dijalankan sesuai dengan kafa’ah yang melekat padanya.

Di masa bergabung di dalam LDK ini, mulai muncullah karakter baru yang lebih menggebu dan bersemangat tinggi. Namun, banyak pula karakter yang muncul adalah menjadi semakin lembut dan sopan, serta mantap dalam berbicara. Ada lagi karakter yang berpendapat bahwa apa yang diyakininya lah yang paling benar, padahal persoalan furu’ (cabang) memang akan selalu ada perbedaan dan tidak perlu merasa diri paling benar.

Ya, beberapa karakter yang saya gambarkan di atas adalah secuplik realitas yang saya temui dan amati selama ini. Meski dengan output karakter yang seringkali berbeda, tapi yang menjadi titik tekan adalah pada idealisme yang melekat pada pribadi masing-masing kader LDK untuk berkomitmen penuh menjalankan ajaran Islam secara kaffah. Hal ini tidak berlebihan, karena memang para kader dakwah ini menyambut seruan Allah yang termaktub di dalam Al Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Q.S Al Baqarah, 2:208).

Komitmen kuat itu senantiasa terjaga karena berada dalam lingkungan yang kondusif. Lokasi masjid yang dekat, banyaknya kawan yang membangunkan untuk sholat tahajud, waktu luang untuk menghafal Al Qur’an, dan masih banyak lagi kemudahan-kemudahan yang lainnya. Namun, bagaimana ketika kondisi yang cukup mengenakkan tersebut dicabut? Kita sudah tak lagi berstatus sebagai mahasiswa dan telah hidup di lingkungan kerja yang jauh lagi dari praktek ibadah yang lurus.

Inilah yang menjadi problem juga tantangan. Komitmen kuat kita diuji oleh Allah dalam “dunia nyata”, dunia yang tak selalu indah dan sesuai dengan jalan pikiran kita. Masyarakat yang sangat awam, ibadah yang terlalaikan, maksiat yang terbiasakan, sanggupkah? Harus sedih dan kecewakah? Ingin keluar dari lingkungan yang tidak mengenakkan ini?

Wah wah wah, kalau pikiran di atas yang kita munculkan, sepertinya ada yang salah, atau paling tidak ya terlupakan. Kader dakwah memang dicetak untuk merubah keadaan, menjadi rahmat di tengah kegersangan. Dan tentu saja, menjadi panutan/teladan pada aktivitas yang menenangkan serta menyelamatkan.

Maka, hal pertama untuk mempertahankan komitmen itu adalah dengan merubah mindset agar terus berisi hal-hal yang positif. Tidak merasa paling pintar atau paling berilmu, namun tidak pelit berbagi. Sampaikan dengan cara lembut dan sopan, dan ketika dalam posisi mendebat pun dengan cara yang baik. Bukankah Allah telah memberikan rambu-rambunya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S An Nahl, 16:125).

Dan sekaranglah saatnya. Dunia pasca kampus adalah dunia nyata untuk menguji komitmen kita terhadap dakwah ini. Selalu haus ilmu, menambah kedekatan diri kepada Rabb, dan jalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Kepekaan sosial senantiasa ditingkatkan.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwah ^_^

NB: Tulisan ini pertama kali diterbitkan di website Eramadina.com

Joe and Ma'e di Hari Raya Idul Fitri 2011Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, An Activist, A Community Developer, A Great Dreamer, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Alumni Bandung College of Social Welfare, Department of Social Rehabilitation ‘08

Kader Aktivis Dakwah dari KAMMI(Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) STKS Bandung

Selesai ditulis pada hari Selasa sore, 21 Mei 2013 pukul 16.20wita @Kantor Distrik PT. Silva Rimba Lestari District Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 02 Juni 2013 pukul 08.00wita.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: