Relevansi Teori Social Work dengan Aktivitas Pekerja Sosial di Sektor Corporate

Sumber ilustrasi gambar dari sini

Relevansi Teori Social Work dengan Aktivitas Pekerja Sosial di Sektor Corporate*

*Oleh Joko Setiawan, S.ST.

Bismillah..

“. . . Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Q.S Al Mujaadilah, 58:11)

Waktu awal berkuliah di STKS Bandung, sempat terbersit untuk masuk di Jurusan Pengembangan Sosial Masyarakat (macro social work practice). Namun, ternyata niat tersebut malah saya urungkan ketika waktunya tiba untuk memilih jurusan, yakni di semester III, dan saya pun memilih jurusan Rehabilitasi Sosial yang lebih banyak belajar micro social work practice/pekerjaan sosial klinis. Sampai pada akhir kelulusan dari STKS Bandung, kecenderungan ke praktek makro lebih besar ketimbang praktek mikro. Alhasil, konseling dan terapi yang didapat sewaktu di bangku kuliah pun seakan-akan tak berbekas (sudah lupa kalau tidak segera membuka-buka catatan materinya kembali he he).

Setelah melewati tujuh bulan pasca kelulusan dari STKS Bandung, saya pun mendapatkan kesempatan untuk meniti karier di perusahaan. Dan tidak sembarang pekerjaan, posisi saya pun tepat dan cocok sebagai lulusan mahasiswa pekerjaan sosial, yaitu pada posisi Community Investment.

Karena saya memang sudah terbiasa dan senang menulis, maka dengan sedikit praktek yang saya temui secara langsung di lapangan, saya pun hendak memulai menulis relevansi antara materi-materi ataupun tema yang pernah saya pelajari semasa di kampus dulu dengan prakteknya di dunia nyata, khususnya pada pekerjaan community investment sebagai wakil dari perusahaan yang bergerak di bidang Hutan Tanaman Industri (HTI).

Untuk mengawali pembahasan kali ini, saya akan sedikit mengulas kembali mengenai apa itu Pekerjaan Sosial. Pekerjaan Sosial adalah suatu pelayanan profesional yang dilaksanakan pada ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam relasi kemanusiaan yang bertujuan untuk membantu, baik secara perseorangan maupun kelompok untuk mencapai kepuasan dan ketidaktergantungan pribadi dan sosial (Walter  A. Friedlander dalam Syarif Muhidin, 1982).

Praktek Pekerjaan Sosial terbagi atas tiga bagian, yakni mikro, mezzo dan juga makro. Praktek mikro lebih banyak berhubungan dengan individu-individu dan juga keluarga. Kemudian praktek mezzo banyak berkaitan dengan kelompok kecil, kelompok atau group tertentu. Sedangkan praktek makro lebih banyak bersinggungan dengan aktivitas komunitas dalam jumlah besar, masyarakat, termasuk tema kebijakan sosial/social policy.

Inti dari praktek pengembangan masyarakat dalam pekerjaan sosial adalah memungkinkan kelompok atau masyarakat untuk menyadari potensi juga ancaman yang berada di lingkungannya, kemudian menghubungkan dengan sistem sumber yang ada guna membantu penyelesaian masalah-masalah yang mungkin timbul di kemudian hari dengan kemandirian masyarakat itu sendiri. Poin utamanya masih tetap sama dengan goal pertolongan bidang pekerjaan sosial secara global yaitu to help people to help themselves.

Nah, bagaimana sebenarnya pekerjaan seorang Community Developer atau Community Investment (Comvest) sebagai wakil dari perusahaan untuk berhubungan langsung dengan masyarakat di sekitar? Tentunya saya tidak akan membuat tulisan berat dan ilmiah, tapi lebih bersifat ringan sebagai bahan bacaan dan refleksi ilmu pengetahuan yang didapat.

Sebelum masuk kepada relevansi, saya akan kemukakan terlebih dahulu mengenai gambaran pekerjaan Comvest. Dan tentu saja, karena background pekerjaan saya ada di perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri), maka yang saya kemukakan pun sangat terbatas dan kasuistis di perusahaan HTI saja, belum mencakup perusahaan secara luas.

Tim Comvest di HTI bertugas untuk membina hubungan baik dengan masyarakat lokal. Cara berhubungan baik ini beraneka ragam, namun yang dapat dilihat adalah dengan memberikan beberapa bantuan di sektor pendidikan, kesehatan, dan juga sosial budaya/keagamaan. Ranah-ranah tersebut dapat menjadi pintu masuk interaksi langsung antara wakil perusahaan dengan masyarakat lokal. Lebih luas dari itu, tim Comvest juga mewakili perusahaan dalam kaitannya soal klaim tanaman kehidupan warga yang masuk dalam area konsesi perusahaan, kemudian juga perbaikan sarana dan prasarana jalan serta jembatan.

Dari keterangan di atas, maka telah jelas bahwa konsep marhalah (tahapan) praktek pekerjaan sosial seperti asesmen, menyusun rencana intervensi, intervensi, dan juga terminasi sangat sejalan dan tepat untuk dilaksanakan. Tak hanya berbicara konsep, namun mahasiswa pekerjaan sosial juga telah banyak mempraktekkan tahapan-tahapan tersebut kepada masyarakat yang plural dan bahkan berbeda budaya (mengingat mahasiswa dari STKS Bandung berasal dari daerah hampir di seluruh Indonesia).

Asesmen tentu saja digunakan untuk mengetahui profil desa dan juga kebiasaan masyarakatnya. Latar budaya yang sangat berbeda, apalagi di sini adalah suku Dayak yang bermacam-macam (Dayak Kenyah, Dayak Tunjung, Dayak Modang, dan lain-lain) membuat kita harus tepat dalam mengasesmen sehingga perencanaan juga pelaksanaan program tidak “asal-asalan” saja.

Untuk perusahaan HTI semacam tempat kerja saya ini adalah perusahaan yang baru masuk, dan masa panen dari hasil tanam nya itu sendiri baru akan dipetik pada 5-6 tahun ke depan. Oleh karenanya, pada masa-masa awal ini, program-program yang dikucurkan oleh perusahaan barulah bersifat charity dan tidak terikat dengan aturan CSR (karena belum ada profit).

Nah, di sini jugalah letak tantangan profesi social worker dimana dirinya dalam satu sisi sebagai wakil perusahaan yang tentu saja membela kepentingan perusahaan, di sisi lain juga turut membela masyarakat dengan program-program yang bersifat memberdayakan. So, apakah siap mengambil tantangan ini? The challenges telah nampak nyata di depan.

Maka bertahanlah, dan bersiap-siagalah..!! <== Nasyid haraki style (^_^)

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwah ^_^

Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, An Activist, A Community Developer, A Great Dreamer, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Alumni Bandung College of Social Welfare, Department of Social Rehabilitation ‘08

Community Investment Staff of PT. Silva Rimba Lestari (Agra Bareksa Group)

Selesai ditulis pada hari Ahad malam, 19 Mei 2013 pukul 19.18wita @Kamar No.2 Mess “Enggang” Karyawan PT. Silva Rimba Lestari District Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Jum’at, 31 Mei 2013 pukul 08.00wita.

Comments
3 Responses to “Relevansi Teori Social Work dengan Aktivitas Pekerja Sosial di Sektor Corporate”
  1. RY says:

    Temen2 saya juga beberapa bekerja di bagian CSR ….

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: