Tea Morning PDG: Sharing with Pengajar Muda IM

Tea Morning adalah salah satu program di Direktorat PDG PKPU yang dilaksanakan oleh Divisi PME (Project Monitoring and Evaluation). Kegiatan ini mulai kembali diaktifkan setiap hari Selasa pagi-siang pada tahun 2013 sejak awal Maret lalu. Nah, pada kesempatan hari Selasa (09/04/2013) kemarin, Tea Morning mendatangkan salah satu alumni Pengajar Muda IM (Indonesia Mengajar) batch#3 yang bernama Dimas Sandya Sulistio, saat ini juga diperbantukan di management Indonesia Mengajar itu sendiri.

Tulisan saya sebelumnya tentang Indonesia Mengajar (IM) bisa dilihat di sini SEMINAR: SOSIALISASI GERAKAN INDONESIA MENGAJAR

Sungguh sangat menarik sekali mendengar pemaparan dari alumni ITB angkatan 2004 jurusan Planologi ini. Dimas menceritakan detil mengenai program Indonesia Mengajar, mulai dari seleksinya, juga sampai pada cerita dirinya selama mengajar di pelosok negeri, dan ceritanya memang benar-benar inspiring banyak orang. Cerita itu merangkum tentang proyeksi masalah dan tantangan di bidang pendidikan, semangat berbagi, juga pemberdayaan.

IM men-setting agar para Pengajar Muda memiliki empat hal pokok yang harus dilakukan ketika telah dikirim ke daerah. Seperti yang telah dijelaskan oleh Dimas bahwa dirinya yang ditugaskan di desa yang terletak di daerah pegunungan Aceh ini memiliki tugas pokok: 1)Mengajar di kelas; 2)Menyelenggarakan esktrakulikuler; 3)Pembelajaran masyarakat; dan terakhir 4)Advokasi pendidikan.

Beralih kembali kepada suntikan semangat yang disampaikan oleh Dimas, dia mengatakan bahwa tidak perlu takut untuk menghadapi sesuatu hal yang buruk. Karena menurutnya, ketika kita telah melewati sesuatu yang buruk tersebut, maka selanjutnya ketika melewati sesuatu hal yang buruk (lagi), maka akan biasa saja. Oleh karenanya, yang terpenting adalah proses untuk adaptasi. Dan IM telah menyediakan pembekalan yang cukup agar para Pengajar Muda tidak shock menghadapi realitas di lapangan.

Lalu hal yang menarik adalah bahwa seluruh Pengajar Muda tidak diperkenankan menggunakan handphone mulai hari Senin-Jum’at. Ya, jangan dibayangkan seperti kehidupan kita di perkotaan. Para Pengajar Muda memang sengaja dikirim di daerah-daerah terpelosok, bahkan banyak yang masih belum terdapat saluran listrik. Coba Anda bayangkan? Tahun 2013 masih ada daerah yang belum mendapatkan aliran listrik??! Tentu Anda sangat jarang sekali memikirkannya. Dan dijelaskan juga oleh Dimas bahwa memang pergerakan kehidupan di pedesaan itu terkesan lambat. Bagi kita yang terbiasa hidup di kota dengan alur informasi yang begitu sangat cepat, maka gerak kita pun terlihat cepat. Dan bagi orang Desa, sesuai dengan penuturan Dimas, “karena di desa itu pergerakan aktivitas kehidupannya lambat, maka kegiatan kita yang sudah biasa terjadawal, dari satu aktivitas lanjut ke aktivitas lainnya, itu saja sudah dianggap sebagai sesuatu yang ‘wah’ bagi mereka”.

Lebih lanjut lagi, Dimas juga menjelaskan kepada karyawan PDG PKPU bahwa Pengajar Muda sebisa mungkin ditahan untuk melakukan aktivitas charity. Jangan dipahami bahwa hal ini menahan seseorang untuk berbuat baik, namun ini adalah model pembelajaran yang diterapkan, bahwa Pengajar Muda ada di daerah tersebut untuk berinvestasi kepada manusia, bukan investasi dalam bentuk barang/infrastruktur. Nah, bentuk investasinya itu berupa pemahaman akan pentingnya pendidikan, pola pendukung aktivitas pendidikan, dan saling menginspirasi antar anak maupun guru terkait proses pendidikan.

Dimas kembali lagi menegaskan bahwa sebenarnya orang-orang di desa ini memiliki kekuatan untuk menjadi sejahtera. Yang mereka butuhkan bukanlah pemberian terus menerus, namun pembukaan terhadap AKSES. Dimas menganalogikan bahwa dirinya dan para pengajar muda lainnya hanyalah membukakan “jendela”  bagi anak-anak, guru, maupun warga masyarakat sekitar. Setelah mereka melihat keluar dari jendela tersebut, mereka akan menyadari bahwa ternyata dunia ini luas, dan begitu banyak kesempatan untuk bisa diraih di kemudian hari.

Hal terakhir yang sangat menarik adalah pengungkapan Jajaka asli Bandung ini tentang tagline Indonesia Mengajar “Satu Tahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”. Padahal menurut dirinya, yang menginspirasi itu adalah anak-anak, guru-guru, dan orang-orang yang ada di desa tersebut. Dan ia merasa terinspirasi setelah pulang meninggalkan desa tempat ia mengajar itu. Apa-apa yang ia lakukan saat ini adalah sebagai refleksi bahwa memang terdapat banyak sekali inspirasi dari mereka yang pernah ia bersamai selama satu tahun tersebut.

Dan sebagai penutup, Dimas mengungkapkan bahwa inti dari program Indonesia Mengajar yang dijadwalkan berjalan selama 5 tahun sejak 2010 ini adalah “Mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk turun tangan guna mengurai masalah pendidikan yang ada di Indonesia serta menemukan inovasi-inovasi baru dalam bidang pendidikan”.

JoeSekigawaSalam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwah by Muhammad Joe Sekigawa, S.ST.

Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman who has a great dreams

A Social Worker fresh graduated from Bandung College of Social Welfare (BCSW), Department of Social Rehabilitation

Staf Ahli Bidang Relasi Publik, Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia (FORKOMKASI) masa bhakti 2012-2013

A Team 5 Coordinator for The Book of Dreams project

Divisi Disaster Risk Management (DRM) PKPU Pusat.

Selesai ditulis pada hari Kamis pagi, 01 Jumadil Akhir 1434 Hijriah/ 11 April 2013 at 06.15wib @Kostan Peradaban Jl. Swadaya II-C No.56-C Tanjung Barat-Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: