Aku dan [Rencana] Kontribusi Untuk Negeri

Hari ini, Ahad 10 Maret 2013 aku baru sempat untuk menonton film Habibie-Ainun. Bukanlah sesi percintaan yang menjadi fokus tontonan kali ini. Namun, aku lebih menyoroti bagaimana semangat seorang “Habibie” untuk bertekad kuat menyumbangkan kelebihan yang dititipkan Allah kepadanya untuk negeri ini, Indonesia tercinta. Meski pada akhirnya negara ini masih belum bisa menghargai dengan selayaknya tokoh pemikir out of the box dengan segala kejeniusannya ini, itu beda lagi jalan ceritanya.

Jujur, aku memang sering mengikutsertakan diriku ketika menonton film-film inspiratif semacam ini. Tak terkecuali saat menonton film Sang Pemimpi, Negeri 5 Menara, dan kawan-kawannya. Apalagi film-film yang menyajikan perjuangan dan impian besar, terutama keluar negeri, menjadi nilai jual tersendiri untuk menyita waktuku guna menontonnya.

Ah, Pak Habibie. Aku memang tak sejenius beliau. Namun, paling tidak frekuensi tekad untuk berkontribusi bagi negeri ini, layaknya tak terpaut jauh dengan beliau. Jalanku dan jalan beliau memang berbeda adanya, namun bentuk nyatanya sama-sama melahirkan satu kontribusi kecil yang nantinya akan menjadi sebuah kontribusi besar dan menjadi kebanggaan bersama.

Kalau Pak Habibie, negeri asing tempat beliau mengikat masa lalunya adalah Jerman, aku lebih memilih Jepang sabagai negeri yang nantinya akan berpengaruh besar dalam pencapaian kontribusiku bagi bangsa ini.

Ya, meski sampai pada detik tulisan ini dibuat, belum ada tanda-tanda “lampu hijau” tuk dapatkan beasiswa S-2 ke Negeri Sakura itu, aku menganggap hal ini semua sebagai proses. Dan tak ada proses yang instan, kalau pun memang ada, tentu kualitasnya tak sama dengan yang matang secara alamiah. Lihatlah buah yang matang di pohon dengan dikarbit, tentu berbeda bukan? Tentu masa depanku pun kuyakini demikian.

Rasanya, sungguh jauh berbeda memang., Ketika Pak Habibie dapat menyumbangkan hasil karyanya berupa “Pesawat Terbang”, lalu bagaimana denganku yang belajar ilmu sosial ini? Tidak ada harapan sepertinya. Oh tidak bisa!! Bukan begitu adanya..

Social Worker di Indonesia punya masa depan. Bahkan lemahnya profesi ini di tengah masyarakat Indonesia saat ini merupakan angin segar yang menyimpan harapan besar. Kalau dalam bahasanya Pak Habibie (di dalam film) ketika menyampaikan pandangan filosofisnya kepada Bu Ainun, “Kita tengah sedang berada di lorong, sebuah lorong yang gelap. Namun yakinlah, bahwa sebentar lagi akan kita lihat cahaya yang terang benderang di depan sana”. Sangat inspiratif bukan?

Syukur Alhamdulillah, memang sejak tahun 2009 silam, aku sudah mulai berinteraksi dengan para pemain utama organisasi profesi ini, bernamakan Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI). Dan dengan konsistensi mengikuti perkembangannya (juga turut berkontrubusi membantu sesuai kapasitas diri), aku pun menjadi tak asing lagi bagi mereka.

Dan tentu saja, saat ini aku akan mengumpulkan banyak pengalaman di lapangan terkait praktik pekerjaan sosial, menimba ilmu yang lebih tinggi keluar negeri, dan pada masanya, akan menjadi pemain utama dalam organisasi profesi Pekerja Sosial di Indonesia. Dan aku rasa, ini adalah sebuah kontribusi besar, sebelum nantinya diriku memutuskan untuk menjadi pengusaha mandiri. InsyaAllah . . .

C’mon, semua pembaca tulisan ini. Anda semua pasti punya mimpi bukan? Menjadi takut mewujudkan impian itu ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak sejalan? Memang begitu tabiatnya Kawan!! Bukan mimpi besar namanya jikalau itu dapat mudah diraih, lalu dimana letak perjuangannya?

Maka, mulailah gali semangat itu kembali. Kumpulan mimpi-mimpi yang berserakan di halaman, rapikan dalam sebuah file dan kemudian wujudkan satu per satu mimpi itu. Man Jadda Wa Jadda, begitu ungkap pepatah Arab yang dipopulerkan oleh A. Fuadi di Novel dan Film Negeri 5 Menara. Semoga bermanfaat ^_^

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwah by Muhammad Joe Sekigawa, SST

Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman who has a great dreams

A Social Worker fresh graduated from Bandung College of Social Welfare (BCSW), Department of Social Rehabilitation

Staf Ahli Bidang Relasi Publik, Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia (FORKOMKASI) masa bhakti 2012-2013

Selesai ditulis pada hari Ahad malam, 29 Rabiul Akhir 1434 Hijriah/ 10 Maret 2013 at 21.01wib @Kostan Peradaban, Jl.Swadaya II-C No.56-C Tanjung Barat, Jagakarsa-Jakarta Selatan

Comments
2 Responses to “Aku dan [Rencana] Kontribusi Untuk Negeri”
  1. Dyah Sujiati says:

    InsyaAllah, Allah akan membuka jalan bagi hamba-Nya yang berbuat kebaikan🙂

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: