Mengapa Saya Berpartai?

Panji PKS berkibar depan Gedung Sate

Basmalah

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata Partai? Bayangan positif atau negatif yang langsung diindera oleh pikiran Anda? Sepakat!! ^_^ (saya telah bisa menerka). Sebagian besar mengatakan bahwa dirinya anti dengan partai, karena citra partai yang buruk, gemar korupsi, dan penuh dengan retorika semata. Mengapa saya berkata demikian? Karena memang itulah yang saya rasa dan pikirkan pada sebelum tahun 2011 kemarin.

Lalu kemudian apa yang sebenarnya terjadi sehingga di tahun 2011 otak saya mempersepsikan hal yang lain seperti sebelumnya? Jawabannya adalah pada wawasan yang mendalam. Saya tidak hendak mengatakan bahwa Anda sekalian yang tetap keukeuh menyatakan bahwa berpartai “haram” hukumnya atau tidak ada gunanya berharap pada partai politik di Indonesia karena semuanya penipu dan lain sebagainya adalah kelompok orang yang kurang wawasan, namun pemaknaan terhadap partai politik tersebut lah yang telah bergeser dalam benak pemahaman saya.

Jujur saya katakan bahwa sebelumnya, saya adalah orang yang menyatakan anti politik. Baik perpolitikan kampus maupun perpolitikan secara kenegaraan. Pemilu Presma saya abstain, pemilu 2009 saya abstain, saya apatis terhadap gelombang perpolitikan di sekitar. Saya rasa ada dan tidak adanya partai politik, tidak ada bedanya. Tapi, itu dulu, dan sekarang tak begitu lagi ^_^

Persinggungan pertama saya dengan kepedulian terhadap masalah politik adalah ketika bergabung dalam barisan gerakan dakwah kampus nasional bernamakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Di sana saya temukan jama’ah para aktivis masjid kampus, tapi kritis, cerdas, bersuara lantang terhadap persoalan daerah maupun nasional, dan juga solutif. Belum saya temukan sebelumnya karena kebanyakan yang saya temui, para mahasiswa yang menjadi aktivis masjid adalah mereka yang kolot, kerjaannya di masjid saja, dan juga tidak terlalu mau membaurkan diri terhadap pergaulan lingkungan yang memang berbeda dengan mereka. Namun saya selama ini salah, aktivis masjid begitu berkilau cahayanya ketika saya menemukan mereka sebagai aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Tak jarang saya dapatkan inspirasi terkait banyak hal dari mereka. Mereka yang berasal dari ekonomi orang kaya, mereka yang berwajah tampan dan cantik, mereka yang telah hafal banyak hadist dan bahkan menjadi hafidz Qur’an, mereka yang selalu menjadi mahasiswa berprestasi di kampusnya, mereka-mereka yang memiliki begitu banyak kelebihan dari diri saya. Dan yang membuat saya terkagum-kagum adalah bahwa mereka ini merupakan aktivis masjid kampus, mereka senang sekali mengkaji isi Al Qur’an dan Hadist, mereka gemar menyempatkan sholat lail, dhuha dan sholat rawatib, mereka gemar puasa sunnah, mereka gemar tilawah Al Qur’an minimal satu juz per hari, dan mereka yang sama sekali tidak berpacaran, padahal semua modal untuk berpacaran layaknya muda mudi sekarang ini telah mereka kantongi. Diri mereka terjaga dari sebab-sebab kemurkaan Allah, dan tidak lupa kepekaan diri mereka terhadap persoalan pelik bangsa ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa rahasianya orang-orang bervisi besar ini?

Ternyata, selama ini saya memang kurang baca, dan bersama para aktivis KAMMI, saya diperkenalkan apa itu Liqo’/halaqah yang membuat hati tenteram dengan murabbi yang mumpuni, suasana persaudaraan (ukhuwah) yang murni, serta tumpukan ilmu baru dari para pencatat sejarah melalui pena. Sebut saja mulai dari Syaikh Hasan Al Banna, Asy Syahid Sayyid Qutbh, Dr. Muhammad Al Ghadban, Syaikh Dr. Yusuf Al Qardhawi, Dr. Fathi Yakan, Ibnul Qayyim Al Jauziah, hingga penulis lokal, KH. Rahmat Abdullah, Ust. Anis Matta, Ust. Cahyadi Takariawan, dan sederetan penulis hebat lainnya.

Maka, lengkaplah sudah. Berawal dari membaca buku sebagai sumber ilmu pengetahuan baru, mendiskusikan secara kritis dan analitis, membandingkan dengan pemikiran-pemikiran lain yang tidak sejalan, serta mengaplikasikannya bersama-sama dengan jama’ah untuk menggapai derajat hikmah. Dalam suasana interaksi yang telah dimulai pada awal bulan November 2011 lalu, maka terbukalah jalan pemikiran saya. Bahwa, tidak semuanya politik itu “kotor”, dan bahkan Islam merupakan satu kesatuan komprehensif yang tidak hanya mengatur permasalahan tata cara ibadah, tapi juga mencakup aktivitas kenegaraan seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad shallallahu alayhi wasallam.

Dan, di sinilah saya berproses juga berkarya, bersama Partai Dakwah, Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bagaimana dengan Anda? ^_^

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwah by Muhammad Joe Sekigawa, SST

Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman who has a great dreams

A Social Worker fresh graduated from Bandung College of Social Welfare (BCSW), Department of Social Rehabilitation

Corporate Development Manager at PeDe Corp Jakarta

Staf Ahli Bidang Relasi Publik, Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia (FORKOMKASI) masa bhakti 2012-2013

Ketua Umum BSO Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) STKS Bandung masa bhakti April s.d Oktober 2012

Selesai ditulis pada hari Senin sore, 10 Desember 2012 at 15..41wib @Gedung Gelanggang Olahraga (GOR) Ciracas, Jakarta Timur

G A L L E R I E S

Joe bersama Kader Militan PKS = Joe di Belakang Ketua DPD PKS Bjn

Panji PKS berkibar depan Gedung Sate = PKS Bojonegoro

Save our brother at Arakan = Pra kebernagkatan Pawai Sambut Ramadhan 1433 H

Comments
2 Responses to “Mengapa Saya Berpartai?”
  1. genthuk says:

    Bila memang ber-Islam, berpartai, tahukah kamu apa risikonya? Jangan bilang siap dulu kalau belum tahu risikonya…. Selamat belajar di universitas kehidupan

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: