Cerita dari Tapal Batas di Peringatan 67 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Hari Senin, 14 Agustus kemarin saya menyempatkan diri untuk online di Pojok Net. Ya, setelah resign dari jaga warnet di pertengahan 2011 yang lalu, saya lebih sering online di Pojok Net yang terletak di Dago Pojok ini, tak begitu jauh dari kostan saya berada. Di sana, saya temukan satu judul film yang menarik, ”Cerita dari Tapal Batas” dan segera saja saya copy ke flashdisk yang kebetulan sudah menancap di CPU komputer. File itu masih saja tetap tersimpan di Laptop saja, dan malam ini, setelah menyaksikan isinya, maka jadilah sebuah tulisan yang akan saya paparkan di bawah ini.

Benar, memang malam ini. Hari ini, Jum’at 17 Agustus 2012, tepat diperingati sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-67 tahun sejak dideklarasikannya oleh Soekarno-Hatta tahun 1945 silam di Jakarta. Secara tak terencana, ba’da sholat tarawih, saya dan Radja (nama keponakan saya) memutar film ini, “Cerita dari Tapal Batas”.

Film ini berkisah tentang Martini, satu-satunya guru SD yang sudah delapan tahun mengabdi serta masih bertahan di SDN 14 Badat, tepatnya di dusun Badat kecamatan Entikong kabupaten Sanggau di pulau Borneo sana. Ya, satu-satunya karena memang tidak ada siapa-siapa di sana, di sebuah sekolah terpencil itu Martini bertindak sebagai kepala sekolah, guru, sekretaris, juga pesuruh, tak ada yang membantu dirinya selain dia sendiri. Cukup mengharukan bagi saya, satu orang guru, harus mendidik anak-anak lebih dari 50 orang siswa. Haru sekaligus miris di hati.

Tak hanya masalah kekurangan guru yang menjadi kendala, diketahui baru saja dibangun perpustakaan dengan proyek senilai 72 juta. Padahal menurut Martini, siapa yang mau menjaga perpustakaan itu, sedangkan tenaga mengajar saja tidak ada? Menurutnya lagi, itu hanya pemborosan keuangan negara saja. Apalagi rumah dinas untuk guru yang ada saat ini, sama sekali tidak layak. “Kenapa tidak digunakan untuk membangun rumah dinas guru saja dulu?” ucapnya dengan nada kecewa.

Kekurangan guru, ketidaktepatan penganggaran, dan selanjutnya siswa-siswinya yang cukup menyesakkan. Mereka semua hampir semuanya tidak memakai sepatu/alas kaki, adapun memakai sandal, dan itu hanya beberapa orang saja. Bahkan, seragam pun ada pula yang tidak memilikinya. Lalu dimana? Dimana perhatian pemerintah selama ini? Apakah hanya dengan menempatkan Ibu Martini saja yang sudah mengabdikan dirinya sejak delapan tahun silam, pemerintah menganggap sudah perhatian kepada rakyatnya? Khususnya yang berada di dusun Badat Baru ini.

Kisah kemudian beralih kepada sosok Kusnadi, seorang perawat yang bertugas di kecamatan Entikong. Hanya dialah satu-satunya tenaga kesehatan yang berkeliling untuk membantu mengobati para warga yang membutuhkan. Perjalanan ditempuhnya dari Entikong ke Badat Baru, Badat Lama, Gun Jemak, dan Gun Jemawang itu membutuhkan puluhan kilometer jauhnya dan berjam-jam perjalanan dengan menggunakan perahu ataupun jalan kaki. Semua daerah itu merupakan daerah perbatasan dengan Malaysia. Karena minimnya fasilitas kesehatan di sekitar warga lah yang mengharuskan Kusnadi berkeliling. Sungguh elok prinsip yang dipegang erat oleh Kusnadi, “Saya ada untuk melayani masyarakat, bukan untuk dilayani”. Dan prinsip itulah yang membuat ia bertahan meski dengan timbal balik yang sangat minim dari pemerintah.

Daerah yang letaknya di perbatasan antara Indonesia-Malaysia ini bukan tanpa masalah. Apalagi melihat ketimpangan pembangunan antara di wilayah Malaysia dengan daerah mereka yang notabene dalam naungan pemerintahan Indonesia. Pekerja anak dan human trafficking menjadi masalah paling sering ditemui di sana. Belum lagi hasil bumi dari warga Indonesia yang penjualannya selalu ke negeri Jiran, maka uang yang banyak mereka miliki pun adalah ringgit, bukan rupiah. Lebih miris lagi, beberapa warga ditanya tentang Indonesia, mereka sama sekali tidak tahu. Ada pengakuan polos seperti ini, “Saya memang warga negara Indonesia, tapi saya tidak pernah tahu Indonesia”. Rasanya mata ini berair dan hampir tumpah mendengar pengakuan tersebut.

Di sesi terakhir, dimunculkan warga pecinan di Singkawang. Digambarkan bagaimana nasionalisme mereka yang sudah merasa menyatu dengan bangsa Indonesia. Wujud keharmonisan antara warga asli Kalimantan (suku Dayak) dengan orang-orang Tiongkok ini.

Yang paling akhir, tak ada lagi yang bisa ditambahkan kecuali, refleksi atas 67 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia kita ini. Sudahkah memang kita merdeka? Ataukah kemerdekaan itu hanya untuk orang-orang di kota saja, lebih spesifiknya untuk para penguasa dan pemilik modal saja. Sejatinya daerah-daerah terpencil di sana sama sekali tidak paham arti sebuah simbol berada di bawah negara Indonesia ketika kesejahteraan dan keamanan hanya bisa mereka lihat dari negeri tetangga.

Wahai penguasa Indonesia? Tidakkah Engkau peduli? Tidakkah Engkau menangis dengan posisimu sebagai pemimpin sementara banyak rakyatnya yang miskin seperti demikian?

Selamat Ulang Tahun yang ke-67 untuk bangsa Indonesia. Masih banyak agenda perubahan yang wajib dijalankan. Kita sebagai pemuda dengan jargon utama MUSLIM NEGARAWAN. Mari terus belajar sembari berkarya, dan tentu saja bekerja untuk Indonesia.

Salam Pemuda Indonesia, Salam Semangat Perubahan, Salam Muslim Negarawan!

Salam hangat dan semangat selalu by Muhammad Joe Sekigawa, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman who has a great dreams

An Undergraduate Social Work Student of Bandung College of Social Welfare (BCSW), Department of Social Rehabilitation 2008

Koordinator Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) STKS Bandung

Selesai ditulis pada hari Jum’at malam, 17 Agustus 2012 at 22.35wib @Kamar Peradaban, desa Bangilan kecamatan Kapas kota Bojonegoro, Jawa Timur

Comments
4 Responses to “Cerita dari Tapal Batas di Peringatan 67 Tahun Kemerdekaan Indonesia”
  1. akbarmangindara says:

    Ini Film dokumenter yg dibuat oleh Kak @ichwanpersada .. Keren..

  2. fasyaulia says:

    Keren nih tampaknya!

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: