Generasi Rabbani Remaja Masjid Kelurahan Dungus Cariang

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Undangan kali ini datangnya dari Akang Dede Sunarya, Sahabat seperjuangan saya di Perkumpulan KerLiP (Keluarga Peduli Pendidikan) dalam beberapa bulan silam. Sudah jauh-jauh hari beliau meminta saya untuk turut berkontribusi dalam arus perhelatan amar ma’ruf nahi munkar (dakwah) bagi kalangan remaja masjid di Kelurahan Dungus Cariang-Ciroyom Kota Bandung. Dan pada akhirnya, barulah malam ini, Jumuah 15 Juni 2012 kesempatan itu tiba.

Perjalanan menuju lokasi tak begitu banyak menemui kedala, rasanya jalan-jalan itu menjadi terbuka lebar dan kegembiraan hati pun senantiasa riang menari menemukan kenyamanannya. Ya, bagi saya, mendapatkan kesempatan untuk berbagi adalah sama bahagianya dengan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu. Rumusnya, memberi=menerima, dan semakin banyak memberi, akan semakin banyak yang kita terima. Allah lah Yang Maha Kaya. Segala puji bagi Allah (Subhanallah).

Tiba di Masjid Jami’ Al Ikhlas sudah lewat dari pukul 19.30wib, sholat jama’ah pun terlewat karena masih berada di perjalanan, maka saya pun sholat Isya’ berjama’ah bersama dengan Akang Dede yang luar biasa itu. Seorang Sahabat yang punya visi misi dakwah ke depan, dengan memperhatikan bibit-bibit muda generasi penerus di masa depan. Salah satu kewajiban sholat lima waktu telah usai dilaksanakan, para remas (remaja masjid) pun mulai berduyun-duyun berdatangan satu per satu hingga jumlahnya yang melebihi dari 25 orang (ikhwan dan akhwat). Subhanallah. Lagi-lagi bibir ini tak hentinya mengucap syukur karena melihat atensi (baca:perhatian) remajanya masih begitu luar biasa untuk senantiasa istiqomah dalam menuntut ilmu. Menurut informasi dari Mas eh Akang Dede, kegiatan ini memang menjadi agenda rutin seminggu sekali dengan tema materi yang berbeda-beda.

Sesuai dengan undangan yang diberikan, malam ini kita akan membahas mengenai Da’wah Bil Qolam (dakwah melalui tulisan). Kita ketahui bersama bahwa secara garis besar, dakwah dibagi menjadi dua: dakwah dengan lisan dan dakwah dengan tulisan. Nah, wabil khusus pada malam hari ini, tema yang dibahas adalah terkait poin yang kedua. Substansi dari dakwah sebenarnya adalah menyampaikan, nasihat-menasihati, menganjurkan untuk melakukan hal-hal yang baik serta mengingatkan untuk meninggalkan hal-hal yang munkar.

Perintah dakwah itu sendiri dapat kita dapatkan di dalam Al Qur’anul Kariim, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran/03:104). Ditambah lagi pada surat yang sama, menjelaskan mengenai betapa tingginya posisi umat manusia (muslim) dalam kancah pergaulan antar manusia sedunia, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran/03:110).

Subhanallah. Allahu Akbar. Para pengemban dakwah itu digelari oleh Allah sebagai ummat terbaik sepanjang menyerukan kepada hal yang baik (ma’ruf) dan mencegah dari perbuatan keji (munkar), serta beriman kepada Allah sampai hari akhir zaman. Dan amanah-amanah itu saat ini terpancar jelas dari raut-raut muka para remaja masjid yang berkumpul, menghimpunkan diri di Masjid Jami’ Al Ikhlas Kelurahan Dungus Cariang-Ciroyom Kota Bandung.

Salah satu  metode dalam dakwah yang paling indah dan tidak terkesan menggurui adalah dengan cara berdakwah melalui tulisan. Melalui tulisan, dakwah dapat disampaikan secara halus dan tidak terkesan menghakimi. Hanya hamba-hamba Tuhan yang merasa benar-benar memerlukan pencerahan yang akan memilih untuk membaca tulisan-tulisan dakwah. Dengan demikian, dakwah melalui tulisan terkesan lebih mengena dan penuh makna bagi mereka. Menimbang efektif dan efisien dakwah melalui tulisan:

  • Bisa menjangkau daerah yang luas
  • Tidak terbatasi oleh waktu
  • Keakuratan isi dakwah lebih terjamin

Sesi berikutnya adalah langsung praktik menulis secara spontan (insidental). Pengakuan dari para remaja ikhwan, mereka sama sekali tidak ada pengalaman untuk menulis, alih-alih menulis di media yang bisa diakses orang lain, tulisan untuk konsumsi pribadi pun tidak mereka miliki. Lain lagi dengan para akhwatnya, kebanyakan dari mereka sudah terbiasa menuliskan baik tentang diri pribadinya ataupun kejadian-kejadian di sekitar lingkungan mereka. Nah, modal awal itulah yang digunakan untuk memancing ke-pede-an untuk membuat tulisan, yang nanti arahannya untuk kepentingan dakwah melalui tulisan.

Ilmu yang saya bagikan ini adalah hasil perolehan dari Teh Greeny Azzahra (Sekum FLP Kota Bandung) yang beberapa waktu lalu mengisi sharing kepenulisan bersama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) STKS Bandung tempat saya menimba ilmu. Yakni strategi ‘pemaksaan’, namun membuahkan hasil yang menggembirakan. Masing-masing ikhwan dan akhwat diberikan tiga kertas, kemudian diminta menuliskan di masing-masing kertasnya: kata benda, kata sifat, dan juga kata kerja. Setelah semua menuliskannya, maka diwajibkan menukar dengan teman-temannya. Setelah itu, didapatkanlah gabungan kata-kata acak dari kata benda, kata sifat dan kata kerja tersebut. Hal selanjutnya yang dilakukan adalah membuat satu bentuk paragraf dengan menggunakan gabungan kata tersebut. Misalkan burung (kata benda), berhembus (kata kerja), senang (kata sifat). Gabungan kata itu dapat menjadi satu rangkaian paragraf:

Hari itu telah semakin senja terasa, angin sore pun mulai berhembus perlahan menabrak dengan halus tubuh mungilku ini yang tengah menikmati kicauan burung yang saling bersahutan di atas pohon yang cukup rindang. Ah, betapa bahagianya mereka yang bisa terus bernyanyi riang dan seolah-olah tak perlu memikirkan beban kehidupan yang terkadang sering kita rasakan. Begitulah, setelah melihat mereka yang akur di ketinggian, dengan berbagai nyanyian, hatikupun menjadi senang.

Begitulah, ide itu terkadang memang harus dipaksakan, dan ketika sudah dipaksa, mereka mau juga keluar dan menjadi sekumpulan kata, kalimat hingga tersusun menjadi sebuah paragraf yang layak untuk dibacakan di hadapan teman-teman. Mereka semua lolos dalam tahap pembelajaran sederhana ini, sungguh kader-kader calon pemimpin bangsa di masa depan.

Bambang Trim dalam bukunya Menjadi Power Da’i dengan Menulis Buku, memberikan tiga tips aktivitas yang bisa memunculkan stimulan dan gagasan untuk menulis, yaitu: banyak membaca, banyak berjalan, dan banyak silaturahim. Karena itu, gabungkan ketiga langkah tersebut sebagai kebiasaan sehari-hari.

Terakhir, saya cantumkan puisi dari Mas Sudirman Hasan dari blog beliau (http://sudirmansetiono.blogspot.com/2010/01/dakwah-dengan-tulisan.html) terkait berdakwah melalui tulisan sebagai berikut:

Akan kekal sepanjang zaman
Tulisan akan lebih tahan
Walau tidak dipahami kini
Masih mungkin dihayati nanti

Selama tulisan itu masih ada
Selama goresan itu bisa dibaca
Dikenang sepanjang masa
Meski sang penulis telah tiada

Mari menulis
Mengabadikan diri dalam bahasa
Mengubah dunia dengan kata

Demikian yang dapat disampaikan, kurang lebihnya mohon maaf. Segala kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan dari saya pribadi. Salam hangat dan semangat selalu by Muhammad Joe Sekigawa, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman who has a great dreams

An Undergraduate Student of Bandung College of Social Welfare (BCSW), Department of Social Rehabilitation 2008

Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) STKS Bandung

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: