Akad Nikah Akh Yayat Supriatna di Cirebon

Akad Nikah Akh Yayat Supriatna di Cirebon

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Barakallahu lakuma wabaraka ‘alaykuma wajama’a bainakuma fil khoir…

Demikianlah lantunan do’a yang teramat dalam dari seorang sahabat kepada sahabat karib satu pengajian, saudara dengan ikatan kuat, kaum muslimin seperjuangan. Pada hari ini, Ahad 10 Juni 2012 telah dilangsungkan akad nikah antara Akh Yayat Supriatna dengan Ukh Endang Minarni bertempat di kediaman mempelai wanita.

Perkenalan saya dengan Akh Yayat memang terbilang baru, sekitar delapan bulan lamanya. Namun beda lagi dengan kawan-kawan beliau yang saya temui di lokasi akad nikah. Usut punya usut cerita, Sang Akhwat merupakan sahabat seperjuangan Akh Yayat saat menjalani kuliah D-III di Universitas Indonesia (UI) tahun 2005-2008 silam. Akh Yayat sempat menjabat ketua MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) dan Ukh Endang sempat menjabat Kepala LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Akhwat di tempat mereka. Subhanallah, para mas’ul ini layak mendapatkan mas’ul juga. Benar adanya firman dari Allah subhanahu wata’ala, “. . . . dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). . . .” (Q.S. An Nuur/24:26).

Ini adalah akad nikah ke-2 yang saya hadiri dalam delapan bulan terakhir ini, semenjak saya bergabung di jama’ah Tarbiyah. Suatu kenikmatan yang amat luar biasa saya rasakan, ketika diantara orang-orang yang shalih ini, saya menemukan begitu banyak kejadian-kejadian yang menenteramkan qalbu, termasuk perkara dalam hal pernikahan. Begitu agungnya prosesi mitsaqan ghalizhan untuk menghalalkan hubungan-hubungan yang sebelumnya diharamkan bagi interaksi antara ikhwan dan akhwat. Sebuah gambaran yang menunjukkan kepada saya betapa hebatnya Islam meninggikan kedudukan ikhwan maupun akhwat dengan cara-cara yang demikian sucinya.

Pernikahan sepasang sejoli ini tak diawali dengan sebuah aktivitas pacaran. Ini sudah jelas, apalagi mereka memang sejak kuliah adalah sama-sama aktivis dakwah. Dimana waktu, tenaga, dan pikiran mereka selalu dicurahkan demi kepentingan dakwah, tanpa mengesampingkan prestasi di kampus. Proses untuk mengenal lebih dekat dilakukan dengan ta’aruf (saling mengenal) dengan perantara Murobbi (pembimbing) masing-masing. Sebelum ta’aruf, diberikan dulu biodata diri (saling tukar biodata), jika salah satunya meng-iya-kan, maka ta’aruf pun dapat dilaksanakan, namun jika salah satunya tidak berkenan untuk berta’aruf, maka ta’aruf pun tak dapat dipaksakan. Demikianlah Islam mengaturnya dengan penuh kehati-hatian dan kemuliaan.

Setelah ta’aruf apa coba? Kan pacaran juga jadinya, saling sms, telponan, janjian ketemuan, dan seterusnya. MasyaAllah? Ini fitnah ya Akhi wa Ukhty..!! Pendapat ini sangat lemah sekali untuk dikemukakan. Perlu diketahui bahwa pelaksanaan ta’aruf adalah untuk menggali lebih dalam mengenai apa-apa yang ingin diketahui dari masing-masing ikhwan maupun akhwat (tentu bukan suatu hal yang sangat pribadi, tapi hal-hal terkait visi misi ke depan, anggapan tentang prinsip hidup, dakwah, dan sebagainya). Perlu digarisbawahi juga, ta’aruf yang dilaksanakan ini bukanlah untuk ‘coba-coba berhadiah’, namun ta’aruf hanyalah untuk mereka yang memang benar-benar telah siap untuk maju ke jenjang pernikahan. Maka, setelah berta’aruf dan sama-sama merasa cocok, maka secepatnya diadakan khitbah (pinangan) kepada pihak keluarga. Namun, tentu sebelum khitbah, ada baiknya kita sebagai pihak laki-laki bersilaturahim terlebih dahulu ke orang tua sang Akhwat. Khitbah pun dilaksanakan, dan alhamdulillah pinangan itu diterima, maka selanjutnya pihak keluarga menentukan kesepakatan hari H pelaksanaan akad nikah, dan ditekankan secepatnya (tidak boleh menunggu waktu terlalu lama tanpa alasan yang syar’i).

Bagi saya pribadi, menghadiri akad nikah seorang pejuang dakwah ini cukup memberikan banyak ibrah yang bisa saya renungi dan nantinya untuk saya amalkan. Sang akhwat menjaga hijab meskipun kebanyakan remaja sekarang sering membuka aurat, sang ikhwan rajin ke masjid untuk mengaji dan meningkatkan kapasitas diri padahal remaja seusianya senang foya-foya dan menyenangkan diri di kafe-kafe maupun tempat tongkrongan lainnya. Tidak salah jika saya menyebut mereka adalah orang-orang yang mengamalkan perintah Allah dengan menilik pada ayat, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya. . . . “ (Q.S. An Nuur/ 24:30-31).

Subhanallah, Walhamdulillah, Walaailaaha illallahu Allahu Akbar!!!

Datang pula beberapa Ikhwan luar biasa dari Jakarta yang langsung berinteraksi dengan saya: Akh Ali, Akh Ari, Akh Indra, Akh Ade, Akh Andri, dan Akh Eko (Nama Akh Andri ini kesebut karena sebelum akad nikah, Akh Yayat memang sedikit banyak bercerita tentang beliau, maksud hati hendak menulis Akh Ade, tapi jadinya Akh Andri, padahal ana sama sekali belum bertegur sapa dengan beliau) ^^

Tak ketinggalan Ikhwan dari Bandung: Akh Muhni dan Akh Rizky

Sebagai penutup, saya azzamkan dalam diri bahwa diri ini memang harus terus berproses, menuju ke arah yang lebih baik, lebih banyak kontribusinya untuk gerakan dakwah dan saling mengasihi, menyayangi, dan mencintai hanya karena Allah saja. InsyaAllah. Bidadari yang cantik jelita itu, masih menunggu untuk saya jemput pada waktunya ^_^

Salam hangat dalam dekapan ukhuwah by Muhammad Joe Sekigawa, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman who has a great dreams

Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) STKS Bandung

Selesai ditulis pada hari Ahad sore, 10 Juni 2012 at 14.20wib @Masjid Besar Desa Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat

G A L L E R I E S

==

==

==

Comments
4 Responses to “Akad Nikah Akh Yayat Supriatna di Cirebon”
  1. Alimah says:

    kapan-kapan ke Cirebon lagi ya…

    teriring do’a untuk kedua mempelai semoga menjadi keluarga mawadah wa rohmah, serta diberi kekuatan dalam menyelesaikan setiap persoalan dalam rumah tangga 🙂

  2. ayu ashari says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb….
    alhamdulillah subhanallah ikut senang atas pernikahannya…
    walaupun tidak bisa hadir tapi ikut merasakan kebahagiannya….
    semoga menjadi keluarga SAMARA buat yayat dan endang…
    semoga Allah SWT senantiasa memverikah rahmat dan barakah-Nya…

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: