Serba-serbi Pelaksanaan Muslim Youth Millionaire Conference 1433 H

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Opening story . . .

Ahad, 18 Maret 2012, aku melangkahkan kaki dari Jagakarsa menuju Plaza Bapindo, Jakarta Selatan kumulai sejak pagi buta. Bahkan sebelum shubuh sudah harus standby karena akan mengantarkan Mas Hatta ke Terminal Kampung Rambutan, beliau akan naik bus menuju Bandara Soekarno-Hatta dan terbang menuju kampung halaman di Surabaya nun jauh sana. Alhamdulillah sampai di kantor lagi tepat lima menit sebelum sholat Shubuh, dan diriku masih sempat masuk ke dalam Masjid dua menit sebelum dikumandangkan iqomah.

Pada sekitar pukul 05.30wib aku sudah bersiap-siap. Pakaian dan peralatan mandi sudah masuk tas semua, laptop, kaos kaki kotor, dan snack sudah masuk juga ke tas rangsel hitamku. Sippphh, waktunya mengembalikan motor ke rumah Pak Rahman, bos EO PULIH yang mengundangku untuk membantu beliau bersama tim selama dua hari di Bogor kemarin. Setelah itu angkot nomor 15 berwarna merah menjadi penyelamatku di pagi itu, sehingga dapat sampai di fly over Pasar Rebo tanpa kurang suatu apapun. Dari sana aku menuju halte bus transJakarta bertuliskan “Fly Over Bogor”. Yupss, dari sinilah aku diantar oleh transportasi publik yang paling digemari oleh masyarakat di seantero bumi Ibu Kota Negara Indonesia (baca: Indonesia) menuju Plaza Bapindo, Jakarta Selatan.

Tiba di Plaza Bapindo . . .

Alhamdulillah. Tepat pukul 07.00wib aku sudah sampai di lokasi MYMC (Muslim Youth Millionaire Conference) 1433 H digelar. Waduh, bagaimana ini, jadwal yang diberikan oleh panitia, acara akan dimulai pada pukul 08.00wib, masih ada sejam lagi dech. Hmm, waktu itu perut rasanya sudah berkokok layaknya sang Jago di pagi hari. Untung saat itu ada bapak-bapak penjual kupat tahu yang mangkal di dekat tangga turun Halte Gelora Bung Karno, Plaza Bapindo memang hanya sekitar 50 meter saja dari halte ini. Perut pun sudah isi, namun jam di HP Taxco-ku masih menunjukkan pukul 07.30wib. Ah, tidak apa-apa lah, demikian pikirku. Langsung saja kaki ini kulangkahkan menuju lokasi MYMC di Lt. 9-10 Plaza Bapindo yang sebelumnya bertanya dahulu kepada satpam di depan gedung.

Waaah, ternyata memang masih sepi. Sempat aku menuju bagian registrasi untuk Peserta Undangan, namun ternyata para pesertanya malah belum siap. It’s okay menunggu beberapa menit hingga panitia siap untuk melayani para tamu undangan yang sudah mulai banyak berdatangan. Belasan menit telah berlalu, dan akhirnya aku mengantri di belakang beberapa orang akhwat, dan tibalah giliranku. Di situ panitia menanyakan nama dan langsung muncul di database mereka. Tinggal ngisi alamat email, maka aku pun mendapatkan tiket masuk sebagai tamu undangan di MYMC 1433 H.

Mendapatkan tiket, tapi . . .

Tiket sudah di tangan dan waktu menunjukkan pukul 07.45wib, namun ruangan konferensi belum dibuka. Tampak stand-stand pun baru ditata barang dagangannya. What should I do? Celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, ternyata sama saja. Tak ada satupun orang yang kukenal di sana he he. Beberapa saat kemudian kulihat panitia menempelkan jadwal agenda kegiatan MYMC hari itu.

Langsung saja diriku ingin mengetahui update terbaru jadwal kegiatan meskipun sebelumnya di website MYMC memang sudah dipublikasikan terkait jadwal kegiatan. Tak selang lama kemudian, datangnya seorang laki-laki dan perempuan ke arahku, bukan karena kenal denganku, tapi mereka juga hendak melihat jadwal agenda kegiatan di hari itu. Hm, bukan Peksos namanya kalo suka cuek dengan orang lain, maka aku pun berbincang dengan mereka. Dan dari perbincangan tersebut, ternyata mereka berdua bernama Hermawan dan Titi, mahasiswa semester II dari UNDIP (Universitas Negeri Diponegoro). Mereka berdua adalah Peserta Undangan MYMC karena menang lomba nge-tweet acara MYMC sehingga berhak mengikuti MYMC 1433 H secara gratis. Perbincangan pun berlanjut, dan memang dengan ber-network, dunia ini terasa kecil sekali. Hermawan itu ternyata adalah adik kelasnya Sofistika Carevy yang merupakan kader KAMMI yang tercetak di Kampus Biru STKS Bandung, meskipun saat ini Revy telah berpindah almamater ke Sampoerna School of Education di Jakarta.

Waktu untuk memasuki ruangan konferensi masih lama, apalagi di jadwal tertera pembukaan akan dilaksanakan pada pukul 08.15wib yang artinya dimundurkan 15 menit dari jadwal semula. Aku pun mencoba berkeliling di stand-stand yang digelar di sana. Tak ada yang menarik hatiku sama sekali, selain itu, aku memang belum mengantongi uang Dinar-Dirham yang menjadi alat tukar resmi di tempat itu he he. Karena ruang stand itu tidak terlalu luas, aku sudah kembali lagi di posisi awal. Tiba-tiba datanglah seorang Akhwat dan bertanya kepadaku, “Dengan Mas Joko?”. Spontan aku jawab, “Iya, benar. Ada apa ya Mbak?”. Dia menimpali,”Saya Vidi, alumni Kessos UNPAD”. Mbak Vidi tersebut di MYMC terdata sebagai panitia untuk LO. Waaahhh, memang benar apa yang dikatakan oleh Hermawan di atas, dunia ini memang sempit jika dilihat dari kacamata network. Di sana kami semangat berbincang mengenai perkembangan Kesoss (Kesejahteraan Sosial) serta rencana untuk S-2.

Mbak Vidi sudah menghilang karena ia harus menunaikan tugas selanjutnya. Tak lama kemudian datanglah panitia yang membawa kamera video kemudian berucap, “Mas, boleh meminta testimoni untuk mengungkapkan perasaan beberapa menit menjelang dibukanya acara MYMC 1433 H?”.  “Hmm,, mikir dulu 30 detik Mbak. . . Ok, insyaAllah siap”. Jawabku sambil menyunggingkan senyuman. Dan jadilah aku bertestimoni ria selama kurang lebih tiga menit saja karena pintu ruangan konferensi telah dibuka.

MYMC 1433 H resmi dibuka . . .

Bukan Indonesia namanya jika tak lekat dengan satu kebiasaan ini, apa hayooo, ada yang tahu? Benar, jawabannya NGARET. Waktu pembukaan yang dijadwalkan pukul 08.15wib pada akhirnya baru bisa dimulai pada pukul 09.15wib, sejam euy molornya. Baiklah tak perlu dipermasalahkan, cukup menjadi catatan saja bagi penitia agar ke depan dapat bekerja lebih baik lagi. Pembukaan dipandu oleh MC dari Universitas Bakrie (Lucky), kemudian dilanjutkan dengan dilantunkannya ayat suci Al Qur’an dengan suara merdu nan indah. Setelah itu kata sambutan dari Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, Ust. Bachtiar Nadir sekaligus secara resmi kegiatan Muslim Youth Millionaire Conference (MYMC)1433 H. Dilanjutkan dengan penampilan marawis dari anak-anak SDN 21 Lenteng Atas, Jakarta Selatan. Mereka sungguh anak-anak yang penuh semangat dan bertalenta. Sudah lama aku tak mendengarkan marawis anak pondok pesantren secara live he he.

Trend Andalan Entrepreneur Pemuda Muslim . . .

Trend #1= The Power of Dinar and Dirham at 10.10wib

Pemateri: R. Abdarrahman Rachadi

“Kembalinya Muamalah. Mengenal dan Mengamalkan Kembali Dinar, Dirham dan Fulus” disusun ulang dari H. Zaim Saidi, MPA.

Di sini aku mendapatkan pencerahan yang cukup signifikan. Yakni keinginan untuk menggunakan mata uang Dinar dan Dirham dalam bermuamalah menjadi semakin besar. Padahal beberapa waktu yang lalu, aku sempat berbincang dengan Muhni (kawan seperjuangan di kampus STKS Bandung) ingin membuat tabungan yang khusus langsung dikurskan ke dalam mata uang USD. Seketika keinginan itu sirna dan dalam hati telah tertancapkan niat yang kuat jika memiliki uang berlebih nantinya langsung ditukarkan dengan uang Dinar-Dirham. Eh, rasanya kalau Dinar masih terlalu tinggi ya. Sedikit men-share, satu Dirham = 67 ribu, sedangkan satu Dinar = 2,2 juta. Dirham sendiri merupakan koin perak murni dengan berat 2,975 gram, sedangkan Dinar adalah koin emas 22 karat dengan berat 4.25 gram.

Lalu apa sich penggunaan dari mata uang Dinar dan Dirham tersebut?

  • Penunai zakat mal. Penunai zakat mal sesuai syari’ah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah adalah menggunakan Dinar dan juga Dirham
  • Alat bayar. Ini adalah alat tukar paling baik yang telah disebutkan oleh Allah dalam Al Qur’an serta digunakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
  • Sedekah dan Infaq. Menyedekahkan harta yang sesungguhnya dengan Dinar dan Dirham
  • Tabungan. Mengutip perkataan Rasulullah, “Akan datang masa ketika tidak ada lagi yang dapat dibelanjakan kecuali Dinar dan Dirham”. (HR. Ahmad)
  • Mahar. Bukankah suatu hal yang luar biasa memberikan mahar kepada mempelai wanita dengan Dinar dan Dirham, tepat seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saat meminang Siti Aisyah

Bagaimana cara mendapatkan Dinar-Dirham? Ust Abdarrahman mengungkapkan ada empat tingkatan untuk mendapatkan Dinar dan Dirham, diantaranya:

  1. Berdagang (ini adalah cara yang paling baik)
  2. Menjadi seorang pegawai/karyawan dan meminta gaji dengan bayaran Dinar dan Dirham
  3. Menerima zakat (jika tidak mampu) dengan Dinar dan Dirham
  4. Menukarkan uang kertas dengan Dinar dan Dirham di tempat-tempat penukaran (cara darurat)

Untuk mendapatkan informasi lebih jauh mengenai penggunaan uang Dinar dan Dirham hingga penukarannya bisa mengunjungi http://jawaradinar.com/ dan juga http://wakalanusantara.com/

Pada akhirnya, sampailah pada kesimpulan, “DINAR DAN DIRHAM BUKAN UNTUK INVENSTASI!! GUNAKANLAH UNTUK ZAKAT DAN BERMUAMALAH”. Menjadi tanggung jawab setiap muslim bahwa ia harus mengajak semua masyarakat menerima Dinar dan Dirham sebagai alat barter syariah sukarela, hingga pemakaiannya lazim dan menjadi harta berputar di semua kalangan.

Trend #2= The Power of Creative Writing and Social Media at 11.35wib

Pemateri: Mas Olih Sholihin

Sebenarnya pada kesempatan ini ada satu pemateri lagi, yaitu Raditya Dika (penulis best seller, Kambing Jantan). Namun pihak manajemen di detik-detik Raditya Dika harus tampil di MYMC 1433 H, pihak manajemen membatalkannya secara sepihak. Untuk meyakinkan kepada para peserta, pihak manajemen Raditya Dika pun menelpon dan diloudspeaker sehingga terdengar kepada seluruh peserta bahwa pihak manajemen meminta maaf yang sebesar-besarnya atas pembatalan sepihak ini.

Tak banyak yang bisa kutangkap dari pemaparan Mas Olih Sholihin ini karena tiba-tiba ngantuk yang luar biasa menyerangku. Padahal kan beliau bercerita tentang semangat menulis yang merupakan kegemaranku juga. Tapi paling tidak yang bisa kutangkap dari pemarapan beliau adalah seperti ini:

  • Kegagalan dalam membuat tulisan yang bagus itu suatu hal yang biasa. Kata pepatah, orang bisa karena biasa ^_^
  • Manusia punya potensi untuk berhasil dan juga memiliki potensi untuk gagal
  • Biasakan menulis apapun yang dialami. Syukur-syukur suka dan bisa berfantasi untuk membuat suatu karya tulis lebih hidup dan bermakna
  • Perbanyaklah membaca agar dapat banyak menulis
  • Jangan pernah menyerah untuk mencoba mengapresiasi karya sendiri

Di sesi akhir, Mas Olih Sholihin ingin mengundang salah satu peserta yang sudah biasa menulis di blog pribadi untuk share pengalaman selama menulis di blog tersebut. Padahal aku sudah mengacungkan tangan dengan sedemikian tingginya, namun ternyata masih tetap terpilih untuk maju ke depan. Hm, tidak apa-apa, kan pada akhirnya aku tuliskan di postingan ini he he he ^_^

Break Ishoma tanpa makan siang . . .

Usai Mas Sholihin memberikan materi, waktu telah menunjukkan pukul 12.15wib. Waktunya istirahat, sholat dan makan siang. Aku kira kami semua (para peserta) mendapatkan jatah makan siang, tapi ternyata jatah tersebut hanya untuk peserta VIP dan VVIP saja. Ya, terima nasib saja lah, kan sudah gratis bisa ikut acara ini, padahal jika bayar kan bisa sampai 300 ribu tiketnya. Terpaksa aku hanya bisa makan snack yang berjumlah tiga biji dari panitia.

Lanjut materinya . . .

Trend #3= The Power of Shodaqoh at 14.00wib

Pemateri: Ust. Yusuf Mansur (by Video)

Maksud hati ingin bertemu secara langsung dengan Ust. Yusuf Mansur, namun apa daya beliau saat ini sedang melaksanakan Umrah di Tanah Suci wal Barokah, Makkah. Meski begitu, beliau telah mempersiapkan “Training in Seminar Movie. Belajar Bareng Ustadz Yusuf Mansur”. Meski hanya sebuah video, tapi manfaatnya begitu terasa sekali. Banyak ilmu baru yang aku dapatkan dari pemaparan beliau tersebut.

Di sini kami belajar mengenai hitung-hitungan sederhana yang disebut sebagai matematika sedekah. Yakni hitung-hitungan kali 10. Masih bingung? Coba kita baca bersama potongan ayat terjemahan di dalam Al Qur’an berikut ini, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya . . .” (Q.S Al An’am: 160). Luar biasa bukan? Kemudian juga dipaparkan tentang apa-apa yang kita berikan kepada orang lain itu (menyedekahkan harta), pada hakekatnya untuk diri kita sendiri. Coba kita baca ayatnya, “ . . . Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri . . . “ (Q.S Al Baqarah: 272). Dan yang terakhir, simaklah ayat cinta dari Allah berikut ini, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (Q.S Al Baqarah 245)

Sebagai seorang muslim yang percaya akan kebenaran pasti dari Al Qur’an, tentu akan merasa tergugah hatinya bahwa selama ini ia masih kikir, ia masih pelit, ia masih takut miskin dengan memberi. Padahal sudah jelas-jelas Allah memerintahkan kita untuk banyak memberi agar menjadi kaya. Bagaimana, kira masuk akal tidak ya? Untuk pemikiran orang yang tidak bertauhid, ini memang susah, namun untuk orang yang beragama yang mengakui Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai Rasul,serta Islam sebagai agama satu-satunya, maka itu tidaklah mustahil.

Untuk membuktikan hal di atas, maka Ust. Yusuf Mansur dalam videonya memberikan analogi jalan cerita “Cabe, Tomat dan Bawang”. Apalagi nich? Apa hubungannya antara shodaqoh dengan bahan pembuat sambel itu? Ya, awalnya aku juga sempat bingung. Namun ternyata, cerita itu adalah untuk menjelaskan cara cepat untuk menggapai apa yang kita inginkan dengan sedekah. Ceritanya singkatnya, ada seorang anak yang ingin membeli mainan seharga 14 ribu, kemudian bilang ke neneknya minta dibelikan, tapi beliau malah meminta si anak tersebut untuk menabung. Maka menabunglah sang anak 100 rupiah per hari. Dengan hitungan matematika biasa, maka untuk mencapai 14 ribu, akan dibutuhkan waktu 140 hari, betul? Tapi tidak demikian dengan matematika sedekah. Pada hari ketujuh, sang nenek menanyakan sudah dapat berapa tabungannya, kemudian si anak menjawab baru dapat 700 rupiah. Lalu yang mengejutkan, sang nenek malah meminta si anak untuk pergi ke pasar membeli cabe, tomat, dan bawang. Tapi karena si anak penurut, maka belilah ia cabe, tomat dan bawang tersebut. Setelah itu ia masih terus menabung lagi, dan kejadian yang sama terjadi pada minggu berikutnya. Uang 700 rupiah yang hasil tabungannya, disuruh neneknya untuk membeli cabe, tomat dan bawang lagi.

Kesel ga sebagai anak tersebut? Ya kesel banget lah. Tapi, inilah luar biasanya sang nenek mengajarkan cucunya tentang cara cepat mencapai 14 ribu untuk membeli mainan. Yakni dengan BERSEDEKAH, titik. Nah, ternyata setiap hari Jum’at sang nenek memang gemar membuat makanan untuk para jamaah sholat Jum’at di masjid, dan cabe, tomat serta bawang yang dibeli oleh si anak tersebut diracik menjadi sambel dan disantap oleh para jama’ah. Kan itu sedekah, dan itu berkah. Maka, dengan hitung-hitungan matematika sedekah (kali 10). Minggu pertama (700×10=7000) dan minggu kedua (700×10=7000). Sudah selesai kan? Sudah menjadi 14 ribu hanya dalam waktu dua minggu saja. Bandingkan dengan cara menabung yang konvensional, kan butuh waktu 140 hari, iya to? Subhanallah. Pada minggu ketika, hasilnya langsung dibayarkan oleh Allah, dan si anak mendapatkan mainan tanpa disangka-sangka secara gratis. Padahal dengan hitung-hitungan matematika biasa, ia sama sekali tak punya saldo. Namun jandi Allah pasti ditepati, dan mainan itu sekarang telah menjadi miliknya ^_^

Sudah jelas bukan? Maka jangan lagi merasa pelit untuk bersedekah. Janganlah kikir dengan menimbun-nimbun harta tanpa mengeluarkan sebagian untuk yang berhak. Kemudian untuk membuktikan hal tersebut, panitia pun menyediakan kotak infaq, dan para peserta dengan berbondong-bondong tanpa ragu memasukkan infaq ke dalam kotak dan sangat yakin Allah akan menggantinya dengan cara yang tidak disangka-sangka. InsyaAllah.

Break sholat Ashar hingga pementasan tari Saman . . .

Setelah usai menjalankan Sholat Ashar di lantai VIII Gedung Plaza Bapindo, aku pun kembali ke lokasi konferensi untuk mengikuti acara selanjutnya. Namun sebelum itu, ada pementasan Tari Saman dari kawan-kawan mahasiswa Paramadina. Mereka ini group tari yang luar biasa, sudah biasa pentas di luar negeri seperti di Uni Emirat Arab, Qatar, dan Perancis. Beberapa bulan lagi mereka akan pentas di Spanyol dan Portugal. Jadi, keren abis dech pokoknya.

Lanjut materinya . . .

Trend #4= The Power of Positive Thinking

Pemateri:

  • Mas Habibie Afsyah, seorang Tuna Daksa (cacat tubuh, tidak bisa berjalan dan memegang secara sempurna) dengan bisnis Internet Marketing
  • Dik Hamzah Izzulhaq (masih 18 tahun), seorang pebisnis muda sukses dengan omzet 160 juta/bulan. Subhanallah dengan usia semuda itu.

Mas Habibie waktu itu didampingi oleh ibunda tercintanya. Memang, selama ini peran ibu lah yang paling besar untuk bisa membuat Habibie tetap bertahan di tengah kekurangannya, dan bahkan sekarang bisa sukses dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga. Positive Thinking, itulah yang menjadi prinsip Mas Habibie. Ia amat sangat yakin bahwa Allah tidak pernah menzalimi umat-Nya. Ia berpikiran positif bahwa ujian istimewa yang didapatkannya saat ini akan dibayar mahal oleh Allah (yakni dengan surga-Nya) kelak di akhirat, ammiin.

Hal itulah yang menjadikan dia saat ini mahir dalam berbisnis bahkan sudah menelurkan satu karya cipta sebuah buku yang kurang lebih judulnya “Kekuranganku adalah Kekuatanku”. Support ibunya juga sangat terlihat jelas dan sungguh ibunya tersebut sangat menyayangi anaknya meski dengan kekurangan yang demikian, semenjak ia masih usia bayi hingga detik sekarang ini. Allahu Akbar! Benarlah lirik lagu anak-anak ini, “Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”.

Sesi kedua adalah Hamzah Izzulhaq. Luar biasa memang anak muda ini, ia telah memulai bisnis pada saat masih kelas X SMA dengan jatuh dan bangun. Tentu, seorang entrepreneur itu tidak ada yang langsung instan tiba-tiba sukses. Pasti pernah gagal, dan kegagalan itu terjadi tidak hanya sekali atau dua kali, namun berkali-kali. Begitu pula dengan Hamzah, dia memulai dengan jualan pulsa, jualan baju, dan masih banyak lagi hingga akhirnya tanpa kenal lelah maupun putus asa, ia bisa menjadi seperti ini. Kok bisa? Tak lain dan tak bukan adalah karena sikap Positive Thinking yang selalu ia tanamkan di dalam diri. Itu modal yang amat besar untuk meraih kesuksesan.

Di sesi akhir, Hamzah pun memberikan lima kunci dalam berbisnis:

  1. Network atau jejaring
  2. Ikuti seminar, baca buku tentang bisnis, kemudian langsung praktikkan
  3. Perbanyak sedekah
  4. Perbaikilah hubungan dengan kedua orang tua
  5. Doa dan hanya minta kepada Allah saja, bukan yang lain

Ishoma, pertemuan dengan kader KAMMI Daerah Bogor, detik-detik kepulangan . . .

Waktunya istirahat sholat maghrib, aku pun kembali melangkahkan kaki menuju lantai VIII sebagai tempat sholat berjama’ah. Sungguh tak disangka dan tak dinyana, pertemuan itu di dalam lift menuju tempat sholat. Dengan sedikit small talk, kuketahui bahwa ia adalah seorang Kepala Divisi Perekonomian KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Daerah Kota Bogor, Akh Rian namanya. Sangat nyambung sekali karena aku juga berasal dari KAMMI Komisariat STKS Bandung (rintisan). Sambil jalan menuju tempat sholat, kami berbincang tentang banyak hal, utamanya sesuai tema, yakni entrepreneur muda. Dan yang mengejutkan, Akh Rian ini mengambil langkah berani dengan keluar dari kuliah saat akan menginjak pada semester III kemudian fokus pada bidang usaha mandiri yang digelutinya. Semoga sukses ya Akh, dan semakin gencar perjuangan dakwahnya ^_^

Lanjut materinya . . .

Trend #5= The Power of Risk-Taking and Strategy

Pemateri:

  • Mas Hendy (Pemilik Kebab Turki Baba Rafi)
  • Mas Reza (Pemilik Pecel Lele Lela)
  • Mas Rangga (Pemilik Maicih)

Sayang sekali pada kesempatan kali ini aku tak dapat mengikutinya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.00wib, sedangkan travel yang sudah kupesan dari Sarinah akan berangkat ke Bandung pukul 21.00wib. Selain itu, aku juga sudah meniatkan diri untuk mengunjungi IBF (Islamic Book Fair) 2012 yang khususnya ke stand KAMMI Madani. Di sana terdapat stand temen-temen KAMMI Madani yang hari itu juga hari terakhir mereka menggelar lapak dakwah di IBF ^_^

Jadi, aku tak dapat bercerita apa-apa dari poin sesi kelima ini ya. Afwan jiddan.

Semangat berwirausaha bergairah kembali . . .

Alhamdulillah, mengikuti MYMC 1433 H kali ini aku menjadi bersemangat untuk mencoba memulai berwirausaha kembali. Belum pernah mencoba sich, tapi paling tidak aku sudah pernah menulis artikel singkat pada tanggal 04 Oktober 2009 dengan judul Hakikat Berpikir Wirausaha. InsyaAllah, akan semakin lebar memperluas jaringan dan memulai wirausaha dari tingkat yang paling sederhana. Mohon doanya ^_^

Berkunjung ke KOI (KAMMI on IBF) on the last day . . .

Malam itu perut masih kosong, belum makan sejak pagi hari saat MYMC 1433 H dimulai. Kemudian adzan Isya mengundangku untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu di mushola At Takaful di sekitaran lokasi IBF digelar. Setelah itu Ukh Winda mengambil pendapat agar kami mengunjungi stand KAMMI dulu saja baru cari makan kemudian melanjutkan perjalanan ke Sarinah, tempat travel Baraya berada.

Sesampai di lokasi, kami disambut oleh satu orang Ikhwan dan dua orang Akhwat. Ya, mereka adalah temen-temen KAMMI Madani dari kampus Sampoerna School of Education. Aku pun berbincang dengan ikhwan tersebut, berkenalan kemudian sedikit banyak nanya-nanya tentang stand KAMMI Madani ini. Kulihat ada satu board untuk mengisi pesan dan kesan dari pengunjung, aku pun berminat mengisinya, dan aku sudah senang bisa meninggalkan jejak di sana ^_^

Perbincangan pun terus berlanjut, dan beberapa saat sebelum kami pulang, jadi ingin menanyakan siapa Ketua Umum dari KAMMI Madani. Hmm, agak kaget, ternyata Ikhwan yang di depanku itulah Sang Ketua Umum KAMMI Madani, Akh Riyan Fajri. Pantas saja, sepertinya wajahnya tidak asing, kalo tidak salah di blog KAMMI Madani ada Kolom Ketua Umum dan Galeri yang di dalamnya terdapat galeri Akh Rian yang nampang berkali-kali di sana he he he.

Dan lagi, di stand itu juga aku pertama kalinya tahu yang namanya Vyaopi (blogger wordpress), ternyata ia juga seorang Kader KAMMI Madani, satu kampus dengan Akh Rian dan Ukh Sofistika Carevy Ediwindra.

Pada kesempatan ini, saya membeli buku “Titik Balik Demokrasi” karya Akh Pangi Syarwi, seorang kader KAMMI Pusat. InsyaAllah bermanfaat dan menambah khasanah keilmuanku tentang Ilmu Perpolitikan di Indonesia.

Alhamdulilah bertemu dengan kalian, para pejuang dakwah yang tetap semangat mengembannya hingga akhir hayat. InsyaAllah pertemuan ini bukanlah suatu kebetulan, jadi teringat yang diungkapkan Ust. Yusuf Mansur waktu di MYMC, “Tidak ada yang kebetulan, semua sudah diskenario, maka ciptakanlah skenario yang paling baik yang Allah inginkan”. Maka, pertemuan kita hari itu menjadi sebuah sejarah atas terciptanya benih-benih semangat yang lebih menggelora atas seorang yang masih perlu banyak belajar, Muhammad Joe Sekigawa. Mari terus berbagi, mari terus saling memperingatkan diri, karena manusia tak luput dari dosa, maka tekan seminimal mungkin potensi-potensi perbuatan dosa yang ada pada diri kita, sepakat? InsyaAllah.

Salam hangat dan semangat selalu dalam manisnya perjuangan dakwah ini, Muhammad Joe Sekigawa, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman who has a great dreams

Kader KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) STKS Bandung (rintisan)

Mulai nyicil nulis sejak pelaksanaan acara MYMC pada hari Ahad, 18 Maret 2012 dan Selesai ditulis pada hari Senin, 19 Maret 2012 at 09.30wib @Kamar Kostan, Dago Pojok, Bandung-Jawa Barat

Dipublikasikan pada hari Senin, 19 Maret 2012 at 10.55wib @LABKOM Kampus STKS Bandung, Dago, Bandung-Jawa Barat

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: