Mengintip Isi Penjara Anak

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Apa yang terlintas dalam benak Kamu ketika pertama kali mendengar Penjara Anak? Ngeri bukan? He he he. Karenanya, bahasa yang dipakai oleh Kementerian Hukum dan HAM adalah Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Anak. Saat ini penulis tengah menjalani masa Praktikum III Rehabilitasi Sosial Berbasis Institusi di LAPAS Anak Pria Tangerang. Oleh karena itu, penulis berkeinginan untuk membagikan pengalaman yang sangat berharga selama berpraktik di LAPAS Anak Pria ini. Tentu, selain opini pribadi, penulis mencoba untuk mengkaitkannya dengan perspektif dunia Pekerjaan Sosial.

Memang tidak seburuk yang dibayangkan, malah kita akan tercengang ketika melihat fasilitas yang begitu beragam tersedia di LAPAS Anak ini. Mulai dari fasilitas pendidikan, keterampilan, hingga pembinaan iman dan taqwa (terdapat masjid, gereja, dan juga tempat ibadah bagi agama lain). Di bidang pendidikan terdapat sekolah SD, SMP, dan SMA (paket C). Selain itu, LAPAS Anak Pria Tangerang ini juga memiliki RUPIN (Rumah Pintar) yang merupakan tempatnya anak-anak berkreasi serta perpustakaan yang koleksi bukunya cukup melimpah. Di bidang keterampilan terdapat keterampilan menjahit, mesin/otomotif, kayu/ukir, dan potong rambut/salon. Di bidang pembinaan iman dan taqwa terdapat pesantren yang bisa diikuti oleh segenap anak didik yang beragama Islam, kebaktian di gereja pun tidak pernah sepi dan sering diadakan kegiatan. Selain itu LAPAS ini juga memiliki ruang untuk nge-band, komputer+internet, lapangan bola, tenis meja, basket, dan juga badminton.

Hm,, rasanya tidak pernah terpikirkan ya di LAPAS terdapat banyak fasilitas seperti itu? Namun, bagaimana sebenarnya Ilmu Pekerjaan Sosial memandang akan adanya LAPAS untuk anak ini? Mari kita coba lebih dalam melihatnya. ^_^

LAPAS adalah tempat untuk membina mereka yang telah melakukan tindakan pidana namun masih dalam usia anak (kurang dari 18 tahun). Jadi, mulai dari kasus pidana pencurian, perampokan, pencabulan, narkoba, hingga pembunuhan pun ada semuanya di sini. Yang menarik, kebanyakan mereka adalah anak yang berasal dari ekonomi keluarga menengah ke bawah, bahkan sangat sering sekali mereka ini berasal dari keluarga yang memang broken home atau sangat miskin sekali. Hidup di jalanan adalah suatu hal yang biasa, bergaul dengan preman, dekat dengan rokok dan narkoba, hingga ketagihan melakukan aksi perampokan disertai aksi kekerasan. Padahal mereka ini masih dalam usia anak, dapatkah Kamu membayangkannya? Saya sendiri pun hanya bisa menarik nafas mengelus dada.

Semakin sering berinteraksi dengan anak-anak di LAPAS ini, ternyata banyak sekali pembelajaran yang dapat kita ambil darinya. Kehidupan mereka amatlah keras, sama sekali berbeda dengan kita yang kebanyakan adalah dari keluarga berada dan tidak pernah kekurangan kasih sayang, apalagi kekurangan uang, pasti sudah merengek-rengek kepada ibunda tersayang, hayooo ngaku.. ^_^

Tentu, di dalam LAPAS itu tidak sama dengan di panti. Karena berasal dari background yang amat beragam permasalahannya, rasanya sulit untuk bisa menyatukan cara berpikir mereka semua secara instan. Perlu kesabaran yang ekstra dan juga pendekatan yang tepat. Nah, saatnya Pekerja Sosial bertindak Kawan ^^

Sampai detik ini dan sampai kapan pun juga, profesi kita sama sekali tidak sepakat jika seorang yang masih dikatakan anak, meskipun ia telah melakukan tindak pidana, harus mendekam di dalam penjara. Menurut Pekerja Sosial, itu adalah sebuah opsi yang paling akhir setelah semua opsi yang mendorong kepentingan terbaik anak tidak dapat tercapai. Kesalahan anak itu tidak terlepas dari kontrol orang tuanya, selama orang tua masih ada, merekalah sebagai penanggung jawab utama. Oleh karena itu Pekerja Sosial mendorong anak-anak yang telah melakukan tindakan pidana tersebut dikembalikan dalam asuhan orang tua secara tepat, jika orang tua tidak sanggup, maka panti-panti anak lebih tepat untuk mengantarnya menjadi insan yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Perlu diketahui, perasaan tertekan dan merasa diri sebagai pendosa sulit sekali terlepas dari anak yang telah dimasukkan ke dalam penjara. Apalagi saat ini masih kita dapati anak-anak yang dimasukkan ke dalam penjara orang dewasa, meskipun kamarnya berbeda. Tindak kekerasan sama sekali tak bisa dihindarkan, dan di dalamnya banyak mereka pelajari teknik-teknik baru dalam berbuat tindak kejahatan.

Masih belum terbayang mengenai isinya Penjara Anak? Saya dan juga LAPT Team mengundang kamu semua para mahasiswa STKS Bandung untuk datang berkunjung ke LAPAS Anak Pria Tangerang secepatnya. ^_^

Demikian sedikit sharing yang dapat disampaikan, semoga ada manfaatnya.

*****

SalamΒ  hangat dan semangat selalu by Muhammad Joe Sekigawa

An Undergraduate Student of Bandung College of Social Welfare (BCSW), Department of Social Rehabilitation 2008 -IV C Rehsos-

Vice Director of SSWD (Scientific Social Work Discussion) STKS Bandung

Kritik, Saran dan Tangapan dapat dikirimkan ke joko.setiawan1@gmail.com

NB: Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam Buletin NUSANTARA, BEM STKS Bandung Edisi Februari 2012

Comments
18 Responses to “Mengintip Isi Penjara Anak”
  1. Azwar Yusran says:

    asslmualaikum, pak ada yang saya mau tanyakan, sebenarnya apa saja peran peran yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial di lapas anak dalam mengembalikan keberfungsian sosial anak? terima kasih banyak pak. saya sebenarnya sangat tertarik dengan peksos di bidang ini

    • Wa’alaykumsalam wr.wb
      Mas Azwar yg baik hatinya. Apakah Anda belajar Ilmu Peksos/Kessos di kelas akademik (kuliah), kunci berpraktik yg baik adalah dengan dasar knowledge, skill and value..

      Jika Mas Azwar memiliki background tdk spesifik sperti yg saya sebutkan di atas, mk disebut Tenaga Kesejahteraan Sosial Kemasyarakatan (TKSK).

      Nah, untuk lokus di LAPAS, seorang Peksos dapat berperan lebih luas dari Psikolog. Selain mampu melakukan konseling dasar, Peksos jg dapat melakukan Terapi Psikososial. Peran ini penting untuk merehabilitasi masa lalu yg suram dari anak tersebut. Selanjutnya, melalui dinamika kelompok, Peksos dpt memberikan peran2 (role play) kpd mereka atas peran2 masyarakat dlm berkehidupan.

      Demikian kurang lebih sedikit gambarannya.

      Salam hangat & semangat selalu πŸ™‚

  2. Niyailyus says:

    Bisa minta contactny

  3. barbiegoceng says:

    asslmualaikum. wah dulu kk praktikum di lapas ya?kk ambil kajian koreksional apa gmana? saya tertarik niihh pengen di koreksional juga πŸ˜€

    • Wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakaatuh..

      Yups, dulu sempat dapat mata kuliah peksos Koreksional, dan sempat juga menang lomba penelitian hibah mahasiswa bersaing di Lapas Anak Bandung, jadi pas praktikum III tertantang untuk ambil praktik di Lapas Anak Pria Tangerang πŸ™‚

      Mangga, jika juga tertarik pada Peksos Koreksional…

  4. Hmm, br tau lapas tuh kyk gitu isinya…
    salam kenal bro :]

  5. badakungu says:

    Halo, apa yang diperlukan bagi orang umum / peneliti agar dapat melihat kondisi dari lapas anak ini ?

  6. yoga says:

    menyumbang ilmuu hehehe. salam dari anak Kesejahteraan sosial dari UNEJ jember

  7. onesetia82 says:

    info yg bermanfaat gan …
    salam kenal … πŸ™‚

  8. Dengan lapas anak akan mudah mengontrolnya dan lebih fokus , kitapun mengharapkan agar setelah anak keluar dari lapas menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai diri sendiri dan orang lain. selamat siang assalamualaikum

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: