Krisis Akhlak Pemuda Muslim Desa

Bismillahirrohmaanirrohiim,,,

Sudah setahun lamanya aku tak menampakkan diri di desa ini, desa tempat aku dilahirkan ke dunia untuk kali pertama. Bukan karena tak ingin, namun karena kesibukan kuliah dan lamanya waktu perjalanan menjadikanku jarang mudik kampung. Benar, saat ini aku masih mengantongi gelar mahasiswa D-IV STKS Bandung semester VII.

Tak dipungkiri bahwa suasana desa, semi kota, dan kota besar itu memang berbeda atmosfer. Tak terkecuali dengan suasana peribadahan kepada Rabb tercinta. Jika boleh kuingat-ingat, sholat berjama’ah dulu banyak dilaksanakan pada waktu Sholat Maghrib dan Isya’ saja. Ketika masuk waktu Shubuh, banyak warga yang sudah berangkat bekerja, waktu Dhuhur kebanyakan mereka masih bekerja, begitu pula waktu Ashar. Alhasil waktu luang untuk sholat berjama’ah pun tinggal sholat Maghrib dan Isya’ saja.

Itu dulu, sewaktu aku masih tinggal di desa ini, kabar terakhir yang kudapatkan adalah sekarang ini yang “mengaji” hanyalah anak-anak usia SD dan di bawahnya saja. Para pemuda usia SMP dan SMA serta yang sudah lulus telah terbuai dengan gaya hidup materialistis dan konsumtif. Nongkrong, pacaran, sibuk sms dan telponan menjadi agenda sehari-hari mereka. Astaghfirullah . . .

Namun hal itu cukup berbeda jauh dengan atmosfer yang kualami selama ini, kehidupan kampus di tengah kota besar. Di sini akan banyak kita temui pada pemuda dan pemudi yang bagus akhlaknya, cinta masjid, pandai mengaji, dan rajin berdiskusi untuk menambah kadar kecintaan pada Illahi Rabbi. Tak dapat disangkal memang bahwa tidak sedikit pula para pemuda yang kesehariannya berfoya-foya dan melakukan banyak dosa. Naudzubillah, Tsumma Na’udzubillah . . .

Di sini, di desa ini, sejak awal kedatanganku, aku sama sekali tak mau ketinggalan sholat fardhu berjama’ah di masjid, aku pun senang memakai baju koko dan celama kain warna hitam plus songkok/kopyah. Selain itu, aku juga merasa nyaman dengan memelihara jenggot, kumis, dan juga jambang. Sungguh aku merasa nyaman dengan penampilan ini. Namun, rupanya ini ditanggapi lain oleh beberapa warga desaku. Aku dianggap sebagai pemuda “aneh” yang dikhawatirkan salah berguru kepada orang tak dikenal. Bahkan dengan nada bercanda, ada salah seorang tokoh masyarakat yang berkata bahwa penampilanku saat ini sudah sangat mirip dengan “Amrozi, dkk”. Belum lagi ibuku yang juga termakan oleh omongan warga hingga khawatir jika anaknya ini bisa gila jika belajar ilmu yang aneh-aneh. Duh, betapa sedihnya . . . 😦

Namun aku segera tersadar, inilah satu bukti yang menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam telah jauh dari pemeluknya. Menjalankan ajaran Agama Islam secara sungguh-sungguh telah dianggap sebagai suatu hal yang asing. Aku jadi teringat sebuah hadist yang berbunyi, “Pada awalnya Islam itu asing dan Islam akan kembali asing sebagaimana pada awalnya. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing”. (HR. Muslim No.389 dari Abu Hurairah). Subhanallah, ajaran Islam yang begitu indah pun akan menjadi asing kembali ketika tak ada aktivitas dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar diantara warga masyarakatnya.

Jika kita pikirkan kembali, sebenarnya setiap aspek itu saling berkaitan, mulai dari gaya hidup, teknologi, pola pikir, hingga media televisi yang begitu gencarnya mempromosikan kehidupan sekuler kepada masyarakat. Belum lagi pemberitaan yang berlebihan mengenai teroris yang selalu dikaitkan dengan Islam bahkan seringkali pemberitaan yang disampaikan itu sifatnya menyesatkan.

Maka inilah yang menjadi PR besar bagi kita semua. Para pemuda muslim akhir Zaman. Sudah saatnya kita mengambil peran utama dalam menyongsong tegaknya kejayaan Islam di muka bumi.

Sumber Gambar; Sumber Gambar Utama

Salam hangat dan semangat selalu by Muhammad Joe Sekigawa, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman who has a great dreams

An Undergraduate Student of Bandung College of Social Welfare (BCSW)

Department of Social Rehabilitation 2008

joko.setiawan1@gmail.com

Selesai ditulis pada Selasa pagi, 30 Ramadhan 1432 H at 09.22wib @Rumah Bancar, Desa Bogorejo, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban-Jawa Timur

Dipublikasikan secara terjadwal oleh WordPress.com pada Selasa sore, 30 Ramadhan 1432 H at 17.30wib @Bagus Net, Desa Tambakboyo, Tuban-Jawa Timur

Comments
4 Responses to “Krisis Akhlak Pemuda Muslim Desa”
  1. nuraeni says:

    kebanyakan pemuda desa memang benar-benar muslim,,,
    karena dia akan berkembang dengan keadaan yang sederhana tersebut…

    mudah-mudahan bukan hanya para pemuda desa saja yang muslim tapi semua
    makhluknya..

    amiinnn….:)

  2. nice gan artikelnya slm kenal,,sya tunggu kunjungannya

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: