Menjadi Seorang Muslim

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Segala puja dan puji hanya bagi Allah karena telah menganugerahkan kemampuan untuk menyampaikan ilmu dan pemahaman melalui tulisan. Sholawat serta salam semoga senantiasa tetap tercurahlimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarganya, para sahabat, tabi’it dan tabi’in serta dapat sampai kepada kita semua selaku umatnya yang erat memegang teguh tali agama Islam ini.

Menulis adalah sebuah kesenangan bagi saya, oleh karena itu saya tak ingin kufur terhadap nikmat kemampuan menulis ini dengan menjadi semakin jauh dari tuntunanNya, namun saya akan mencoba untuk menulis berupa tulisan dakwah, yakni seruan untuk kembali mengingat dan berpegang teguh terhadap agama satu-satunya yang diridhoiNya ini, Islam. Tentu dengan menggunakan gaya bahasa saya sendiri yang mungkin akan “khas” atau bahkan terasa “asing” bagi Anda sekalian yang baru awal-awal membaca tulisan saya.

Sebelumnya, telah kita baca mengenai muslim, mukmin dan juga muhsin. Nah, selanjutnya akan kita bahas mengenai beberapa tanggung jawab atau jalan yang mesti kita tempuh ketika menetapkan diri sebagai orang yang memeluk agama Islam, bagaimana dan apa yang seharusnya kita lakukan. Cukupkah hanya puas dengan pengakuan sebagai seorang muslim namun tak tahu lebih banyak dan lebih dalam mengenai seluk beluk agama mulia ini, bahkan Rabb dan RasulNya pun enggan kita ketahui lebih jauh mengenai sifat dan tuntunan yang telah diajarkan.

Baiklah, mungkin para pembaca adalah mereka yang memiliki tingkat pemahaman tentang Islam secara bertingkat-tingkat, begitu pun dengan saya. InsyaAllah saya memulainya dari bawah, bahkan dari tempat paling dekat maksiat dan perilaku bebas di kalangan remaja (baca: semau gue). Oleh karenanya saya selalu berdoa, “Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, maka apabila Engkau tidak mengampuni kami serta menyayangi kami, niscaya kami termasuk golongan orang-orang yang merugi”.

Berbicara mengenai tugas dan tanggung jawab seorang muslim, hal mendasar yang dipahami bersama adalah bahwa melaksanakan sholat wajib 5 waktu, puasa ramadhan dan zakat. Seringkali banyak umat muslim merasa telah cukup menjadi muslim yang baik ketika telah melaksanakan ketiga hal tersebut, padahal kita ingat bersama bahwa terdapat 5 rukun Islam dan 6 rukun Iman untuk dijalankan dan diimani. Lebih jauh tentang hal tersebut, hal lain yang juga wajib kita ikuti adalah uswah Ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mulai dari perilaku beliau dari tidur, bangun, hingga tidur lagi. Tidak ada contoh lain yang patut diikuti ketika ada Rasulullah. Dan kalau pun pada kenyataannya Rasulullah saat ini telah wafat, tentu saja hadist-hadist yang shohih menjadi rujukan agar kita senantiasa tetap dapat ber-uswah ibadah kepada beliau (sebenar-benarnya tuntunan).

Dien dalam ayat Al Qur’an yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai agama, sebenarnya tidaklah sesempit itu. Kata Dienul Islam merujuk kepada aturan, pemerintahan, wewenang, kekuasaan, kehidupan, keadilan, dan ternyata yang paling penting adalah agama Islam ini tak hanya mengatur dalam hal ibadah manusia kepada Allah semata, namun mengatur seluruh peri kehidupan manusia tentang tata cara interaksi antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Subhanallah ^_^

Pada akhirnya, memahami ilmu agama Islam tidaklah dapat dipisahkan dengan kehidupan dunia. Kehidupan dunia memang hanya sebentar dan di akhiratlah yang kekal selamanya. Namun bukan berarti itu menjadikan kita tidak mementingkan dunia dan hanya mau beribadah tanpa memperdulikan saudara di sekitarnya. Islam datang tidak dengan keegoisan dan keserakahan, namun Islam datang agar dapat menjadi rahmat bagi semesta alam. Oleh karenanya, aturan menyeluruh tentang tata cara perikehidupan ini telah lengkap diatur dalam Islam.

Tidakkah kita ingat bahwa umat-umat terdahulu merupakan  umat yang memiliki peradaban yang sangat tinggi, namun karena masyarakatnya ingkar kepada keesaan Allah Azza wa Jalla  maka diazabkan mereka semua hingga tak bersisa. Jadi, jangan puas dengan pencapaian teknologi yang begitu mengagumkan karena jika tak dibarengi dengan iman yang murni kepada Rabb semesta ala mini, maka nerakalah yang akan menjadi tempat terakhir kita di akhirat kelak. Naudzubillahi min Dzalik 😦

Kalimat penutup terakhir, Apakah kita sudah merasa puas hanya dengan berkomitmen mengucap dua kalimat syahadat saja tanpa mau tahu lebih dalam sebenarnya apa tugas dan tanggung jawab kita di dunia ini sebagai bekal meniti kehidupan bahagia di akhirat kelak..??

Salam ukhuwah dan dakwah mengusap lembut hati by Joko Setiawan aka Amkmjs2011, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Selesai ditulis pada Sabtu sore, 25 Juni 2011 at 17.45wib @POSKO Panyosogan, Ds. Gandasoli, Kec. Tanjungsiang, Subang-Jawa Barat

Dipublikasikan pada Senin siang, 27 Juni 2011 at 12.30wib (Publikasi Terjadwal Otomatis by WordPress) @RedSki Net, Kp. Panyosogan, Ds. Gandasoli, Kec. Tanjungsiang, Subang-Jawa Barat

Comments
2 Responses to “Menjadi Seorang Muslim”
  1. Nuraeni says:

    Aku Bangga Menjadi
    Orang MUSLIM..:)
    Tapi ntah lah
    apa Aku sudah Seperti itu..???

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: