Sosialisasi Konsep Sekolah Siaga Bencana (SSB) oleh KPBI

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Pada hari Kamis, 26 Mei 2011 kemarin, kami rombongan dari KerLiP (Keluarga Peduli Pendidikan) berangkat bersama sebanyak 8 orang. 3 orang (Kang Izoel, Fina, dan Astry) datang pada acara Seminar Nasional “Efektivitas Anggaran Pendidikan 20%” di Hotel Atlet Century dan 5 orang (Bu Yanti, Mas Ova, Mas Dede, Puput, dan saya sendiri) datang pada acara Sosialisasi Konsep Sekolah Siaga Bencana oleh Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia (KPBI) di Hotel Grand Cemara, Jakarta Pusat. Nah, karena saya mengikuti acara yang kedua, maka saya akan sedikit bercerita tentang kegiatan tersebut. Let’s check it out, guys ^_^

Tak kenal, maka tak sayang. Begitu kata pepatah lama, oleh karena itu sebelum sampai kepada uraian tentang Sekolah Siaga Bencana, mari kita simak dulu tentang Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) yang saya ambil artikelnya dari Press Release yang dikeluarkan oleh KPB untuk acara tanggal 26 Mei 2011 kemarin.

Apakah KPB itu?

KPB adalah singkatan dari Konsorsium untuk Pendidikan Bencana. Konsorsium ini dibentuk pada bulan Oktober 2006 sebagai tindak lanjut dari peringatan Hari Pengurangan Resiko Bencana (Internasional) 2006 dengan tema “Pengurangan Resiko Bencana Mulai dari Sekolah”.

Siapakah anggota KPB?

Keanggotaan KPB terbuka bagi badan-badan PBB, Pemerintah, Masyarakat Palang Merah, dan LSM yang melaksanakan kegiatan dalam Pengurangan Resiko Bencana Berbasiskan Sekolah:

Saat ini anggota KPB adalah are Action Contre la Faim (ACF), Arbeiter-Samariter-Bund Deutschland e.V.(ASB), ASEAN Secretariat, Association for Community Trainers & Facilitators (ACTORS), Church World Service (CWS), Lembaga Studi dan Advokasi Ehao (Lembaga Ehao), Federasi Guru Independen Indonesia (Indonesian Independent Teachers Federation or FGII), Forum Peduli Tano Niha (FORNIHA), German Red Cross, Hope World Wide Indonesia, Humanitarian Forum Indonesia, IDEP Foundation/Yayasan IDEP, Indonesian Institute for Disaster Preparedness (IIDP), International Organization of Migration (IOM) Yogyakarta), Institut Teknologi Bandung (ITB) – PMB, Islamic Relief Indonesia, Jesuit Refugee Service Indonesia (JRS), Jesuit Refugee Service (NAD), Karina KWI (Caritas Indonesia), Kelompok Kerja Sosial (KKS)  Melati, Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI), Konsorsium Masyarakat Papua untuk Kemanusiaan (KOMPAK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Management of Georisks Nanggroe Aceh Darussalam (ManGeoNAD), Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), CBDRM Nahdlatul Ulama (NU), Norwegian Red Cross, Nurani Dunia, Perkumpulan Lingkar, Perkumpulan Kerlip,  PKPU, Plan International, Palang Merah Indonesia (PMI), Palang Merah Indonesia Tangerang Selatan,  Perkumpulan Masyarakat Peduli Bencana (PMPB) NTT, Perkumpulan Sahabat Nurani (PESAN), Prakarsa Bagi Masyarakat Mandiri (PRIMARI) Papua, School of Universe, Serikat Profesi Pekerja Pendidik dan Tenaga Pendidikan (SP3TK), SOKOLA – Alternative Education Group, Surfaid International, Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Tsunami and Disaster Mitigation Research Center-UNSYIAH (TDMRC-UNSYIAH), UNDP, UNDP Aceh Nias – DRR Unit, Safer Community through Disaster Risk Reduction (SC-DRR),  UNESCO, UNFPA,  UN OCHA,  WHO, World Vision Indonesia (WVI) , Yayasan Lendola, Yayasan Paras, Yayasan Peningkatan & Pengembangan Sumberdaya Ummat (YP2SU), Yayasan Pusaka Indonesia, Yayasan Tanggul Bencana Indonesia (YTBI), MercyCorps.

Apakah tujuan KPB?

KPB bertujuan mendukung pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan PRB di tingkat nasional dan daerah yang berkelanjutan baik formal, non formal, maupun informal melalui peningkatan kapasitas, kordinasi, dan sinergi antar pihak yang berkomitment dalam pendidikan PRB

Bagaimana KPB bekerja?

Jaringan KPB memungkinkan para anggota untuk saling melengkapi antara satu dengan lainnya dan juga bersama mitra lain yang relevan dengan dukungan upaya pengembangan dan pendokumentasian dari materi belajar-mengajar; sesi pembelajaran bersama dan pertukaran informasi untuk meningkatkan pengetahuan sumber daya manusia dalam hal pendidikan bencana serta menjamin tercapainya program pendidikan bencana yang berkelanjutan di Indonesia. KPB memiliki  “focal points” untuk Pemerintah, Palang Merah Indonesia, LSM dan badan-badan PBB.

Info dan Contact Person KPB:

 Dian Afriani/SC DRR 08111663439, Ninil/Perkumpulan Lingkar 081328011915, Titi Moektijasih/UN OCHA  0811987614, Ariful Amir/Nurani Dunia 08170818272

Salah satu inisiatif yang dilakukan oleh Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) adalah mengembangkan konsep Sekolah Siaga Bencana (SSB).  Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional No. 70a/MPN/Se/2010 mengenai Pengarusutamaan PRB di Sekolah menjadi dasar pengembangan konsep SSB oleh KPB.  KPB berharap Sekolah Siaga Bencana ini akan menjadi model rintisan sekolah aman seperti yang telah diikrarkan oleh Wakil Mendiknas RI pada peluncuran Kampanye Sejuta Sekolah dan rumah Sakit Aman di Jakarta tanggal 29 Juli 2010 lalu. 

Konsep Sekolah Siaga Bencana (SSB) sebagai upaya kesiagaan sekolah dikembangkan oleh KPB melalui pembentukan Gugus Tugas SSB yang telah bekerja sejak 17 Desember 2009.  Keanggotaan Gugus Tugas yang terdiri dari berbagai organisasi (organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, LSM nasional dan internasional, Palang Merah serta badan-badan PBB) sangat mendukung pematangan konsep yang dilakukan.

Nah, bagaimana,,??? Cukup luengkaaappp kan…?? He he he. Saya sendiri sich merasa senang karena dalam acara tersebut, selain anggota KPB, diundang juga para guru dan Dinas Pendidikan dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Diskusi pun berjalan seru dan menarik karena banyak para guru yang mengeluarkan uneg-uneg dan pendapatnya mengenai betapa positifnya Sekolah Siaga Bencana yang digagas oleh KPB ini.

Para pematerinya antara lain dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai keynote speaker, Mbak Dian Safer Communities through Disaster Risk Reduction (SC DRR) berbicara tentang Pengurangan Risiko Gempa Berbasis Sekolah, Mas Tasril dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berbicara tentang Bencana Gempa Bumi, Mas Petrasa dari BPPTK berbicara tentang Bencana gunung Berapi, Mas Oktariadi dari PMI berbicara tentang bencana Banjir. Di sesi akhir, berbicara Mbak Ninil dari Perkumpulan Lingkar yang sekaligus sebagai Dewan Presidium KPB yang menjelaskan tentang para penyusun buku kerangka kerja Sekolah Siaga Bencana (SSB) yang ketika itu dibagikan kepada seluruh peserta workshop dan juga penjelasan lebih detail tentang pelaksanaan Sekolah Siaga Bencana di Sekolah.

Kira-kira apa yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut..?? Tentu saja sangat banyak sekali. Apalagi pada saat ini di KerLiP saya mendapatkan amanah untuk menggarap program Gerakan Siswa Bersatu Menuju Budaya Aman (GSB-MBA) yang akan diadakan pada tanggal 16 Juli 2011 nanti dengan peserta para siswa SMA-SMK di seluruh wilayah Jawa Barat. Tentu pertemuan kemarin membekali saya untuk lebih jelas dalam mengaplikasikan Gerakan Sekolah Siaga Bencana di Indonesia khususnya di Jawa Barat.

Demikian ulasan yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat menambah ilmu pengetahuan dan sharing pengalaman ini akan ada manfaatnya. Amiin

Salam semangat selalu by Joko Setiawan aka Amkmjs2011 seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Published at 03.45wib on Minggu sepertiga malam yang terakhir, 29 Mei 2011 @Neru Net, Dago-Bandung, Jawa Barat

.

.

G A L L E R I E S

===

===

Advertisements

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: