IPK Saja Tidak Cukup!!! Berlatar Cerita Community Development

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Pada hari Kamis kemarin, saya baru saja mendapatkan pelajaran baru dari Teh Hera dan Kang Wawan. Setelah sebelumnya pembelajaran banyak saya dapatkan dari Teh Desy, Pak Raharjo, dan juga Pak Wakhid (Su Bageur) yang benar-benar bervisi entrepreneur sejati. Kali ini adalah sebuah pembelajaran tentang masa depan, tentang cara pandang profesi Pekerjaan Sosial terhadap masalah (problem) dan juga kesempatan (opportunity).

Ya, tidak ada angin tidak ada badai. Beberapa waktu sebelum Dzuhur, Teh Hera tiba-tiba telfon ke HP saya dan mengatakan bahwa beliau sedang berada di Dago Pakar. Ingin bertemu saya dan membicarakan banyak hal. Langsung saja saya menyanggupinya, padahal badan ini masih berseragam lengkap ala STKS Bandung. Setelah menunaikan Sholat Dzuhur, saya pun naik angkot menuju Dago Pakar.

Di sana sudah ada Kang Wawan dan Teh Hera plus kedua anaknya, dan beberapa orang pengurus desa Sukaratu, Cianjur. Ternyata kegiatan Teh Hera dan Kang Wawan di Dago Pakar ini adalah dalam rangka mengunjungi dan studi banding terhadap Komunitas Hong, sebuah komunitas yang melestarikan permainan anak-anak Sunda. Dari sinilah mulai dibuka pembicaraan antara saya dan dan Teh Hera. Ternyata beliau saat ini tengah menggarap Desa Wisata Sukaratu Kecamaran Gekbrong Cianjur dengan perspektif Pekerja Sosial. Prinsip utamanya adalah community organization and community development (CO/CD). Punggawa Ratu Pasundan nama organizer project Desa Wisata ini. Selain di Komunitas Hong, kami juga mengunjungi Kampung Seniman Bangun Pagi di belakang Tugu Monumen Pancasila Dipati Ukur dan Komunitas Celah-celah Langit di Ledeng.

Nah, dari situ pulalah berlanjut pada pembahasan mengenai mengapa IPK saja tidak cukup. Ya, yang paling penting sebenarnya adalah pengalaman dan skill di lapangan. Itulah yang menunjang “nilai jual” kita setelah lulus nanti. Bukan berarti hendak mengatakan bahwa IPK tidak penting, penting tapi bukan utama.

Menguasai materi teori untuk bekal praktek adalah penting, namun menunggu hingga lulus baru mempraktekkan teori bukanlah pilihan yang tepat. Ibarat jika kita datang ke sebuah supermarket, mengapa kita hanya membeli shampo saja ketika seharusnya kita dapat membeli sabun, pasta gigi, mie instan, dan buah secara bersamaan.

Begitulah seharusnya menjalani kehidupan. Teori ==> Praktek ==> Inovatif dan Kreatif ==> Kemajuan ==> Mencapai Taraf Kesejahteraan

Dan tak lupa nilai agama adalah menjadi nilai dasar dan menjiwai di setiap gerak langkah ke depan. Hanya untuk beribadah kepada Allah semata dan mencari keridho’an-Nya.

Salam semangat selalu by Joko Setiawan, Mahasiswa Diploma IV Kampus Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung Jurusan Rehabilitasi Sosial angkatan 2008

Ditulis pada Jum’at pagi, 18 Maret 2011 at 06.00wib @Neru Net, Dago-Bandung, Jawa Barat

Comments
16 Responses to “IPK Saja Tidak Cukup!!! Berlatar Cerita Community Development”
  1. tulisanarton says:

    w setuju dengan pendapat lu. IPK tidak penting tapi bukan berarti kita tidak mempedulikannya. IPK hanya digunakan untuk seleksi berkas saja. Perusahaan lebih melihat CV kita. Dari CV perusahaan dapat melihat apakah sosial kita bagus. Karna di CV akan terlihat jelas sosial kita di kampus ( dari organisasi atau kepanitian ).

    kunjungi juga blog saya : tulisanarton.wordpress.com
    thanks

  2. Nah, dari situ pulalah berlanjut pada pembahasan mengenai mengapa IPK saja tidak cukup. Ya, yang paling penting sebenarnya adalah pengalaman dan skill di lapangan. Itulah yang menunjang β€œnilai jual” kita setelah lulus nanti. Bukan berarti hendak mengatakan bahwa IPK tidak penting, penting tapi bukan utama.

    permasalahannya, pada saat lamaran, walau punya lampiran banyak biasanya sudah ada requirement

    IPK > ????

    • Oleh karena itulah,, IPK Penting namun bukan utama,,, pentingnya IPK adalah kita menargetkan IPK lebih dari 3.0 sudah itu saja,, tak perlu muluk-muluk yang pada akhirnya hanya membuat kita kuper dalam organisasi,, iya kan πŸ˜‰

      Salam semangat selalu untuk Mariana

  3. Ada cerita lain tentang komunitas2 yang didatangi tidak? Komunitas hong itu yang dulu pernah di bikin film dokumenter sama Metro TV bukan?

  4. nadiafriza says:

    Agak ngenes sebenernya karna diingetin lagi ama yang belum lulus, but thanks anyway πŸ™‚

    yak bener banget, walopun gw baru aja lulus, belajar dari temen2 yang udah lebih dulu lulus, ipk aja ga cukup. so better feed ourself with other things than academic thingy πŸ™‚

    • Hohohohoho πŸ˜€

      Yups,, Mantapsssss,,,,, saya nich yang bakalan belajar banyak dari yang sudah lulus he he he πŸ˜‰

      Bekali dengan kemampuan lebih dari sekedar nilai akademik (^_^)

      Salam semangat selalu

  5. Krisna Shop says:

    “Teori ==> Praktek ==> Inovatif dan Kreatif ==> Kemajuan ==> Mencapai Taraf Kesejahteraan”

    setuju ma yang ini nih πŸ˜›

  6. ChiChi MD Basri says:

    Hanya sedikit aneh & heran,,, kenapa tak lama setelah kunjungan ke blog saya, tulisan ini muncul yah? (16 Maret kunjungan, 18 Maret muncul tulisan ini) ckckck,,, jadi inspirasi tulisan ini ya, Joe? πŸ™‚ Syukurlah kalau blog saya bisa jd inspirasi (inspirasi untuk mengkritik) πŸ˜€

    Saya akui, saya memang belum mumpuni untuk Cerita Community Development krn kemampuan dan pengalaman saya yg pas2an (dosen2 saja yg terlalu baik memberikan nilai). Yah, hanya ingin berbagi (silahkan baca ucapan selamat datang di blog saya).

    Saya mungkin perlu banyak belajar dari Mas Joe Sekigawa yg telah banyak memiliki pengalaman yg sangat mumpuni.

    Terima kasih ya atas judul dan isi tulisannya, Joe! πŸ˜‰
    Ditunggu kritikan selanjutnya πŸ™‚

    • Hohohohoho :mrgreen:

      Teh Chi2 PeDe mode ON πŸ˜€
      But, memang kok, segala yang saya baca dan saya alami menjadi sebuah inspirasi tersendiri untuk menulis, termasuk blognya Teh Chi2, saya rasa isinya bagus dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan πŸ™‚

      So, tinggal aplikasikan saja Teh dengan bergabung bersama salah satu, salah dua, atau salah tiga LSM atau bahkan membuat prokect sendiri tentang ComDev, saya rasa itu akan sangat bermanfaat,,

      Owh niya, mengenai tulisan di atas juga, ada tawaran dari beliau lowh, dan diundang pula untuk datang ke sana, dan melihat potensi apa yang bisa dikembangkan,,

      So tertarik Teh,,??? Silahkan kontak HP saya ya,,, jika belum punya nomor saya, bisa minta sama Teh Rachma dech ^_^

      Salam semangat selalu

      (InsyaAllah akan lebih banyak mengkritik lagi) hohoho :mrgreen:

  7. ChiChi MD Basri says:

    Yupz, setuju Joe! πŸ˜‰

    Wuah, harus banyak belajar dari seorang Joe Sekigawa nih πŸ™‚

    Good posting πŸ˜€

  8. kognitif, dan psikomotorik memang harus berjalan seimbang….banyak kok orang yang punya IPK bagus namun aplikasinya “NOL BESAR” (bukan berarti semua yg IPK bagus aplikasinya NOL BESAR semua) , apalagi CO/CD dan ilmu sosial yang sejenisnya memang dibutuhkan pengalaman dan jam terbang yang tinggi untuk menguasainya…tidak cukup hanya selesai dikelas….namun praktek tanpa teori juga kurang bagus seperti “masuk kedalam hutan rimba tanpa bawa peta dan kompas”. (eee..yg kasi komentar ini bukan berarti sudah berpengalaman he3).

    • Wah Bang Dolly,, Pertamaxx Bang πŸ™‚

      Yups,, ternyata terpatahkan sudah para pemuja IPK ini he he he,,, Sepakat sekali Bang, dapaet teori, prakteknya juga donk πŸ˜‰

      Terima kasih untuk urun diskusinya,,,

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: