Berjuang Keras di Tanah Perantauan (Bandung Story)

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Memang benar, saat kecil kita masih diasuh oleh kedua orang tua. Disayang, dibelikan baju, diberi makan dan gizi yang cukup, serta dibelikan berbagai macam mainan dan keperluan kita sehari-hari. Indah bukan,,?? Ya, namun itu hanyalah pada periode ketika kita masih kecil, ketika kita masih dianggap sebagai sosok yang belum bisa mandiri, apalagi mencari dan menghasilkan uang sendiri. Selanjutnya, ketika sudah tiba masa dimana kita dipandang sebagai manusia dewasa, paling tidak sejak remaja, satu kata yang harus melekat erat dalam diri kita, MANDIRI.

Sumber Ilustrasi Gambar

Di sini saya tidak akan membahas tentang mandiri dari sisi teori, namun lebih kepada apa yang saya pahami dan saya rasakan selama ini. Banyak yang menganggap saya adalah salah satu orang yang bisa dianggap mandiri, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Mungkin pandangan teman-teman(yang telah mengenal saya secara offline) adalah karena saya kerja part time, kemudian membiayai aktivitas operasional kampus sendiri, maka saya dianggap mandiri. Itu hanya dari sisi finansial, dan kenyataannya pun tidak sepenuhnya demikian.

Tidak dipungkiri memang dahulu saya sempat bekerja di PT. Daihatsu Motor Jakarta sebagai Welding Operator dengan gaji yang cukup menggiurkan bagi anak lulusan SMK Teknik seperti saya ini. Waktu itu minimal gaji yang masuk di rekening saya tiap bulannya adalah Rp 2.400.000,- dan maksimalnya hingga mencapai Rp 2.950.000,-. Bukan jumlah yang sedikit bukan,,?? Namun memang inilah saya, lebih memilih keluar dari kenyamanan(semu) tersebut dan bertekad kuat agar bisa kuliah. Target tentu saja di ITB dengan Jurusan Teknik Geologi, melanjutkan studi semasa SMK saya di SMKN 4 Bojonegoro yang waktu itu mengambil jurusan Geologi Petambangan. Namun takdir Allah berkata lain, saat ini saya berstatus mahasiswa Jurusan Rehabilitasi Sosial di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung angkatan tahun 2008.

Saya bekerja di PT. Astra Daihatsu Motor Jakarta tepat selama 10 bulan, sejak September 2007 hingga Juni 2008. Keluar sebelum kontrak kerja berakhir dan meniti asa untuk menjadi seorang MAHASISWA. Dengan gaji yang begitu banyak, namun entah karena saya boros, waktu itu saya hanya memegang Rp 5.000.000,- saja untuk diboyong ke kampus STKS Bandung ini sebagai biaya kuliah. Ya, uang Rp 4.500.000,- sebagai modal awal untuk kuliah 4 tahun di Bandung. Saya sudah siap dengan segala konsekuensinya meski Pa’e&Ma’e (Bapak dan Ibu) serta kakak-kakak saya sudah mewanti-wanti bahwa beliau semuanya tidak akan mampu membantu finansial yang banyak. Paling ya jika ada rizki lebih, tentu akan mengirimi saya di kemudian hari.

Allah tidak akan membiarkan orang yang mau berusaha menjadi kecewa, saya sangat meyakini akan hal itu. Alhamdulillah kemudahan demi kemudahan pun Allah tunjukkan kepada diri saya. Mulai dari biaya kuliah yang ditanggung penuh oleh STKS Bandung karena saya berstatus sebagai Penerima Bantuan Pendidikan (beasiswa) Kementerian Sosial RI, dan beasiswa tersebut akan terus berlanjut selama IP yang saya dapatkan selalu di atas 3.0. Kemudian di saat persediaan uang benar-benar habis (waktu itu tinggal Rp 600.000,- padahal baru bulan September 2008 dan masuk kuliah pada Agustus 2008), Allah pun menunjukkan tempat untuk kerja Part Time di Warnet, dan hal itu berlanjut hingga sekarang. Alhamdulillah 🙂

Kerja Part Time di warnet saja rasanya belum cukup, sedangkan kebutuhan hidup terus menuntut, belum lagi biaya print tugas-tugas kuliah. Sungguh dalam tiap bulannya, hampir saja selalu uang di tabungan nihil jumlahnya. Bahkan sering juga terlilit utang dan baru bisa membayar pada bulan berikutnya. Ya, berjuang di perantauan memang tidak mudah, penuh perjuangan, dan itulah seninya hidup 🙂

Sumber Ilustrasi Gambar

Alhamdulillah Allah kembali membuka kemudahan-kemudahan lainnya. Untuk biaya makan sehari-hari, saya mengambil jatah dari Teh Dessy, seorang Mahasiswi Tugas Belajar dari Gorontalo yang mendapatkan jatah makan di kampus STKS Bandung, namun tidak/jarang diambil dan akhirnya beliau merekomendasikan kepada saya jatah tersebut untuk diambil saja. Subhanallah, biaya makan sudah tercover, jadi saya saat ini hanya tinggal memikirkan biaya operasional kuliah saja, seperti tugas-tugas lapangan, dan tugas membuat makalah. Oleh karenanya, pengeluaran saya sehari-hari sebagai mahasiswa STKS Bandung ini tidaklah lebih dari Rp 300.000,- hingga Rp 400.000,- per bulannya. Ditambah lagi ternyata kakak saya secara rutin per bulannya mengirimi uang Rp 100.000,- dan untuk membayar uang kost yang jumlahnya Rp 1.100.000,- itu berasal dari Pa’e dan Ma’e yang memelihara kambing sejak kambing tersebut masih kecil kemudian  setelah besar, menjualnya untuk keperluan membayar uang kost saya. Jika dirinci, tahun pertama uang kost saya bayar sendiri, tahun kedua dari orang tua, dan tahun ketiga(saat ini) dari suaminya Mbak Eni.

Nah, yang ingin saya sampaikan dari cerita di atas adalah bahwa saya ini bukanlah orang yang mandiri. Masih begitu banyak orang yang membantu saya. Oleh karena itu, jangan salah menilai ya,, Saya masih perlu banyak belajar untuk benar-benar bisa menjadi sosok yang MANDIRI. InsyaAllah saya akan mengusahakannya 🙂

Dibalik itu semua, saya masih menyimpan dan memperjuangkan mimi untuk bisa menggapai pendidikan S2 bidang Social Work di Jepang. Kondisi serba kekurangan bukanlah alasan untuk tidak memunculkan dan mewujudkan cita-cita besar. Meski banyak yang menertawakan mimpi ini, namun banyak pula yang mendukung dan memberikan support bagi diri saya. Terutama Allah Subhanahu Wata’ala yang selalu saja melimpahkan berbagai macam rahmadNYA.

Beginilah, saya adalah salah satu cerita dari sekian banyak cerita perjuangan keras di tanah perantauan. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, TERUSLAH BERJUANG DAN WUJUDKAN MIMPIMU (^_^) dan takdir Allah adalah sesuai dengan prasangkaan hambaNYA, maka berbaik sangkalah kepada Allah, maka engkau akan mendapatkan apa yang engkau minta, InsyaAllah.

Salam semangat selalu dari seorang Pemimpi Besar yang saat ini masih tengah berjuang di bumi Parahyangan untuk menuntut ilmu di STKS Bandung

NB: Tulisan ini dibuat karena terinspirasi oleh sebuah buku berjudul “La Tahzan for Students” yang beberapa waktu lagi akan saya review dan buat resensinya 🙂

Muhammad Joe Sekigawa on Tuesday Morning, February 01st 2011 at 06.45wib @Pojok Net, Dago-Bandung, Jawa Barat-Indonesia

Undergraduate Student of Bandung College of Social Welfare (BCSW), Department of Social Rehabilitation 2008

Comments
28 Responses to “Berjuang Keras di Tanah Perantauan (Bandung Story)”
  1. ayu says:

    rencana Allah jauh lebih indah di andingkan rencana kita..ganbatte kudasai

  2. muhni says:

    mas… terharuka kodong…. SEmangat ko mas… jangan ko menyerah… 🙂

  3. hidup adlah perjuangan
    kita berjuang untuk hidup

    Semangat selalu ya

  4. ImRoée says:

    mantap deh penjuangannya.

    bwt, foto batunya keren. Kalau tidak salah itu foto misteri batu-batu berjalan di California

  5. Wow,…asyik pemandangannya

  6. Selamat berjuang dalam kebaikan…

  7. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya…
    Semua usaha keras pasti akan mendapatkan hasil yang bagus…
    Semua keyakinan akan berujung pada keberhasilan…

    Semangat, Kawan!

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  8. kezedot says:

    blue titip msalam ke kezedot ia bi;lang suka sama tampilannnya om..beneran
    blue yang bilang lho bukan kezedot……….hehehehhe
    p caar om
    semangat
    semoga sukses

    • Hmm,, Terima kasih kepada Mas Kazedot dan Mas Blue yang sudah kompak untuk mengisi komentar di sini. Saya senang Mas Blue berkanan mampir dan menyapa saya mas 🙂

      Sukses dalam salam semangat selalu untuk kita bersama,, cheerrssss (^_^)

  9. Anugrha13 says:

    subhanallah…ternyata kamu bercita2 sebagai geologist,,,
    semangat kawan meskipun tidak jadi geologist kan masih ada cara lain untuk mengatasi dan mengetahui bencana-bencana alam, mempelajari cara mitigasi bencana dan sebagainya…
    Allah ga tidur kawan semoga cita2 s2 nya bisa terkabul dan kita bisa bertemu disana???

    • Hu um,, meskipun tak akan pernah kesampaian sampai sekarang he he he 🙂

      Yups,,, di Jurusan yang sekarang, yakni Jurusan Rehabilitasi Sosial, saya juga masih sangat tertarik di Kajian Bencana, dan InsyaAllah sebagai Pekerja Sosial juga memiliki peran yang sangat vital dalam hal penanganan korban bencana (alam maupun sosial)

      Amiinn ya Rabb, InsyaAllah kita akan benar-benar bertemu di sana jika dengan keras mengusahakannya,, (^_^)

      Salam semangat selalu

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] titip salam untuk sahabat blog seperti : Lintas Berita, Mesin kasir, Langit ku, Internet for kids, Bocah Bancar, Irfan Jayadi, […]

  2. […] ugang sayu, Bri Yudustira, Hendra Postel, Jejak Anas, Danu Akbar, Narzis Blog, Irfan Jayadi, Bocah bancar,Ade Truna, Roby, Fonega, Pak Sawali, Pak Wandi, Labarasi, Ruang Hati, Pak Andy Muryanto, […]

  3. […] titip salam untuk sahabat blog seperti : Lintas Berita, Mesin kasir, Langit ku, Internet for kids, Bocah Bancar, Irfan Jayadi, […]

  4. […] Yoyon ugang sayu, Bri Yudustira, Hendra Postel, Jejak Anas, Danu Akbar, Narzis Blog, Irfan Jayadi, Bocah bancar, Ade Truna, Roby, […]



Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: