SEFT, sebagai salah satu Metode Trauma Healing untuk Pengungsi Bencana Meletusnya Gunung Merapi

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Bagaimana kabarnya sahabat dan kolega Pekerja Sosial di Indonesia..?? Dalam bulan Oktober lalu, 3 bencana tercatat telah terjadi di Indonesia. Banjir bandang di Wasior Papua, Gempa Bumi dan Tsunami di Kepulauan Mentawai, serta Meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah. Sudah sepatutnya kita sebagai Pekerja Sosial untuk turut turun ke lapangan guna membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Dan hingga pada saat ini, masalah yang banyak terjadi adalah banyak pengungsi yang mulai stress dan mengalami gangguan jiwa di beberapa kantong pengungsian. Maka pada kesempatan tulisan kali ini, akan saya share mengenai salah satu metode Trauma Healing yang bisa dilakukan, yakni dengan Teknik SEFT (Spiritual and Emotional Freedom Technique) yang dishare langsung oleh SHEFTer yang juga Pekerja Sosial dari Jakarta, Pak Wakhid Nurrokhim. Semoga bermanfaat dan salam semangat selalu.

Muhammad Joe Sekigawa on 10 November 2010 at 05.40 wib @NERU Net, Dago-Bandung, Jawa Barat

Undergraduate Student of Bandung College of Social Welfare (BCSW), Department of Social Rehabilitation 2008

****

Sumber Gambar dari Facebook Pak Agustus Sani Nugroho

Untuk teman-teman Pekerja Sosial yang berada di Pengungsian, saya share disini salah satu metode healing yang saya pelajari yaitu SEFT (Spiritual Rmotional Freedom Technique), teknik ini bisa praktekkan sendiri beberapa langkah berikut:

  1. Ajak pengungsi untuk berkumpul di satu tempat, bila memungkinkan di tempat yg lebih tenang, Ibu-ibu yang memiliki bayi lebih baik dikelompokkan, jelaskan pada pengungsi bahwa anda akan mengajak mereka untuk berusaha mengurangi/menghilangkan tekanan, kegelisahan, kengerian dan keputus-asaan, jelaskan pula bahwa tiada daya dan upaya kecuali milikNya.
  2. Bimbing mereka untuk mengucapkan ‘niat’ atau kalimat set-up, yang antara lain bisa berbunyi seperti ini: “Ya Allah/Tuhan, meskipun saat ini saya berada di pengungsian, penuh dengan keterbatasan, dan habis sudah semua harta benda saya, saya ikhlas menerimanya, dan saya pasrahkan kebaikan diri saya kepadaMu”. Ucapkan niat tersebut sambil tangan kanan menyentuh/memencet ‘titik ngilu’ yang umumnya berada di dada kiri bagian atas (bagian yg bila ditekan terasa lebih ngilu dibanding bagian lain). Kalimat set-up diatas bersifat umum, untuk kondisi khusus Kang Asep dapat modifikasi, saya yakin you got the logic.
  3. Bimbing mereka untuk ‘merasakan/memanggil’ atau tune-in dengan suasana/perasaan terdalam akan kengerian/kepedihan mereka akibat bencana ini. Setiap orang mungkin memiliki perasaan kepiluan yang berbeda-beda dalam situasi yang sama. Misal, membayangkan kembali kegetiran meninggalkan rumah dan semua harta benda, membayangkan suasana panik saat berlari menghindar dari awan panas, membayangkan perasaan sedih tercerai berai dari keluarga, dll.
  4. Bersamaan dengan munculnya ‘perasaan’ kepiluan tadi, bimbing mereka untuk mengucapkan “Ya Allah/Tuhan, saya ikhlas saya pasrah”, sambil lakukan sentuhan/ketukan dengan dua jari tangan kanan pada 9 titik berikut:
  • Ubun-ubun, tepat di atas kepala segaris dengan telinga.
  • Tulang mata bagian pangkal alis di atas hidung, kanan atau kiri sama saja.
  • Tulang mata bagian luar atas (pilingan), kanan atau kiri.
  • Tulang mata bagian bawah, di bawah kantong mata.
  • Bagian di bawang hidung di atas bibir (di atas kumis)
  • Bagian di bawang bibir di atas dagu.
  • Tulang kelereng antara dada dan leher, yang njendol seperti bakso itu, pertemuan tulang iga bagian atas, kanan atau kiri sama saja.
  • Tulang di bawah lingkar bidang susu, (bukan putingnya), kanan atau kiri.
  • Tulang di bawang ketiak, segaris dengan puting susu, kanan atau kiri.

Lakukan ketukan secukupnya, lalu berpindah sesuai urutan 9 titik, tidak ada batasan berapa kali ketukan.

5. Setelah selesai ketukan di 9 titik, bimbing mereka untuk tarik nafas panjang, lalu hembuskan sambil ‘membuang’ kepiluan tadi, dan ucapkan “alhamdulilah/terima kasih Tuhan”, lakukan 3 kali hembusan nafas.

Anda dapat melakukannya sendiri face-to-face, atau membimbing mereka secara masal untuk melakukan ketukan tadi oleh masing-masing pengungsi.

Bisa dipandu lewat telepon, atau bila akumulasi ketegangan meninggi, khususnya di lokasi anda, SEFTer siap diperintahkan meluncur.

Semoga bermanfaat

Peksos

Advertisements
Comments
7 Responses to “SEFT, sebagai salah satu Metode Trauma Healing untuk Pengungsi Bencana Meletusnya Gunung Merapi”
  1. Assalamualaikum,
    Mas Joko Akhi, gmn kabarnya..?
    nomor sampean ga aktif..
    hubungi aku ya, lewat email

  2. abdul wahid says:

    Mas Joko yang baik hati,,
    apakabar mas, semoga sehat selalu.
    oya mas, kebetulan ada orang yg kontak saya tentang SEFT di atas, saya tidak ingat lagi kapan tulisan itu dibuat, tetapi kemungkinan itu bahan komunikasi dengan Kang Asep Jahidin dahulu waktu saya aktif jadi Peksos.
    Sudi kiranya Mas Joko hapus saja nama dan nomor hp saya. Karena saya sudah pensiun,, terlebih saya tidak kompeten lagi soal seft, dan sekarang saya menikmati hari tua menjadi Jurukopi partikelir di Kota Malang.
    maturnuwun
    salam, wahid

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: