DOSEN MATA DUITAN

Dasar Mata Duitan

Dasar Mata Duitan

Saya ingin bercerita mengenai salah satu dosen yang mengajar di kampus saya. Beliau adalah dosen yang mengajar mata kuliah Dasar-dasar Logika. Beliau ini sudah mendapatkan gelar doktor pada pertengahan tahun 2008 yang lalu. Lalu mengapa judulnya seperti itu..??Dosen Mata Duitan. Ya sebenarnya sich tidak betul seratus persen mengenai hal itu, itu hanya sebutan dari saya saja, pandangan subjektif saya. Bagaimana sich ceritanya hingga saya berani sekali menyebut seorang dosen mata duitan..??? Hal ini berawal dari perkenalan saya dengan seorang kakak kelas, bukan hanya satu, tapi beberapa kakak kelas. Pada saat kami sedang ngobrol, memang sempat disinggung mengenai dosen yang bertingkah di kampus, dosen itu bukan dosen tetap di kampus saya. Gara-garanya adalah pada saat setelah ujian, baik UTS maupun UAS, dosen ini meminta uang kepada mahasiswanya, tentu saja caranya dengan cara yang professional, tidak seperti minta uangnya seorang preman pasar. Saat itu kakak kelas saya ini tidak mau membayar sepeserpun meskipun teman-teman sekelasnya sudah mengumpulkan uang semua untuk disetor kepada dosen tersebut. Akhirnya di akhir pengumuman nilai, kakak kelas saya ini nilainya tidak keluar atau dapat nilai T(baca:nilai tunda). Jadi terpaksa harus menguber dosen ini, usut-usut punya usut ternyata kakak kelas saya ini disuruh membayar sejumlah uang lagi, alhasil kakak kelas saya ini tidak mau dan berkata siap melaksanakan ujian ulang daripada membayar kepada dosen tersebut. Pda akhirnya dosen itu dengan kesalnya akhirnya memberi nilai pada kakak kelas saya tersebut nilai B, nilai yang sangat kurang baik seorang yang tekun dan cerdas model kakak kelas saya ini.

mata-duitan

Sungguh kasihan memang. Hah kok bisa ya saya kasihan pada kakak kelas saya ini padahal dosen yang sama tersebut malah memberi saya nilai B-, gila, kejam sekali dosen ini. Apa sich yang sebenarnya dia pikirkan. Saya merasa mampu dan saya siap diuji, namun saya tidak pernah mau untuk membayar kepadanya, karena ini berkaitan dengan prinsip. Sama saja jika saya membayar kepadanya berarti saya telah menerapkan pratek suap dalam lingkungan kampus. Mungkin karena sudah bejatnya moral dosen tersebut, akhirnya dia memandang perbuatannya ini tidak salah serta menganggap orang-orang seperti saya dan kakak kelas saya ini adalah seseorang yang kolot. Astagfirullah di mana Pak nilai-nilai moral Bapak..?? Mending kalo dia sungguh-sungguh dalam mengajar, jadwal 3 sks dia selalu datang terlambat, belum lagi materi yang dia ajarkan itu sudah lari kesana kemari. Ujung-ujungnya katanya, gampang masalah materi mah bisa diatur. Dasar wong edan. Pada saat saya tahu nilaiku pertama kali, saya langsung naik darah, dasar dosen mata duitan, ungkapku dalam hati. Lebih baik saya diberi nilai T dulu dan saya akan berhadapan secara langsung dengan dosen tersebut untuk menyatakan keberatan saya mengenai caranya tersebut yang mengajarkan perilaku korup kepada mahasiswanya. Eh, tidak diberi nilai T malah saya langsung diberi nilai B-, otomatis semua nilai A yang aku kumpulkan dari mata kuliah lainnya hancur gara-gara dosen satu ini, IP >3.50 yang sudah di depan mata menjadi tidak dapat aku raih. Hh…Tapi mau bagaimana lagi, untunglah IP saya masih di atas 3.0 jadi saya masih bisa melanjutkan beasiswa yang saya peroleh. Coba kalo IP saya<3.0 wah pasti langsung pulang kampung karena tidak sanggup emmbayar biaya kuliah dan biaya hidupnya. Saya akan membuat suatu penelitian mengenai hal ini dan akan mempublikasikannya ke khalayak ramai agar dosen ini sadar bahwa perbuatannya itu keliru, kalau masih tidak sadar juga ya langsung ditindak saja. Hh..Sekarang hati saya sudah agak baikan, sudah bisa berfikir jernih kembali. Biarlah nilai itu sudah terlanjur keluar, yang jelas di semester II nanti saya akan berusaha lebih keras lagi. Target IP>3.50 harus dicapai, jika ada dosen yang seperti itu lagi langsung saja saya hadapi dan bicara empat mata. Saya tidak takut dan saya tidak mau dikecewakan lagi. Semangat……

Comments
7 Responses to “DOSEN MATA DUITAN”
  1. tsemoet says:

    Geli saya baca tulisan njenengan de’. sebagai salahs atu korban saya sangat mengerti perasaan njenegan saat memperoleh B-. dont worry…sebenarnya ketika B- itu keluar, terbesit kebanggaan di benak kita, yang tidak terukur dengan nilai A+ sekalipun (kalau ada) he…
    ada nilai moral tersendiri buat kita dari pada sekedar nilai dasar-dasar logika…
    Maju terus pantang mundur…

    Dan masalah melapor, barang kali betul apa yang njenengan lakukan dengan mendalaminya dulu…but satu yang perlu dicatat, bukan hal yang sederhana jika yang njenengan temukan itu suatu sistem. ok. good luck

    • bocahbancar says:

      Ya begitulah Mbak kenyataannya. Dan yang menyedihkan lagi, saya baru denger ternyata para mahasiswa di Semester IV pun diperlakukan sama. Alhamdulillah di semester IV yang akan saya jalani nanti(mulai 8 Feb 2010) tidak diajar oleh Pak Unang itu. Jadi aman dech. Dan sepertinya….memang sudah menjadi sistem 😦

      Terima kasih atas perhatian dan semangatnya ya Mbak…

      Salam kenal dulu

      Joko Setiawan
      Student of Bandung College of Social Welfare
      Social Rehabilitation Department 2008

  2. g o b e r says:

    Hanya orang hebat yang berani berbuat sesuatu untuk membenahi hal2 yang nggak bener. Orang hebatkah dirimu? 🙂
    ——————————————————————–
    Sampai hari ini idealisme saya masih seperti itu..

    Yang menilai saya orang hebat atau bukan itu orang lain..

    Saya hanya melakukan yang terbaik menurut saya..he he he

  3. Oemar Bakrie says:

    Dia kan doktor pasti dia akan ngajar pasca-sarjana, nggak kebayang jumlah palakan-nya pasti jauh lebih gede daripada ke mahasiswa S-1 ya ?
    ———————————————————————-
    Nah itu dia Pak..

    Saya juga heran, moga ajah bisa tersadarkan di suatu saat nanti..

    Amiinn…

  4. edratna says:

    Kok nggak dilaporkan saja?

    Sebetulnya mahasiswa nya ikut salah, coba kompak, dan tak ada satupun yang mau memberi uang, apa ya dia nggak akan meluluskan semua? Kalau nggak lulus semua artinya dosennya nggak becus ngajar.
    ——————————————————————–
    Masih ga da yang berani Bu..Masalahnya beliau kan seorang Doktor, beliau ngajar mahasiswa S-3 di UPI Bandung, jadi ya kalo kami mau berurusan dengan beliau harus berpikir berulang kali dulu..

    Nah saya berencana akan membuat penelitian yang secara tidak langsung akan menyindir dosen ini Bu, semoga berhasil..

    Nah itu dia Bu, mereka tuwh kompaknya malah buat bayar, dari dosen memang tidak ada paksaan, namun kalo tidak bayar ya jadi seperti saya ini dikasih nilai B-..

    Pokoknya saya akan berbuat semaksimal mungkin saja sesuai kemampuan saya..

    Semangatz..

  5. thevemo™ says:

    coba di laporkan saja..di kampus ku dulu alhamdulillah gak ada itu, la wong bimbingan skripsi ja gak boleh di rumah
    ——————————————————————-
    Mm..Kalo melaporkan sich saya urungkan dulu, saya mau buat penelitian saja soalnya saya juga sudah tergabung dalam SREG(Social Research Group) di STKS..

    Jadi saya akan menegur beliau dengan cara yang sangat halus dan bisa dipertanggungjawabakan secara ilmiah..

  6. alfaroby says:

    wuih… MasyaAllah… tapi gak semua dosen kayak gitu lho..
    masih banyak dosen dosen yang mengajar karena Allah
    ———————————————————
    Iya Maz, yang berkelakuan kaya gini memang cuman segelintir orang saja..

    Nah oleh karena itulah saya ingin menghapus perilaku dosen yang seperti ini..

    Insyaallah ilmunya bermanfaat..

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: