Menjemput Hidayah*

Menjemput Hidayah*

*Oleh Joko Setiawan

Sudah menjadi fitrahnya kita akan menyenangi kebaikan dan membenci keburukan

Nafas-nafas kasih sayang dan cinta akan menjadi pilihan daripada caci makian

Kita seringkali mengagumi mereka yang berbuat baik dan senantiasa istiqomah dalam kebaikan, kemudian merefleksikan kepada diri sendiri. “Ah masih jauh dari mereka”, itu komentar yang keluar ketika mengolah informasi kebagusan akhlak orang lain di sekitar kita

Ada perasaan kagum, tapi tidak beranjak meneladani. Ada perasaan tidak pantas, ada perasaan tidak siap, atau malah menganggap bahwa memang sudah jalannya ia demikian, sedangkan kita ya begini ini saja, kalau sudah waktunya mendapatkan hidayah, tentu akan berubah

 

Benarkah demikian? Harus menunggu hidayah untuk melakukan perubahan bertahap adalah satu alasan dari sekian alasan yang dihembuskan oleh syaitan, dan celakanya kita malah mengamininya

Kebanyakan dari kita terperangkap dalam pemahaman baik dan buruknya amal, tanpa memperhatikan proses di dalamnya. Padahal jika kita hendak menilik sejarah di masa silam, banyak sekali kisah di masa Rasulullah, para pembenci Islam dan pelaku maksiat di zaman jahiliyyah, menjadi penolong agama ini dengan kualitas jempolan

Tapi perlu diingat, bukan bangga karena pernah melakukan dosa dan kemaksiatan, kemudian bisa berubah menjadi baik dan taat. Pemikiran seperti ini akan rentan terhadap kesesatan, terlalu memudahkan urusan amal, padahal ia adalah dasar atas hisab di yaumil akhir, penentuan siksa dan nikmat kehidupan kekal abadi di akhirat

Sejatinya, berproses menjadi lebih itu tidaklah perlu menunggu mood, menunggu diajak orang, apalagi beralasan menunggu hidayah. Teks-teks pelaksanaan praktik keber-agama-an (Islam) telah ditulis oleh banyak ulama, sebagai representasi terpercaya atas tuntunan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam sebagai Penutup Para Nabi&Rasul utusan Allah azza wa jalla

Mari, mengaca diri sendiri, sudahkah setiap hari kita pergunakan untuk mempelajari Islam secara lebih dalam, mengetahui sisi takjub dan indah sebagai seorang muslim sejati, merasakan ketenteraman hati, ketenangan diri, dan pada akhirnya menjadi penyeru agama ini

“. . . Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri . . .” (Q.S Ar Ra’du: 11).

Sambutlah seruan Cinta ini dari Illahi Rabbi ^_^

Kota Tenggarong-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Senin pagi, 22 Juli 2013 pukul 07.20wita

About these ads
Comments
One Response to “Menjemput Hidayah*”
  1. KAMMI STKS says:

    Reblogged this on KAMMI STKS BANDUNG and commented:
    Menjemput Hidayah? by Muhammad Joe Sekigawa

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: